Lifestyle

Idgitaf dan Replayrepliy Ubah Album ‘Berusaha di Bawah Hujan’ Jadi Karya Visual di JICAF 2026

Idgitaf dan Replayrepliy Ubah Album 'Berusaha di Bawah Hujan' Jadi Karya Visual di JICAF 2026
Idgitaf dan Replayrepliy Ubah Album 'Berusaha di Bawah Hujan' Jadi Karya Visual di JICAF 2026
A− A+

Media Blora – Jakarta – Jakarta Illustration and Creative Arts Fair (JICAF) 2026 kembali menjadi ruang pertemuan lintas disiplin kreatif. Mengusung tema “The World We Draw”, festival ini mempertemukan ilustrasi dengan musik, kuliner, komik, hingga animasi. Salah satu kolaborasi yang mencuri perhatian adalah proyek spesial antara penyanyi Idgitaf dan ilustrator Replayrepliy yang menerjemahkan album kedua Idgitaf, “Berusaha di Bawah Hujan“, ke dalam bahasa visual.

Kolaborasi ini menjadi bagian dari program Special Drop JICAF 2026 yang berlangsung di Agora Mall, Jakarta, pada Sabtu, 3 Oktober 2026. Dalam sesi Meet The Artist, penggemar berkesempatan mendapatkan tanda tangan Idgitaf pada merchandise eksklusif hasil kolaborasi tersebut. Yoga Prathama, Co-Founder & Art Director JICAF, mengatakan bahwa pertemuan berbagai medium membuka kemungkinan baru bagi sebuah cerita untuk terus berkembang.

Baca juga:

“Menarik melihat bagaimana sebuah cerita bisa terus berkembang ketika diterjemahkan ke medium yang berbeda. Musik, ilustrasi, animasi, maupun komik punya bahasa masing-masing, dan ketika semuanya bertemu, muncul pengalaman baru bagi audience,” ujar Yoga.

Album “Berusaha di Bawah Hujan” yang dikenal melalui single “Sedia Aku Sebelum Hujan” membawa cerita personal dan atmosfer musik khas Idgitaf. Replayrepliy kemudian menginterpretasikan ulang album tersebut melalui perspektif visual berdasarkan bagaimana musik itu didengar, dirasakan, dan dialami. Hasilnya bukan sekadar pendamping album, melainkan cara berbeda untuk melihat cerita melalui ilustrasi.

Kolaborasi ini hadir dalam bentuk exclusive illustrated Special Box untuk album “Berusaha di Bawah Hujan” yang hanya tersedia di JICAF 2026. Selain itu, ada pula exclusive art print series yang juga hanya bisa didapatkan selama penyelenggaraan festival. Kehadiran karya tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah album dapat menemukan bentuk baru melalui sentuhan seorang visual artist.

Baca juga:

JICAF 2026 sendiri tidak hanya menyoroti kolaborasi Idgitaf. Festival ini juga menghadirkan sejumlah proyek lintas disiplin lainnya, seperti SketchRasa yang mempertemukan travel illustrator Nugraha Pratama, culinary expert William Wongso, dan SERO Ceramic. Proyek ini mengangkat kekayaan kuliner Nusantara ke dalam bentuk visual dan objek fungsional berupa piring keramik. Beberapa karya yang ditampilkan antara lain “Minangkabau Kitchen”, “Fishermen from Bali”, dan “Harvesting Sago”.

Selain itu, ada pula Oddman & Panda Press yang menjadi bagian dari ekosistem independent comics dan publishing. Salah satu karya yang hadir adalah “Hati Nammo” karya Bryan Arfiandi, seorang ilustrator dan komikus yang mengembangkan karyanya dari format digital menjadi komik fisik. Kehadiran karya ini menunjukkan bagaimana komik independen dapat berkembang melalui berbagai ruang kreatif, termasuk bookstore dan komunitas.

Dunia musik juga diwakili oleh kolaborasi Tribute: Guruh Gipsy dan Hindia x Pancaran Sinema. Tribute Guruh Gipsy merupakan bentuk penghormatan terhadap warisan kreatif Guruh Soekarnoputra, dengan menghadirkan produk seperti perhiasan, apparel, art print, hingga 50th Anniversary Deluxe Edition CD. Sementara itu, Hindia x Pancaran Sinema mengembangkan dunia visual music video “kids” menjadi “kids” MV Flip Book dan “kids” – Hindia x Witchkana Art Print.

Baca juga:

Melalui tema “The World We Draw”, JICAF 2026 menempatkan setiap karya sebagai representasi dari dunia dan sudut pandang kreatornya. Festival ini membuktikan bahwa ilustrasi dapat bertemu dengan berbagai medium, mulai dari kuliner, keramik, komik, hingga musik, dan menciptakan interpretasi baru yang memperkaya pengalaman penikmatnya.

Kolaborasi Idgitaf dan Replayrepliy menjadi contoh nyata bagaimana musik dan ilustrasi saling melengkapi. Cerita yang awalnya disampaikan melalui suara dan lirik kini berkembang menjadi pengalaman visual yang dapat dikoleksi. JICAF 2026 pun sukses memperlihatkan bahwa sebuah karya dapat terus hidup dan menemukan bentuk barunya ketika berpindah medium.

Mungkin Anda Suka