Media Blora – Buenos Aires, Argentina – Kiper tim nasional Argentina, Emiliano ‘Dibu’ Martínez, kembali menunjukkan performa impresif saat Albiceleste membantai Burkina Faso dengan skor telak 7-0 dalam laga uji coba di Estadio Monumental, Buenos Aires. Kemenangan ini menjadi sorotan, terutama karena Burkina Faso datang dalam kondisi tidak ideal: mereka tiba hanya enam jam sebelum kickoff setelah perjalanan 11 jam dari Casablanca, Maroko, akibat konflik internal terkait jadwal penerbangan dan bayaran pemain. Terlebih lagi, tim yang datang adalah skuad U-23, sehingga harus menghadapi pemain-pemain top Argentina.
Meski tidak menghadapi ancaman berarti, Dibu Martínez tetap mencatatkan clean sheet dan menegaskan bahwa menjaga gawang dari kebobolan adalah hal yang membanggakan, terlepas dari siapa lawannya. Ia lantas mengingat pengalaman pahit ketika menghadapi Yordania dan Egipt, di mana gawangnya sempat bobol. “Pada akhirnya, Yordania menyerang sekali dan mencetak gol ke gawang saya di sebuah Piala Dunia, Egipt juga. Siapa pun bisa mencetak gol. Bagi saya, menjaga gawang tetap bersih adalah kebanggaan, apa pun lawannya,” ujar Dibu dalam sesi wawancara usai pertandingan.
Dengan tambahan satu clean sheet, Dibu kini telah mencatatkan 45 pertandingan tanpa kebobolan dari total 69 penampilan bersama timnas Argentina. Ia hanya terpaut dua laga dari rekor legendaris Sergio ‘Chiquito’ Romero. Jika terus tampil, bukan tidak mungkin rekor tersebut akan terpecahkan pada jeda internasional November mendatang.
Kiper berusia 34 tahun itu juga mengungkapkan alasan di balik keputusannya untuk tetap memperkuat timnas setelah sempat ragu akibat kekalahan di final Piala Dunia. “Saya butuh waktu untuk berpikir, saya sangat sedih kalah di final dunia. Saya mencoba pindah klub untuk menyegarkan pikiran, dan itu berhasil. Saya kembali ke sini dan itu keputusan terbaik karena saya merasa berguna, cepat, dan baik. Pada akhirnya saya harus mewakili negara dan keluarga saya, dan melakukannya sebaik mungkin,” jelasnya.
Menjelang laga perpisahan Lionel Messi melawan Benin pada Selasa mendatang, Dibu menyatakan akan memberikan yang terbaik untuk sang kapten. “Kami akan berusaha agar dia menikmati momen ini sepenuhnya. Kami akan memanjakan dia, memberikan ciuman, dan membuatnya bahagia,” katanya. Ia juga mengaku bangga pernah membantu Messi meraih apa yang diimpikannya. “Itu salah satu kehormatan terbesar dalam karier saya, mencoba membantu dia mendapatkan apa yang sangat dia inginkan karena dia adalah pemain terbaik dalam sejarah,” tambahnya.
Di tengah euforia kemenangan, Dibu melontarkan pernyataan mengejutkan tentang keinginannya bermain di Mar del Plata, kota kelahirannya. “Saya sangat merasakan kasih sayang setiap kali saya pergi ke sana dan saya ingin bermain di Mar del Plata suatu hari nanti,” ujarnya. Pernyataan ini langsung memicu spekulasi apakah ia ingin membela timnas di Stadion José María Minella atau kembali ke klub-klub yang membesarkannya seperti Urquiza, Talleres, atau San Isidro.
Sementara itu, isu mengenai pensiunnya nomor punggung 10 setelah Messi juga menjadi perbincangan hangat. Presiden AFA, Claudio Tapia, sempat berkeinginan mengabadikan nomor tersebut, namun aturan FIFA mengharuskan setiap tim peserta turnamen resmi menomori pemain 1 hingga 26. Artinya, nomor 10 akan tetap muncul di Piala Dunia 2030 dan Copa América, dan akan diwariskan kepada pemain lain. Meski begitu, Argentina bisa saja mengosongkan nomor 10 di laga uji coba sebagai bentuk penghormatan.
Kemenangan atas Burkina Faso menjadi modal berharga bagi Argentina menjelang laga emosional melawan Benin. Dukungan penuh untuk Messi dan semangat juang para pemain muda menjadi fokus utama. Dibu Martínez sendiri terus membuktikan diri sebagai salah satu kiper terbaik dunia, dengan ambisi pribadi yang tak lekang oleh waktu.
Dengan performa apik dan komitmen tinggi, Dibu Martínez tidak hanya menjadi tembok kokoh di bawah mistar, tetapi juga sosok yang menginspirasi. Kisahnya tentang bangkit dari kekecewaan dan keinginan bermain di kampung halaman menjadi warna tersendiri dalam perjalanan timnas Argentina. Sementara itu, Burkina Faso harus menerima kenyataan pahit: datang terlambat, dibantai pula. Sebuah pelajaran berharga bahwa persiapan matang adalah kunci di level internasional.







