Fokus Jepara – Iran dan Amerika Serikat terlibat dalam konflik yang semakin memanas. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memperingatkan Israel akan menerima respons keras jika mengancam pemimpin tertinggi Iran. Peringatan ini menyusul pernyataan Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, yang menyebut Mojtaba Khamenei sebagai target.
Abbas Araghchi menulis di X bahwa dalam nota kesepahaman (MoU) AS-Iran, Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah berkomitmen untuk membungkam ‘peliharaannya’ di Tel Aviv. Araghchi menegaskan bahwa setiap ancaman terhadap rakyat dan kepemimpinan Iran akan menerima tanggapan yang kuat dan segera.
Di tengah konflik ini, Israel dilaporkan menghapus nama Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf dari daftar target pembunuhan. Informasi ini diungkap seorang pejabat Pakistan yang menyatakan Islamabad meminta Amerika Serikat untuk mencegah Israel menargetkan kedua pejabat tinggi Iran tersebut.
Menurut pejabat Pakistan, keberadaan Araghchi dan Ghalibaf dinilai sangat penting agar jalur diplomasi tetap terbuka. Washington kemudian meminta Israel untuk mengurungkan rencana tersebut demi menjaga peluang tercapainya kesepakatan damai.
Pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, bersama beberapa anggota keluarganya dalam serangan udara Israel dan Amerika Serikat di Teheran lebih dari empat bulan lalu menandai dimulai perang besar di kawasan tersebut. Dalam prosesi pemakaman, sentimen anti-Barat terlihat sangat kental. Rekaman media pemerintah menunjukkan partisipan melempari foto Presiden Trump dengan batu.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, membantah klaim Presiden AS Donald Trump bahwa duka tersebut adalah kepalsuan. Pezeshkian menegaskan bahwa air mata muncul dari rasa sakit dan kesedihan yang melonjak di dalam diri seseorang, dan dunia melihat kebenaran ini.
Kondisi fiskal yang dinilai terkendali melanjutkan pencapaian APBN 2025. Namun, narkoba bukanlah kejahatan biasa, melainkan sudah menjadi kejahatan transnasional dan terorganisasi. Jutaan pelayat memadati jalan-jalan di Teheran untuk mengikuti prosesi pemakaman Ali Khamenei. Momen ini menjadi salah satu titik krusial dalam rangkaian acara selama sepekan yang berfungsi ganda: sebagai penghormatan terakhir bagi mendiang Pemimpin Tertinggi Iran dan sebagai latihan pesan politik yang dikelola secara ketat bagi sekutu maupun musuh negara tersebut.
Kelima peti mati yang dibungkus bendera Iran, termasuk satu peti kecil milik cucu perempuan Khamenei yang berusia 14 bulan, Zara, dibawa menggunakan truk. Mereka tewas akibat serangan udara Israel-Amerika pada 28 Februari lalu. Meski jalanan Teheran dipenuhi pendukung pemerintah yang menggemakan slogan ‘Kematian untuk Amerika’ dan ‘Kematian untuk Israel’, tidak sedikit warga yang memilih menjauh.
Di tengah konflik yang semakin memanas, Iran dan Amerika Serikat melanjutkan pembicaraan tidak langsung di Doha untuk membahas Selat Hormuz, gencatan senjata, dan implementasi nota kesepahaman. Namun, masih belum jelas apakah pembicaraan ini akan menghasilkan kesepakatan damai atau tidak.
Kesimpulan dari konflik ini adalah bahwa Iran dan Amerika Serikat masih terlibat dalam konflik yang semakin memanas. Ancaman pembunuhan Khamenei dan penghapusan nama Araghchi dan Ghalibaf dari daftar target pembunuhan menunjukkan bahwa situasi masih sangat tidak stabil. Pembicaraan tidak langsung di Doha masih berlangsung, namun hasilnya masih belum jelas.







