Puluhan Siswa Alami Keracunan Susu MBG di Kragan, Puskesmas Kragan II Tangani Kasus

Oleh Dedi Kurniawan 21 Apr 2026, 23:49 WIB 2 Views

MediaBlora – 21 April 2026 | Kragan, 21 April 2026 – Perayaan Hari Kartini yang seharusnya menjadi momentum penghargaan terhadap perempuan di wilayah Kragan berubah menjadi kepanikan setelah puluhan siswa diduga mengalami keracunan susu kemasan Makan Bergizi Gratis (MBG). Insiden tersebut melibatkan 24 anak dari kelas 2 dan kelas 6 Sekolah Dasar Negeri (SD) Balongmulyo, yang secara bersamaan mengalami gejala muntah, mual, dan kram perut setelah mengonsumsi susu MBG pada pagi hari.

Selama proses penanganan, dokter anak Puskesmas Kragan II, dr. Anita Wulandari, menyatakan bahwa gejala yang muncul konsisten dengan keracunan makanan ringan yang umumnya disebabkan oleh kontaminasi bakteri atau bahan kimia dalam produk susu. “Kami memberikan cairan elektrolit oral serta obat antiemetik untuk mengurangi rasa mual dan muntah. Seluruh pasien dipantau ketat selama 6 jam pertama, dan setelah kondisi stabil, mereka diizinkan pulang dengan saran istirahat dan pemantauan di rumah,” ujar dr. Anita.

Insiden ini terjadi bersamaan dengan program pemerintah daerah yang menyediakan susu MBG gratis kepada anak-anak sekolah sebagai bagian dari upaya meningkatkan gizi. Program tersebut diluncurkan pada awal tahun 2026 dan telah menjangkau lebih dari 5.000 siswa di wilayah Blora, termasuk di Kragan. Namun, kejadian ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai kualitas kontrol dan prosedur distribusi produk susu tersebut.

Pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Blora segera melakukan investigasi internal. Kepala Dinas Kesehatan, dr. Hadi Susanto, menegaskan bahwa sampel susu MBG yang dikonsumsi oleh siswa akan diuji laboratorium secara menyeluruh. “Kami akan mengirimkan sampel ke laboratorium independen untuk mengidentifikasi adanya patogen, kontaminan kimia, atau penyimpangan lain. Jika ditemukan pelanggaran standar, pihak produsen akan dikenai sanksi sesuai regulasi,” kata dr. Hadi dalam konferensi pers singkat.

  • 24 siswa SD N Balongmulyo mengalami gejala keracunan.
  • Gejala meliputi muntah, mual, kram perut, dan dehidrasi ringan.
  • Penanganan dilakukan oleh Puskesmas Kragan II dengan observasi dan cairan elektrolit.
  • Dinas Kesehatan akan melakukan uji laboratorium pada sampel susu MBG.
  • Program susu MBG gratis tetap berlanjut setelah evaluasi keamanan.

Warga dan orang tua siswa menyatakan keprihatinan mereka terhadap keamanan produk yang diberikan secara gratis. Salah satu orang tua, Budi Santoso, ayah dari salah satu korban, mengaku, “Kami mengandalkan program ini untuk menambah gizi anak, namun kini kami khawatir. Harap ada kejelasan dan tindakan cepat agar kejadian serupa tidak terulang.”

Pihak sekolah juga mengambil langkah preventif. Kepala Sekolah SD N Balongmulyo, Ibu Siti Maulani, menegaskan bahwa distribusi susu akan dihentikan sementara sampai hasil uji laboratorium keluar. “Kami akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan untuk memastikan bahwa setiap makanan atau minuman yang diberikan kepada siswa telah melewati standar keamanan yang ketat,” ujarnya.

Di sisi lain, produsen susu MBG, PT. Gizi Sejahtera, melalui juru bicara, Bapak Arif Prasetyo, menyatakan bahwa mereka selalu mematuhi standar keamanan pangan nasional. “Kami sangat menyesal atas insiden ini dan siap bekerja sama dengan otoritas untuk menyelidiki penyebabnya. Produk yang kami kirimkan telah melewati prosedur kontrol kualitas internal, dan kami akan menunggu hasil uji laboratorium untuk menilai langkah selanjutnya,” katanya.

Sejumlah ahli gizi dan keamanan pangan menilai pentingnya transparansi dalam proses distribusi produk makanan gratis. Dr. Rina Wijayanti, pakar gizi dari Universitas Diponegoro, menambahkan, “Program pemberian makanan gratis memang penting untuk mengatasi masalah gizi, tetapi harus diimbangi dengan audit independen secara periodik. Hal ini untuk menjamin bahwa tidak ada risiko kesehatan yang terlewatkan oleh pihak penyedia,” jelasnya.

Setelah menerima perawatan awal, semua siswa yang terpapar melaporkan perbaikan kondisi dalam 12 jam berikutnya. Tidak ada laporan tentang komplikasi lanjutan atau kematian. Namun, otoritas kesehatan menekankan pentingnya pemantauan lanjutan selama 48 jam ke depan untuk memastikan tidak ada gejala yang muncul kembali.

Kasus ini menjadi peringatan bagi semua pihak yang terlibat dalam program bantuan gizi, mulai dari pemerintah daerah, produsen, hingga institusi pendidikan. Kejadian serupa dapat dicegah dengan prosedur inspeksi yang lebih ketat, pelabelan produk yang jelas, serta edukasi kepada orang tua dan guru mengenai tanda-tanda keracunan makanan.

Dengan adanya penyelidikan yang sedang berjalan, diharapkan hasil uji laboratorium akan memberikan gambaran jelas tentang penyebab keracunan ini. Jika terbukti ada kelalaian dalam proses produksi atau distribusi, pihak berwenang berjanji akan mengambil tindakan hukum yang tegas demi melindungi kesehatan anak-anak di seluruh Indonesia.

Secara keseluruhan, meskipun insiden ini menimbulkan kepanikan singkat, respon cepat dari tim medis Puskesmas Kragan II serta koordinasi antara Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, dan pihak produsen menunjukkan komitmen untuk menanggulangi masalah kesehatan publik secara transparan dan bertanggung jawab. Diharapkan, setelah penyelidikan selesai, program MBG dapat kembali dilaksanakan dengan standar keamanan yang lebih tinggi, memastikan manfaat gizi tanpa menimbulkan risiko bagi generasi penerus.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin penulis.