Sport

Jejak Germany U19: Dari Skandal Shisha hingga Panggung Dunia Vitaly Janelt

A− A+

Media Blora – Sepak bola Jerman kembali menjadi sorotan, bukan hanya karena performa tim senior di ajang Nations League, tetapi juga karena kisah panjang perjalanan karier para pemain yang pernah memperkuat tim Germany U19. Salah satu nama yang paling menyita perhatian adalah Vitaly Janelt, gelandang bertahan Brentford yang kini dipanggil ke skuad senior Jerman di usia 28 tahun. Perjalanan Janelt menjadi bukti bahwa masa lalu kelam di level junior tidak selalu menjadi akhir segalanya.

Hampir sepuluh tahun lalu, tepatnya pada musim gugur 2016, Janelt yang saat itu memperkuat Germany U19 terlibat insiden disiplin yang menggemparkan. Bersama rekan setimnya di RB Leipzig, Idrissa Toure, ia diduga membawa pipa shisha ke kamar hotel saat pemusatan latihan menjelang kualifikasi Kejuaraan Eropa di Albania. Sebuah bekas terbakar ditemukan di kamar tersebut, memicu kemarahan pelatih Ralf Rangnick. Keduanya dikirim pulang lebih awal, dikeluarkan dari akademi dan asrama, dilarang mengikuti latihan serta pertandingan hingga akhir tahun, didenda, dan diwajibkan menjalani ratusan jam kerja sosial di sebuah tempat penitipan anak dari pukul tujuh pagi hingga tiga sore.

Baca juga:

Hukuman berat itu sempat memicu perdebatan publik. Janelt dan Toure bersikeras tidak membawa maupun menghisap shisha tersebut, dan menuding pemain lain termasuk talenta Borussia Dortmund, Felix Passlack, yang berada di kamar. Meski demikian, keduanya memang memiliki catatan disiplin yang kurang bersih, termasuk sering terlambat latihan dan memesan pizza ke asrama tanpa izin. Bertahun-tahun kemudian, Janelt mengaku telah belajar dari kesalahannya. Ia kini memiliki seorang putri kecil dan menilai setiap orang, terutama anak laki-laki, pasti tumbuh dan menjadi dewasa pada akhirnya.

Setelah insiden itu, Janelt mencoba membangun kembali kariernya bersama VfL Bochum di Bundesliga 2. Namun dalam tiga setengah tahun, ia hanya mencatat 54 penampilan dan gagal mengamankan tempat utama. Titik balik terjadi ketika ia bergabung dengan Brentford. Bersama klub London itu, ia menjelma menjadi salah satu gelandang bertahan paling andal di Premier League dengan 166 penampilan, 12 gol, dan dua laga terakhir sebagai kapten. Meski belum pernah tampil di Bundesliga maupun membela tim nasional senior, Janelt kini menjadi salah satu dari 11 wajah baru di skuad Jürgen Klopp dan berpeluang debut melawan Serbia.

Kisah Janelt bukan satu-satunya narasi menarik dari lingkaran Germany U19. Dalam laga terakhir pemusatan latihan di Spanyol, Ukraina U19 menutup turnamen dengan kemenangan dramatis 2-0 atas Skotlandia meski harus bermain dengan sembilan pemain. Oleksandr Tkachenko membuka keunggulan pada menit ke-9, disusul gol Yurii Kisak pada menit ke-63. Dua kartu merah diterima Yehor Sherstiuk pada menit ke-21 dan Oleksandr Diedov pada menit ke-40, menjadikan laga tersebut ujian ketangguhan mental dan disiplin. Sebelumnya, Ukraina asuhan Oleh Luzhnyi kalah 2-1 dari Swedia dan bermain imbang 0-0 melawan Jerman.

Baca juga:

Prestasi di level usia muda juga terus melahirkan talenta baru. Di Inggris, Reiss Russell-Denny, pemain berusia 20 tahun yang dijuluki magician oleh manajer Bristol Rovers Steve Evans, meniti karier dari akademi Chelsea sejak usia delapan tahun sebelum pindah ke Tottenham Hotspur. Ia sempat memenangkan Piala Premier League U18 dan Divisi Selatan U18. Kini ia bersinar di League Two bersama Bristol Rovers, klub yang juga menjadi tempat berkembangnya banyak pemain muda potensial.

Di cabang olahraga lain, semangat pembinaan usia muda juga terlihat di ajang Speedway. Robert Lambert, pembalap Inggris yang belajar mengaspal di Jerman pada usia 14 tahun bersama MSC Cloppenburg, akhirnya meraih gelar Juara Dunia Speedway. Ia sempat menjuarai Kejuaraan Eropa U19 pada 2017, lalu berkembang menjadi salah satu pembalap terbaik dunia dengan meraih medali perak pada 2024 dan akhirnya mengunci gelar juara dunia pada musim 2026. Kisah Lambert menegaskan bahwa Jerman kerap menjadi tempat persemaian bakat muda lintas disiplin olahraga.

Dari skandal masa remaja Janelt hingga ketangguhan Ukraina U19 dan lonjakan karier Russell-Denny, lini masa Germany U19 menyimpan banyak pelajaran berharga. Pembinaan usia muda bukan hanya soal bakat, tetapi juga soal disiplin, ketahanan mental, dan kesempatan kedua. Bagi para pemain muda, masa sulit di awal karier bisa menjadi batu loncatan menuju panggung dunia, asalkan ada kemauan untuk belajar dan bangkit kembali.

Baca juga:

Mungkin Anda Suka