Dunia

China Bantah Kirim 400 Rudal ke Iran, Tegaskan Hanya Berperan Jaga Perdamaian

China Bantah Kirim 400 Rudal ke Iran, Tegaskan Hanya Berperan Jaga Perdamaian
China Bantah Kirim 400 Rudal ke Iran, Tegaskan Hanya Berperan Jaga Perdamaian
A− A+

Media Blora – Pemerintah China menegaskan bahwa pihaknya hanya berperan dalam menjaga perdamaian di kawasan Timur Tengah, menyusul laporan yang menyebutkan bahwa Beijing telah mengirimkan hingga 400 peluncur rudal pertahanan udara ke Iran. Pernyataan ini muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan Presiden China Xi Jinping agar tidak memberikan dukungan kepada Teheran dalam pertemuan mereka di Washington pekan lalu.

Duta Besar AS untuk China, David Perdue, dalam wawancara dengan CNBC mengatakan bahwa Trump secara tegas menyampaikan kepada Xi bahwa dukungan langsung maupun tidak langsung terhadap Iran sama sekali tidak dapat diterima. Ketika ditanya secara terpisah oleh Fox News apakah China akan menghentikan bantuannya kepada Iran, Perdue menyatakan bahwa Washington telah menerima jaminan dari Beijing pada Kamis.

Baca juga:

“Kami sudah melihat adanya pergerakan terkait hal itu. Itulah komitmen yang diberikan. Mereka meyakinkan kami kemarin bahwa mereka tidak melakukan hal tersebut,” ujar Perdue dalam program America’s Newsroom.

Namun, seorang pejabat senior Iran membantah klaim tersebut. Ia menyatakan bahwa pejabat China telah meyakinkan Iran bahwa Beijing tidak akan membatasi hubungan ekonomi, politik, maupun militernya dengan Teheran meskipun mendapat tekanan dari Trump. Pernyataan ini menunjukkan bahwa posisi China sebenarnya lebih kompleks daripada yang digambarkan oleh Washington.

Laporan mengenai pengiriman 400 peluncur rudal pertahanan udara buatan China yang dapat dioperasikan dari bahu pertama kali mencuat pada Juli lalu. Menurut laporan tersebut, Iran diperkirakan menerima pengiriman pertama dalam beberapa pekan. Rudal jenis ini, yang dikenal sebagai MANPADS (Man-Portable Air-Defense Systems), merupakan senjata yang cukup efektif untuk menghadapi ancaman udara jarak rendah.

Sejumlah anggota parlemen AS sebelumnya mendesak Trump untuk menekan Xi terkait laporan bantuan China kepada Iran. Mereka khawatir sejumlah entitas China telah memberikan bantuan dalam menentukan sasaran yang kemudian menyebabkan jatuhnya korban dari pihak AS dalam konflik tersebut. Kekhawatiran ini muncul di tengah perang yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu.

Dalam konteks geopolitik yang memanas, China berusaha menyeimbangkan posisinya. Di satu sisi, Beijing ingin menjaga hubungan baik dengan Iran sebagai mitra ekonomi dan politik di kawasan. Di sisi lain, China juga tidak ingin memperburuk hubungan dengan Amerika Serikat yang merupakan mitra dagang utama.

Baca juga:

Pernyataan terbaru dari China yang menegaskan perannya dalam perdamaian dapat dilihat sebagai upaya untuk meredakan ketegangan. Beijing menegaskan bahwa kebijakan luar negerinya selalu mengedepankan penyelesaian damai dan stabilitas regional. Namun, pernyataan pejabat Iran yang menyebut China tidak akan membatasi hubungan dengan Teheran menunjukkan bahwa komitmen yang diberikan kepada AS mungkin tidak sepenuhnya mengikat.

Pengamat hubungan internasional menilai bahwa situasi ini mencerminkan dinamika kekuatan global yang semakin kompleks. China sebagai kekuatan ekonomi terbesar kedua dunia memiliki kepentingan strategis di Timur Tengah, terutama terkait pasokan energi. Sementara itu, AS berusaha mempertahankan pengaruhnya dan mencegah penyebaran senjata yang dapat mengancam kepentingan sekutunya, terutama Israel.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah China mengenai laporan pengiriman 400 rudal tersebut. Kementerian Luar Negeri China dalam beberapa kesempatan menegaskan bahwa pihaknya selalu mematuhi hukum internasional dan tidak akan melakukan tindakan yang dapat memicu eskalasi konflik. Beijing juga menyerukan dialog damai antara semua pihak yang terlibat.

Pertemuan antara Trump dan Xi di Washington menjadi momen penting dalam hubungan bilateral kedua negara. Meskipun tidak ada perincian resmi mengenai pembicaraan tersebut, pernyataan Perdue menunjukkan bahwa isu Iran menjadi salah satu topik utama yang dibahas. AS berharap China dapat menggunakan pengaruhnya untuk mendorong Iran menghentikan program nuklir dan aktivitas militer yang dianggap mengancam stabilitas kawasan.

Di sisi lain, Iran terus berupaya mencari cara untuk menghindari sanksi ekonomi yang dijatuhkan AS. Laporan menyebutkan bahwa Teheran menemukan metode untuk menghindari sanksi terhadap penjualan minyaknya dengan bantuan China. Hal ini semakin memperumit upaya AS untuk menekan Iran secara ekonomi.

Baca juga:

Dengan dinamika yang terus berkembang, masyarakat internasional akan terus mencermati langkah China selanjutnya. Apakah Beijing akan benar-benar menghentikan bantuan militernya kepada Iran, ataukah pernyataan yang diberikan kepada AS hanya bersifat sementara untuk meredakan ketegangan? Yang jelas, isu ini akan tetap menjadi salah satu titik panas dalam hubungan AS-China dan stabilitas Timur Tengah.

Pada akhirnya, peran China dalam perdamaian dunia akan diuji. Komitmen yang disampaikan kepada AS harus dibuktikan dengan tindakan nyata, bukan sekadar pernyataan diplomatis. Dunia menunggu apakah China akan konsisten dengan posisinya sebagai penjaga perdamaian, atau justru terjebak dalam permainan kekuatan yang dapat memperburuk situasi di kawasan yang sudah rapuh ini.

Mungkin Anda Suka