Wakapolri Desak Siaga El Nino “Godzilla”: Polres Kendal Gelar Zoom Meeting Persiapan Karhutla

Oleh Slamet Widodo 15 Apr 2026, 10:39 WIB 4 Views

MediaBlora – 15 April 2026 | Polres Kendal pada Selasa, 14 April 2026, menyelenggarakan rapat koordinasi daring yang dipimpin Wakil Kepala Polri (Wakapolri) Komjen Pol Dedi Prasetyo. Pertemuan yang berlangsung di Aula Tribrata Polres Kendal ini bertujuan menyiapkan langkah-langkah antisipasi terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dipicu oleh fenomena iklim ekstrem El Nino “Godzilla”.

Acara tersebut dihadiri perwakilan Kementerian Lingkungan Hidup, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), jajaran pejabat utama Polres Kendal, serta perwakilan KPH Perhutani Kendal dan sejumlah instansi terkait. Seluruh peserta menegaskan pentingnya sinergi lintas sektoral dalam menghadapi potensi bencana alam yang diproyeksikan akan memperparah kondisi kemarau di wilayah Jawa Tengah.

Komjen Pol Dedi Prasetyo menekankan bahwa kesiapsiagaan harus dimulai sejak dini. Ia menegaskan perlunya optimalisasi sarana yang ada, termasuk jaringan CCTV, kendaraan patroli, dan alutsista Polri yang dapat dikerahkan untuk pemadaman serta pencegahan karhutla. “Setiap daerah harus menyiapkan langkah mitigasi sejak dini. Optimalkan sarana prasarana yang ada, termasuk pemanfaatan CCTV dan dukungan alutsista Polri dalam penanganan karhutla,” ujarnya.

Wakapolri juga menekankan pentingnya kolaborasi dengan pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat, relawan, dan akademisi. Menurutnya, kerja sama yang terintegrasi dapat memperkuat deteksi dini dan respons cepat saat kebakaran terjadi. “Kami minta seluruh jajaran di daerah menjalin kerja sama dengan instansi terkait. Libatkan semua elemen, mulai dari dinas, relawan hingga akademisi untuk memperkuat penanganan di lapangan,” tegasnya.

Selain itu, Komjen Pol Dedi mengumumkan pembentukan command center terpadu yang akan menghubungkan markas besar Polri (Mabes) dengan unit‑unit daerah hingga tingkat Polsek. Sistem ini dirancang untuk memastikan alur informasi yang cepat dan koordinasi yang efektif dalam menanggapi potensi kebakaran.

Perwakilan BMKG, Gusyanto, menjelaskan istilah “El Nino Godzilla” yang merujuk pada varian El Nino yang lebih intens dibandingkan siklus sebelumnya, terutama yang terjadi pada 2015. Menurutnya, pemanasan Samudra Pasifik yang signifikan dapat memicu kemarau panjang di Indonesia, dengan dampak paling terasa pada bulan Juni hingga September 2026.

Prediksi BMKG menunjukkan bahwa puncak kemarau akan terjadi pada Agustus hingga September, berpotensi menurunkan ketersediaan air, mengganggu produksi pertanian, dan mendorong kenaikan harga bahan pokok. “Dampaknya tidak hanya pada lingkungan, tetapi juga ekonomi, termasuk potensi kenaikan harga beras hingga 15 persen,” kata Gusyanto.

Irjen Pol Rizal Irawan dari Kementerian Lingkungan Hidup menegaskan bahwa pengendalian karhutla menjadi prioritas nasional karena dampaknya yang luas terhadap ekosistem, kesehatan masyarakat, dan perekonomian. Ia menambahkan bahwa pada awal 2026, wilayah rawan kebakaran telah mencatat lebih dari 32.000 hektare lahan yang terbakar.

Data tersebut menjadi peringatan bagi semua daerah untuk meningkatkan kewaspadaan. Irjen Rizal menekankan perlunya langkah terpadu, mulai dari pemantauan cuaca, penegakan hukum terhadap pembakaran ilegal, hingga program edukasi masyarakat.

Kompol Ryke Rhimadhila, Kabag SDM Polres Kendal, menyatakan kesiapan personelnya dalam melaksanakan arahan pimpinan. Ia menyoroti peningkatan latihan simulasi kebakaran, penambahan personel patroli, serta peningkatan koordinasi dengan instansi terkait.

Administrator KPH Perhutani Kendal, Muhadi, menegaskan kesiapan lembaganya untuk berkolaborasi dengan Polres Kendal. Program antisipasi yang dijalankan meliputi patroli rutin, pemantauan titik‑titik rawan, serta sosialisasi kepada masyarakat sekitar hutan agar tidak melakukan pembakaran lahan.

Berikut beberapa langkah mitigasi yang disepakati dalam rapat:

  • Penguatan jaringan CCTV dan sensor suhu di area rawan kebakaran.
  • Peningkatan frekuensi patroli gabungan antara Polri, Perhutani, dan Satpol PP.
  • Penyuluhan intensif kepada petani dan warga tentang bahaya pembakaran lahan.
  • Pembentukan command center terintegrasi dari tingkat pusat hingga Polsek.
  • Penggunaan alutsista khusus pemadam kebakaran yang dapat dikerahkan secara cepat.

Seluruh pihak yang hadir sepakat bahwa keberhasilan pencegahan karhutla tidak dapat dicapai secara terpisah. Dibutuhkan komitmen bersama, alokasi sumber daya yang tepat, serta mekanisme respons yang terstruktur. Dengan langkah‑langkah yang telah direncanakan, diharapkan wilayah Kendal dapat mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan meski berada di bawah tekanan El Nino “Godzilla”.

Kesimpulannya, antisipasi El Nino “Godzilla” di Kendal menuntut sinergi maksimal antara aparat keamanan, lembaga pemerintah, dan masyarakat. Implementasi command center terpadu, optimalisasi teknologi pemantauan, serta edukasi berkelanjutan menjadi kunci utama untuk menghadapi musim kemarau yang diprediksi akan menjadi yang paling keras dalam beberapa dekade terakhir.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin penulis.