Ekonomi

Euro Melemah ke Level Terendah Tiga Bulan, Dolar AS Kian Perkasa

Euro Melemah ke Level Terendah Tiga Bulan, Dolar AS Kian Perkasa
Euro Melemah ke Level Terendah Tiga Bulan, Dolar AS Kian Perkasa
Daftar Isi
  1. Tekanan dari Kebijakan ECB dan Harga Energi
  2. Dolar AS Ditopang Kenaikan Imbal Hasil Treasury
  3. Faktor Pendorong Pergerakan Pasar
  4. Data Pergerakan Nilai Tukar
A− A+

Media Blora – Mata uang euro kembali berada di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa, 29 September 2026. Pelemahan ini terjadi ketika pelaku pasar mencermati prospek suku bunga Eropa dan kenaikan harga energi yang terus berlanjut. Nilai tukar EUR/USD diperdagangkan di kisaran 1,137 dolar per euro pada pukul 09.30 waktu Jakarta berdasarkan data Refinitiv. Pergerakan pasangan mata uang ini relatif datar sepanjang sesi pagi.

Pada perdagangan Senin sebelumnya, euro tercatat melemah 0,18 persen ke level sekitar 1,137 dolar. Pergerakan tersebut membawa mata uang Benua Biru itu mendekati titik terlemahnya dalam hampir tiga bulan terakhir. Kondisi ini menandai tekanan berkelanjutan bagi euro di tengah ketidakpastian kebijakan moneter global.

Baca juga:

Tekanan dari Kebijakan ECB dan Harga Energi

Euro menghadapi tekanan tambahan setelah Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde menyatakan bahwa kenaikan inflasi terkini sebaiknya direspons melalui kebijakan yang terukur. Pernyataan tersebut dipandang pasar sebagai sinyal bahwa ECB tidak akan terburu-buru menaikkan suku bunga secara agresif.

Inflasi zona euro telah bergerak di atas 3 persen dan berpotensi mendekati 4 persen pada akhir tahun. Kenaikan ini sebagian besar didorong oleh tingginya harga minyak dan gas yang berkaitan dengan ketegangan geopolitik. Namun, ECB belum melihat bukti jelas bahwa biaya energi yang lebih tinggi sedang menciptakan siklus inflasi yang lebih luas akibat dorongan upah. Hal ini pun menurunkan ekspektasi pasar terhadap serangkaian kenaikan suku bunga yang agresif.

Pasar kini menantikan pertemuan ECB pada 29 Oktober mendatang. Sejumlah ekonom memperkirakan bank sentral akan mempertahankan suku bunga sebelum mempertimbangkan kemungkinan kenaikan lain pada akhir tahun. Ketidakpastian ini membuat pelaku pasar bersikap hati-hati dalam mengambil posisi terhadap euro.

Baca juga:

Dolar AS Ditopang Kenaikan Imbal Hasil Treasury

Di sisi lain, dolar Amerika Serikat mendapatkan dukungan dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah atau Treasury. Indeks dolar (DXY) berada di sekitar 101,2 dan bertahan mendekati level tertingginya dalam dua bulan. Penguatan dolar ini turut menekan nilai tukar euro.

Investor kini menanti data ekonomi penting Amerika Serikat, termasuk laporan inflasi PCE dan data ketenagakerjaan. Rilis data tersebut berpotensi memberikan petunjuk baru mengenai keputusan suku bunga Federal Reserve berikutnya dan menentukan arah pergerakan nilai tukar euro terhadap dolar.

Faktor Pendorong Pergerakan Pasar

  • Pernyataan Christine Lagarde yang mengisyaratkan respons kebijakan terukur terhadap inflasi.
  • Inflasi zona euro yang menembus 3 persen dan berpotensi mendekati 4 persen.
  • Kenaikan harga minyak dan gas akibat ketegangan geopolitik.
  • Penguatan dolar AS yang ditopang naiknya imbal hasil Treasury.
  • Penantian pasar terhadap data PCE dan ketenagakerjaan AS.

Data Pergerakan Nilai Tukar

Indikator Nilai
EUR/USD (Selasa, 29 September 2026) 1,137 dolar per euro
Perubahan Senin -0,18 persen
Indeks Dolar (DXY) 101,2
Inflasi Zona Euro Di atas 3 persen
Pertemuan ECB berikutnya 29 Oktober

Perhatian pasar dalam beberapa pekan ke depan akan tertuju pada dua hal utama, yakni sikap ECB menjelang pertemuan Oktober dan arah data ekonomi Amerika Serikat. Kombinasi kedua faktor ini diperkirakan menjadi penentu utama apakah euro mampu bangkit dari level terendahnya atau justru terus tertekan oleh kekuatan dolar.

Baca juga:

Secara keseluruhan, pelemahan euro ke level terendah tiga bulan mencerminkan dinamika kompleks antara kebijakan moneter Eropa, lonjakan harga energi, dan penguatan dolar AS. Pelaku pasar disarankan mencermati setiap rilis data dan pernyataan pejabat bank sentral, karena sentimen terhadap kedua mata uang ini masih sangat sensitif terhadap perkembangan tersebut. Arah EUR/USD ke depan akan sangat bergantung pada seberapa cepat ECB merespons inflasi serta seberapa kuat data ekonomi AS menopang ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve.

Mungkin Anda Suka