Fokus Jepara – Piala Dunia 2026 telah berakhir, tetapi perubahan aturan FIFA masih menjadi perdebatan hangat. Presiden FIFA Gianni Infantino mengakui kemungkinan turnamen sepak bola terbesar di dunia itu kembali diperluas menjadi 64 tim. Format Piala Dunia 64 tim berpotensi mengubah peta ekonomi sepak bola dunia, mulai dari nilai kompetisi kualifikasi, distribusi pendapatan FIFA, hingga keseimbangan kekuatan antara federasi sepak bola global dan konfederasi regional.
Namun, rencana tersebut juga menghadirkan tantangan besar, mulai dari jadwal yang semakin padat, beban pemain, kebutuhan infrastruktur, hingga biaya penyelenggaraan yang semakin tinggi. Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko menjadi edisi pertama yang menggunakan format 48 tim setelah sejak 1998 turnamen selalu diikuti 32 negara.
Spanyol keluar sebagai juara untuk kedua kalinya usai mengalahkan Argentina pada partai final di Stadion MetLife, Senin kemarin. Kylian Mbappe menutup Piala Dunia 2026 sebagai top skor sepanjang masa turnamen, mengoleksi 22 gol dan unggul satu gol dari Lionel Messi.
Perubahan aturan FIFA juga berdampak pada keputusan wasit yang memicu kontroversi. Federasi Sepak Bola Mesir (EFA) meminta FIFA mencoret wasit beserta seluruh perangkat pertandingan yang memimpin laga kekalahan 2-3 Mesir dari Argentina di fase 16 besar.
Namun, Kepala Komite Wasit FIFA, Pierluigi Collina, mengecam tudingan tersebut dan mempertanyakan integritas para ofisial pertandingan.
Dalam kesimpulan, perubahan aturan FIFA masih menjadi perdebatan hangat. Apakah format Piala Dunia 64 tim akan menjadi kebijakan yang efektif, ataukah akan menghadirkan tantangan besar? Jawabannya masih belum jelas, tetapi satu hal yang pasti, perubahan aturan FIFA akan berdampak pada keputusan wasit dan keberhasilan tim dalam kompetisi.







