Stunting dan Kematian Ibu serta Bayi di Jawa Tengah Turun Signifikan, Kata Ning Nawal
MediaBlora – 19 April 2026 | Jawa Tengah mencatat penurunan yang konsisten pada tiga indikator kesehatan kritis: stunting pada balita, kematian ibu melahirkan, dan kematian bayi. Ning Nawal, Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi, menegaskan bahwa capaian ini merupakan hasil kerja keras kolaboratif antara pemerintah, lembaga non‑pemerintah, dan masyarakat setempat.
Data resmi Dinas Kesehatan Provinsi menunjukkan bahwa prevalensi stunting menurun dari 23,5% pada tahun 2019 menjadi 17,2% pada akhir 2023. Sementara itu, angka kematian ibu melahirkan (Maternal Mortality Ratio) turun dari 132 per 100.000 kelahiran hidup menjadi 78 per 100.000, dan angka kematian bayi (Infant Mortality Rate) berkurang dari 27 per 1.000 kelahiran hidup menjadi 16 per 1.000. Penurunan tersebut menandai kemajuan signifikan dibandingkan periode lima tahun sebelumnya.
Berbagai program strategis yang diluncurkan sejak 2020 menjadi faktor pendorong utama. PKK Provinsi menggerakkan jaringan posyandu, memperkuat layanan antenatal care (ANC), serta melaksanakan penyuluhan gizi berbasis komunitas. Selain itu, program “Sadar Gizi, Sehat Bersama” menargetkan ibu hamil dan balita dengan pemberian suplemen zat besi, vitamin A, serta makanan tambahan berbasis lokal.
- Posyandu harian yang melibatkan kader desa dalam pemantauan pertumbuhan anak.
- Peningkatan cakupan kunjungan ANC menjadi 94% pada trimester ketiga.
- Pelatihan kader PKK tentang penanganan gizi buruk dan komplikasi kebidanan.
- Penyediaan transportasi darurat untuk ibu bersalin di daerah terpencil.
- Kampanye imunisasi lengkap yang mencapai 98% wilayah provinsi.
Keberhasilan ini tidak lepas dari sinergi multi‑pemangku kepentingan. Dinas Kesehatan bekerja sama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Bappenas, serta organisasi masyarakat sipil untuk menyusun kebijakan berbasis data. Dukungan dana dari pemerintah pusat melalui program Keluarga Harapan (KPH) dan Kartu Indonesia Sehat (KIS) memperkuat kapasitas pelaksanaan di lapangan.
Berbagai testimoni dari warga menegaskan dampak nyata program tersebut. Seorang ibu di Kabupaten Banyumas, Siti Aisyah, mengaku anaknya yang sebelumnya terindikasi gizi buruk kini tumbuh dengan berat badan yang sesuai usia berkat pemantauan rutin di posyandu. “Saya tidak lagi khawatir anak saya tidak cukup makan, karena ada kader yang selalu memberi saran praktis,” ujarnya.
Meski capaian positif, tantangan masih mengintai. Daerah pegunungan dan pulau-pulau kecil di pesisir masih memiliki tingkat stunting di atas rata‑rata provinsi karena akses layanan kesehatan yang terbatas. Selain itu, dampak ekonomi pasca‑COVID‑19 menambah beban gizi keluarga, sehingga kebutuhan intervensi berkelanjutan tetap tinggi.
Untuk mengatasi hambatan tersebut, PKK Provinsi menyiapkan rencana aksi lima tahun ke depan. Fokus utama mencakup perluasan jaringan posyandu digital, peningkatan kapasitas kader melalui pelatihan daring, serta penambahan fasilitas transportasi medis di wilayah terpencil. Target ambisius ditetapkan: mengurangi prevalensi stunting menjadi di bawah 10% pada 2028, serta menurunkan angka kematian ibu dan bayi masing‑masing menjadi di bawah 50 dan 12 per 100.000 kelahiran hidup.
Kesimpulannya, penurunan stunting serta kematian ibu dan bayi di Jawa Tengah mencerminkan keberhasilan strategi terpadu yang menggabungkan pendekatan preventif, pemberdayaan masyarakat, dan dukungan kebijakan yang konsisten. Keberlanjutan upaya, terutama di daerah yang masih rawan, menjadi kunci untuk mewujudkan provinsi yang bebas dari gizi buruk dan kematian perinatal.
Komentar (0)