Fokus Jepara – Timnas Inggris baru-baru ini mengalami kekalahan dari Argentina di semifinal Piala Dunia 2026 dengan skor 1-2. Kekalahan ini memicu sorotan terhadap pendekatan taktik pelatih Thomas Tuchel, terutama setelah The Three Lions mengubah permainan menjadi lebih defensif.
Inggris sempat unggul pada babak kedua melalui gol Anthony Gordon, namun Argentina membalikkan keadaan lewat dua gol pada menit-menit akhir sehingga memastikan tiket ke final. Sejak gol Gordon pada menit ke-55 hingga gol kemenangan Lautaro Martinez pada menit ke-92, Inggris hanya mencatatkan 12 persen penguasaan bola, sedangkan Argentina menguasai 88 persen.
Setelah pertandingan, Tuchel mengatakan kondisi tersebut kemungkinan dipengaruhi oleh DNA sepak bola Inggris. “Mungkin itu bukan bagian dari DNA kami seperti halnya DNA sepak bola Spanyol, Argentina, atau Brasil, yaitu menguasai bola dan mengendalikan pertandingan dengan penguasaan bola,” ujar Tuchel.
Namun, mantan pelatih Everton dan Nottingham Forest, Sean Dyche, tidak sependapat dengan pernyataan Tuchel. Dyche berpendapat bahwa kegagalan Inggris bukan karena DNA sepak bola, melainkan karena keputusan taktis yang salah.
Selain itu, Tuchel juga dianggap mengabaikan potensi Kobbie Mainoo, bintang muda Manchester United yang berada di bangku cadangan tatkala Inggris keok dari Argentina. Mainoo belum pernah mendapat menit bermain bersama Timnas Inggris selama di Piala Dunia 2026, meskipun ikut dalam skuad.
Inggris kini akan bertarung melawan Prancis untuk memperebutkan peringkat ketiga di Piala Dunia 2026. Dengan kekalahan ini, Inggris harus mempertanyakan strategi dan keputusan taktis mereka untuk meningkatkan performa di turnamen internasional.
Kekalahan Inggris dari Argentina menjadi pelajaran berharga bagi tim untuk meningkatkan kemampuan dan strategi mereka. Dengan memahami kelemahan dan kekuatan, Inggris dapat mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan di masa depan.








