Fokus Jepara – Bank Mandiri (BMRI) berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp18,1 triliun per 30 April 2026, melesat 18,9 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Keberhasilan ini tidak terlepas dari efektivitas ekosistem bisnis digital yang dibangun secara hulu ke hilir.
Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini, menjelaskan bahwa keberhasilan ini merupakan bukti bahwa Bank Mandiri terus memperluas akses layanan finansial yang nyaman dan menyeluruh bagi masyarakat, sekaligus menjaga keunggulan berkelanjutan sebagai mitra strategis pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Sementara itu, Rupiah melemah tajam ke level Rp17.789 per Dolar AS pada 26 Mei 2026, menyebabkan investor asing memilih untuk menjual saham-saham big cap seperti BBRI, BBCA, dan BMRI. Hal ini membuat IHSG turun 1,23% ke level 6.130.
Di tengah tekanan pasar, saham-saham Grup Barito milik Prajogo Pangestu justru kompak rebound setelah sehari sebelumnya tersungkur akibat efek rebalancing MSCI. Saham BREN menjadi yang paling bersinar setelah melesat 10,92% ke Rp2.640.
Bank Mandiri juga melakukan penyesuaian jadwal operasional kantor cabang selama libur dan cuti bersama Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah. Layanan digital perbankan dipastikan tetap beroperasi penuh selama 24 jam guna menjaga kelancaran transaksi nasabah.
Bank Mandiri dan Indogrosir juga meluncurkan Kartu Mandiri Debit Co-Brand Indogrosir guna menghadirkan solusi transaksi yang praktis dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat serta pelaku usaha di berbagai daerah.
Kesimpulan, Bank Mandiri berhasil membukukan laba bersih yang impresif, namun saham big cap rontok di tengah melemahnya Rupiah. Saham Grup Barito rebound setelah sehari sebelumnya tersungkur, dan Bank Mandiri melakukan penyesuaian jadwal operasional kantor cabang selama libur Iduladha.







