Fokus Jepara – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini. Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp 17.942 pada Kamis, 25 Juni 2026.
Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, di awal mula konflik geopolitik di Timur Tengah pecah akhir Februari 2026 lalu, pemerintah telah melakukan berbagai skenario analisis dampak perang untuk rentang waktu 5 bulan, 6 bulan, hingga 10 bulan, dan semua bisa dilalui dengan baik.
Ketergantungan impor minyak Indonesia terhadap kawasan Timur Tengah kini hanya berada di level 20 persen. Langkah diversifikasi pasokan telah dilakukan dengan menyasar negara-negara Afrika seperti Nigeria dan Gabon.
Pemerintah juga mengalokasikan paket stimulus ekonomi senilai Rp 26,34 triliun pada semester II-2026, sebagai langkah antisipatif menghadapi meningkatnya ketidakpastian global sekaligus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Di sisi lain, harga minyak mentah dunia terus merosot tajam hingga menyentuh di bawah USD 70 per barel untuk WTI Crude Oil. Kesepakatan awal pekan lalu untuk mengakhiri perang AS-Israel dengan Iran telah memungkinkan lalu lintas melalui selat (Selat Hormuz) untuk dimulai kembali, sehingga meredakan kekhawatiran pasokan yang membuat harga minyak mentah dunia terus merosot tajam pekan ini.
Menurut Ibrahim, penguatan rupiah disebabkan oleh harga minyak mentah yang terus merosot tajam. Namun, penurunan harga minyak ini belum meredam ekspektasi pasar terhadap kebijakan ketat Federal Reserve (Fed), karena bank sentral AS menunjukkan perpecahan di dewan dengan delapan dari 19 anggota memperkirakan kenaikan suku bunga menjelang akhir tahun 2026.
Pemerintah memilih menyiapkan langkah-langkah mitigasi agar konsumsi masyarakat dan aktivitas usaha tetap terjaga. Paket kebijakan yang disiapkan mencakup insentif perpajakan, dukungan bagi sektor transportasi, penguatan industri, hingga perluasan bantuan sosial.
Dalam beberapa bulan ke depan, proses peninjauan terhadap status pasar Indonesia masih berlangsung, dan akan menjadi salah satu perhatian utama para pelaku pasar. Hasil evaluasi tersebut dipandang penting karena dapat memberikan gambaran mengenai persepsi investor internasional terhadap kualitas, keterbukaan, dan efisiensi pasar modal domestik.
Kesimpulan, pemerintah siap memberikan stimulus ekonomi di semester II-2026 untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional. Rupiah melemah, namun pemerintah telah melakukan berbagai skenario analisis dampak perang dan langkah diversifikasi pasokan untuk menghadapi ketidakpastian global.







