Fokus Jepara – Perundingan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang berlangsung di Swiss, baru-baru ini, hampir gagal karena delegasi Iran melakukan ‘walk out’ setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ancaman terhadap Iran di media sosial.
Menurut Kepala Juru Runding Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, delegasinya memutuskan untuk meninggalkan ruangan perundingan setelah Trump mengeluarkan ancaman terhadap Presiden Iran Masoud Pezeshkian, tim negosiasi, serta akan menyerang wilayah Iran.
Meskipun demikian, perundingan antara Iran dan AS tetap berlanjut dengan mediator dari Pakistan dan Qatar.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan bahwa perundingan mendatang akan berlangsung di bawah pengawasan komite tingkat tinggi dengan partisipasi Ketua Majelis Syura Islam Iran, Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, Wakil Presiden Amerika Serikat, serta Perdana Menteri Pakistan dan Qatar.
Ia juga mengumumkan pembentukan empat kelompok kerja khusus untuk mendukung proses perundingan, yaitu Kelompok Kerja Penghentian Sanksi, Kelompok Kerja Nuklir, Kelompok Kerja Rekonstruksi dan Pembangunan Ekonomi, serta Kelompok Kerja Pemantauan dan Implementasi.
Perundingan antara Iran dan AS ini berlangsung setelah kedua negara menandatangani nota kesepahaman pada 18 Juni yang mengatur penghentian konflik militer yang mulai berlangsung sejak 28 Februari.
Dokumen tersebut juga menetapkan jadwal pencabutan blokade angkatan laut Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran serta pemulihan pelayaran di Selat Hormuz oleh Iran.
Kesimpulan dari perundingan ini adalah bahwa Iran dan AS tetap berkomitmen untuk melanjutkan perundingan meskipun terjadi ‘walk out’ dan ancaman dari Trump.






