Fokus Surabaya – Setiap tahun, masyarakat Jawa menyambut tahun baru Hijriyah dengan berbagai tradisi unik. Salah satu tradisi yang paling menarik adalah perayaan 1 Suro, yang juga dikenal sebagai Rebo Wekasan. Perayaan ini jatuh pada hari Rabu terakhir bulan Safar dan merupakan wujud perpaduan antara kearifan lokal dan ajaran Islam.
Rebo Wekasan memiliki sejarah yang panjang dan dapat ditelusuri sejak abad ke-17, pada masa penyebaran Islam oleh Wali Songo. Pada masa itu, banyak ulama yang meyakini bahwa di bulan Safar turun lebih dari 500 jenis penyakit ke bumi. Sebagai bentuk ikhtiar untuk terhindar dari penyakit dan bencana, mereka mengadakan tirakatan yakni malam khusus untuk memperbanyak ibadah dan doa.
Tujuan dari amalan tersebut adalah memohon perlindungan kepada Allah SWT agar dijauhkan dari segala mara bahaya, khususnya pada Rabu terakhir bulan Safar. Tirakatan yang digelar setiap tahun ini menjadi simbol doa dan usaha agar terhindar dari musibah. Meski telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu, tradisi Rebo Wekasan tetap dijaga kelestarian-nya hingga sekarang.
Pelaksanaan Rebo Wekasan sendiri berbeda-beda di setiap daerah, namun esensi-nya sama, yakni untuk memohon keselamatan. Selain menjadi sarana doa dan permohonan keselamatan, tradisi ini juga berfungsi mempererat silaturahmi antarwarga. Melalui kegiatan bersama seperti doa berjamaah, hingga pembacaan ayat suci Al-Quran, masyarakat saling berbagi rasa syukur sekaligus menjaga warisan budaya yang telah diwariskan turun-temurun.
Dengan demikian, Rebo Wekasan tidak hanya memiliki nilai religius, tetapi juga memegang peranan penting dalam memperkuat ikatan sosial dan melestarikan identitas budaya lokal. Rebo Wekasan 2026 jatuh pada Rabu, 12 Agustus 2026, yang bertepatan dengan 29 Safar 1448 Hijriah dan menjadi Rabu terakhir pada bulan Safar.
Tradisi ini masih dilakukan oleh sebagian masyarakat Muslim di Indonesia, terutama di berbagai daerah di Pulau Jawa. Sebagai salah satu tradisi keagamaan dan budaya yang berkembang di tengah masyarakat Nusantara, Rebo Wekasan memiliki bentuk peringatan yang beragam. Selain kegiatan ibadah, masyarakat biasanya mengisinya dengan doa bersama, pengajian, sedekah, dan berbagai tradisi lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Kesimpulan dari tradisi Rebo Wekasan ini adalah bahwa tradisi ini memiliki nilai yang sangat penting dalam memperkuat ikatan sosial dan melestarikan identitas budaya lokal. Dengan memahami dan menghargai tradisi ini, kita dapat memperkuat kebersamaan dan keharmonisan dalam masyarakat.







