Dunia

Banjir Bandang Nepal: Ilmuwan Ungkap Pemicu Air Raksasa yang Menewaskan 1.400 Orang

Banjir Bandang Nepal: Ilmuwan Ungkap Pemicu Air Raksasa yang Menewaskan 1.400 Orang
Banjir Bandang Nepal: Ilmuwan Ungkap Pemicu Air Raksasa yang Menewaskan 1.400 Orang
Daftar Isi
  1. Mengapa Air Banjir Bandang Nepal Begitu Besar?
  2. Pemulihan Terhambat, Ribuan Masih Hilang
  3. Nepal Serukan Keadilan Iklim di PBB
  4. Relokasi dan Masa Depan Zona Rawan
A− A+

Media Blora – Jakarta – Sebulan setelah banjir bandang dan tanah longsor dahsyat melanda perbatasan Nepal-China, para ilmuwan mengungkap alasan di balik volume air yang sangat besar hingga menyapu permukiman dan menewaskan lebih dari 1.400 orang. Bencana yang terjadi pada 26 Agustus 2026 itu tidak hanya menghancurkan infrastruktur, tetapi juga memicu diskusi global tentang dampak perubahan iklim di kawasan Himalaya.

Data resmi Pemerintah Nepal menyebutkan lebih dari 5.500 orang masih hilang, sementara 80 ribu warga terdampak langsung. Kerugian ekonomi diperkirakan mencapai 5 miliar dolar AS atau sekitar Rp78 triliun. Di sisi perbatasan China, media pemerintah melaporkan 43 orang tewas dan 519 lainnya hilang di Wilayah Otonomi Tibet hingga 5 September 2026.

Baca juga:

Mengapa Air Banjir Bandang Nepal Begitu Besar?

Para ahli hidrologi dan glasiologi menjelaskan bahwa banjir bandang di Nepal dipicu oleh kombinasi beberapa faktor ekstrem yang jarang terjadi secara bersamaan. Berikut penjelasannya:

  • Curah hujan ekstrem: Monsun yang membawa uap air dari Samudra Hindia bertemu dengan pegunungan Himalaya, memicu hujan lebat berkepanjangan di wilayah tangkapan air yang sempit.
  • Lelehan gletser: Suhu udara yang lebih hangat mempercepat pencairan salju dan es di dataran tinggi, menambah volume air yang mengalir ke lembah.
  • Tanah longsor: Lereng yang curam dan tidak stabil runtuh, membendung aliran sungai sementara. Ketika bendungan alami itu jebol, air melesat dengan kecepatan dan kekuatan luar biasa.
  • Topografi curam: Kemiringan medan mempercepat aliran air dari pegunungan ke permukiman, sehingga banjir datang tanpa peringatan dini yang memadai.

Kombinasi inilah yang membuat air banjir bandang Nepal tidak hanya besar, tetapi juga sangat destruktif. Sungai yang meluap membawa lumpur, batu, dan puing-puing, menghancurkan jembatan, jalan, serta pembangkit listrik tenaga air. Sejumlah pekerja dilaporkan masih terjebak di dalam terowongan PLTA yang terendam.

Pemulihan Terhambat, Ribuan Masih Hilang

Upaya pencarian korban dan pembersihan puing berjalan lambat. Keterbatasan alat berat dan bahan bakar menjadi kendala utama. Lumpur tebal yang menutupi jalan membuat distribusi makanan dan obat-obatan tidak mencukupi kebutuhan warga di tempat penampungan.

Seorang pejabat Nepal menyatakan pemerintah sedang mempertimbangkan untuk mengakhiri operasi pencarian karena kondisi di lokasi dinilai terlalu berbahaya. PBB menekankan bahwa pemulihan membutuhkan dukungan menyeluruh, termasuk layanan kesehatan mental, terutama bagi perempuan, anak-anak, dan warga lanjut usia yang paling rentan mengalami trauma.

Baca juga:

Nepal Serukan Keadilan Iklim di PBB

Perdana Menteri Nepal, Balendra Shah, membawa dampak bencana ini ke Majelis Umum PBB pada 24 September 2026. Ia menyerukan tindakan lebih kuat terhadap perubahan iklim dan menegaskan bahwa bencana tersebut bukan sekadar tragedi lokal.

“Ini adalah peringatan bagi dunia. Nepal membayar harga yang sangat mahal meskipun pangsa emisi gas rumah kaca globalnya kurang dari 0,1 persen,” ujar Shah.

Ia menambahkan bahwa negara-negara yang secara historis menghasilkan lebih banyak emisi memiliki tanggung jawab untuk memberikan dukungan lebih besar kepada negara-negara rentan. Menteri Luar Negeri Nepal, Shisir Khanal, juga menyerukan agar negara kaya tidak hanya memberikan bantuan pascabencana, tetapi juga pembiayaan untuk membangun masyarakat yang lebih tangguh.

Relokasi dan Masa Depan Zona Rawan

Pemerintah Nepal berencana menetapkan sejumlah wilayah terdampak sebagai zona tidak aman untuk dihuni dan merelokasi penduduk. Langkah ini diambil untuk mengurangi risiko korban jiwa di masa depan, meskipun menimbulkan tantangan sosial dan ekonomi bagi warga yang harus meninggalkan kampung halaman.

Baca juga:

Para ilmuwan memperingatkan bahwa tanpa pengurangan emisi global yang signifikan, peristiwa serupa berpotensi terjadi lebih sering di Himalaya dan kawasan rentan lainnya. Banjir bandang Nepal menjadi pengingat pahit bahwa krisis iklim bukan proyeksi masa depan, melainkan realitas yang sudah merenggut ribuan nyawa.

Dengan kerugian mencapai miliaran dolar dan ribuan orang masih hilang, pemulihan Nepal akan menjadi ujian solidaritas internasional. Dunia dituntut tidak hanya hadir saat bencana, tetapi juga berinvestasi dalam ketahanan iklim sebelum tragedi berikutnya terjadi.

Alya Prameswari

Myrddin Mackynsie Abiola, atau yang akrab dipanggil "Myr" oleh tanaman hiasnya (karena tanaman tidak bisa berbicara), adalah penulis yang memulai karirnya pada tahun 2022. Surabaya menjadi tempat tinggalnya yang nyaman, meski ia lebih sering berselingkuh dengan jalan-jalan Indonesia demi liputan, berasa seperti reporter versi nomaden. Selain menulis dengan penuh semangat, Myr juga menghabiskan waktu mengamati bintang—mencari tahu apa yang dilakukan para bintang Hollywood ketika tidak terjebak dalam drama. Jadi, jika Anda melihat seseorang berjalan sambil memeluk pot monstera sambil mondar-mandir menatap langit malam, bisa dipastikan itu adalah Myr.

Mungkin Anda Suka