News

IRGC Melancarkan Serangan Besar-Besaran terhadap Kapal Sekutu AS di Selat Hormuz

IRGC Melancarkan Serangan Besar-Besaran terhadap Kapal Sekutu AS di Selat Hormuz
IRGC Melancarkan Serangan Besar-Besaran terhadap Kapal Sekutu AS di Selat Hormuz
A− A+

Fokus Jepara – Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melancarkan serangan besar-besaran terhadap dua kapal sekutu AS di Selat Hormuz. Serangan ini terjadi setelah AS melakukan serangan udara ke Iran selama 10 malam berturut-turut, menurut laporan dari sumber militer.

IRGC menyatakan bahwa serangan tersebut bertujuan untuk melemahkan kemampuan militer AS yang digunakan untuk menyerang kapal-kapal komersial di Selat Hormuz. Dalam pernyataan resminya, IRGC menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan aman selama aksi yang mereka sebut sebagai agresi AS di kawasan tersebut tetap berlanjut.

Baca juga:

Presiden AS Donald Trump sebelumnya telah memperingatkan bahwa serangan Iran terhadap personel militer AS akan dibalas berkali-kali lipat. Pernyataan ini disampaikan setelah dua tentara AS tewas dan seorang lainnya dilaporkan hilang setelah rudal Iran menghantam sebuah lokasi militer di Yordania.

Ketegangan regional semakin memanas sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada Februari lalu. Iran pun membalas dengan serangan drone dan rudal dengan menargetkan negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah aset-aset milik AS.

AS dan Iran sempat menandatangani nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan untuk mengakhiri konflik dan mencapai perdamaian jangka panjang. Namun, ketegangan kembali meningkat pekan lalu akibat sengketa di Selat Hormuz hingga memicu aksi saling serang antara kedua negara.

Baca juga:

Dalam serangan terbaru, IRGC mengklaim bahwa dua kapal tanker minyak telah meledak dan tidak dapat bergerak setelah mencoba melintasi rute selatan di Selat Hormuz. Iran menuding kedua kapal tersebut melintas karena didorong oleh militer AS.

Konflik ini telah menyebabkan pelayaran melalui Selat Hormuz sebagian besar terhenti. Sebelum konflik kembali pecah, sekitar seperlima minyak mentah dan gas alam yang diperdagangkan di dunia melewati jalur tersebut.

Kesimpulan dari konflik ini adalah bahwa situasi di Selat Hormuz tetap tidak stabil dan memiliki potensi untuk memicu konflik yang lebih besar. AS dan Iran perlu menemukan solusi yang damai untuk mengakhiri konflik ini dan mengembalikan stabilitas di kawasan tersebut.

Baca juga:

Mungkin Anda Suka