Ekonomi

Harga Minyak Dunia Melonjak Tajam, Sanksi AS ke Iran Bikin Pasar Energi Dunia Gempar

Harga Minyak Dunia Melonjak Tajam, Sanksi AS ke Iran Bikin Pasar Energi Dunia Gempar
Harga Minyak Dunia Melonjak Tajam, Sanksi AS ke Iran Bikin Pasar Energi Dunia Gempar
Daftar Isi
  1. Penolakan Trump dan Dampaknya ke Pasar
  2. Pemulihan Pipa Arab Saudi Belum Redam Ketegangan
  3. Risiko Geopolitik dan Proyeksi Harga ke Depan
  4. Dampak bagi Perekonomian Global
A− A+

Media Blora – Harga minyak dunia kembali mencatatkan lonjakan tajam di tengah memanasnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Pasar energi global bergolak setelah Presiden AS Donald Trump secara tegas menolak proposal perdamaian yang diajukan Teheran, sekaligus memperkuat tekanan sanksi ekonomi terhadap negara tersebut. Situasi ini memicu kekhawatiran besar terhadap pasokan minyak mentah dunia dan mendorong harga ke level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.

Pada perdagangan Rabu, minyak mentah Brent untuk pengiriman November ditutup naik sekitar 1 persen menjadi US$ 103,53 per barel. Sementara itu, minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) juga menguat 1 persen ke level US$ 90,42 per barel. Sepanjang September, Brent telah menguat lebih dari 14 persen, sedangkan WTI naik lebih dari 5 persen, menandai salah satu periode paling volatil bagi pasar energi global tahun ini.

Baca juga:

Penolakan Trump dan Dampaknya ke Pasar

Lonjakan harga minyak dunia dipicu oleh penolakan Trump atas usulan damai yang disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB di New York. Dalam proposal tersebut, Teheran menawarkan untuk membuka kembali Selat Hormuz dan memulai kembali perundingan nuklir dalam waktu tujuh hari, dengan syarat Washington menghentikan apa yang disebut Teheran sebagai tindakan agresi, mencabut blokade laut, mengakhiri perang ekonomi, serta melepaskan aset-aset Iran yang dibekukan.

“Mereka mengajukan proposal, tetapi saya menolaknya,” ujar Trump kepada wartawan. Ia juga dikabarkan menyampaikan kepada para pembantunya bahwa operasi militer AS terhadap Iran diperkirakan akan berlanjut setelah pemilihan sela November mendatang.

Pejabat Iran secara tertutup menyatakan pesimistis tercapainya kesepakatan perdamaian dengan Washington dan pembukaan kembali Selat Hormuz sebelum pemilu paruh waktu AS. Ketidakpastian ini menjadi bahan bakar utama bagi spekulasi di pasar komoditas, di mana para pelaku pasar berlomba mengantisipasi potensi gangguan pasokan jangka panjang.

Pemulihan Pipa Arab Saudi Belum Redam Ketegangan

Di sisi lain, Arab Saudi berupaya meredam gejolak pasar dengan mengaktifkan kembali East-West Pipeline yang melintasi wilayahnya menuju pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Jalur pipa ini menjadi krusial karena memungkinkan pengiriman minyak tanpa melewati Selat Hormuz yang rawan konflik. Aliran minyak melalui jalur tersebut dilaporkan telah mencapai sedikitnya 3,5 juta barel per hari, atau sekitar setengah dari kapasitas normalnya, setelah sempat terhenti akibat serangan drone pada awal bulan.

Goldman Sachs memperkirakan ekspor minyak negara-negara Teluk telah pulih menjadi 23,3 juta barel per hari dalam sepekan terakhir. Angka tersebut sejalan dengan rata-rata 2025 setelah ekspor meningkat dua kali lipat pada September. Sementara itu, JPMorgan memperkirakan rata-rata ekspor minyak dalam 10 hari terakhir berada di level 20,5 juta barel per hari, atau sekitar 89 persen dari level tahun lalu.

Baca juga:

“Arus minyak mentah yang pulih seharusnya meredam tekanan harga yang dipicu pasokan, meskipun kekurangan produk yang terus berlangsung dan biaya angkutan yang tinggi kemungkinan membuat pasar energi secara keseluruhan tetap ketat,” kata analis bank Jepang MUFG.

Risiko Geopolitik dan Proyeksi Harga ke Depan

Chief Investment Officer Karobaar Capital LP, Haris Khurshid, menilai risiko geopolitik masih sangat besar, namun pasar telah belajar bahwa minyak mentah akan terus menemukan jalan untuk keluar. Menurutnya, Brent menghadapi risiko penurunan yang lebih besar dibandingkan potensi kenaikannya. Sebuah kesepakatan AS-Iran yang kredibel berpotensi memangkas harga minyak hingga US$ 15 per barel.

Namun, sejumlah indikator utama yang menunjukkan ketatnya pasokan justru melonjak dalam beberapa hari terakhir, menandakan tingginya permintaan terhadap minyak yang dapat dikirim dalam waktu cepat. Harga Brent telah naik lebih dari 70 persen sepanjang tahun ini, setelah konflik di Timur Tengah berlangsung lebih dari tujuh bulan.

Negara-negara produsen minyak yang tergabung dalam OPEC+ diperkirakan mempertahankan target produksi November saat bertemu pada Minggu mendatang. Keputusan ini akan menjadi penentu arah pasar energi global dalam beberapa pekan ke depan, terutama jika ketegangan AS-Iran terus berlanjut tanpa titik terang.

Dampak bagi Perekonomian Global

Kenaikan harga minyak dunia yang tajam ini membawa implikasi besar bagi perekonomian global, termasuk Indonesia. Sebagai negara net importir minyak, Indonesia berpotensi menghadapi tekanan pada neraca perdagangan dan anggaran subsidi energi. Biaya angkutan yang tinggi serta kekurangan produk olahan minyak juga dapat memicu inflasi di berbagai negara, terutama di kawasan Eropa yang sangat bergantung pada pasokan diesel.

Baca juga:

Rencana pembatasan ekspor diesel oleh Washington semakin memperkeruh situasi, dengan ancaman krisis pasokan bahan bakar minyak di kawasan Eropa. Pasar energi global kini berada di persimpangan antara risiko geopolitik yang membara dan upaya diplomatik yang masih belum menemukan titik terang.

Dengan mandeknya perundingan AS-Iran dan sanksi yang terus diperketat, harga minyak dunia diperkirakan tetap bergejolak dalam jangka pendek. Pelaku pasar akan terus mencermati setiap perkembangan diplomasi, keputusan OPEC+, serta kondisi pasokan dari kawasan Teluk yang menjadi barometer utama stabilitas energi global. Tanpa terobosan diplomatik yang nyata, tekanan terhadap harga minyak dunia diprediksi masih akan berlanjut dan menjadi ancaman serius bagi pemulihan ekonomi global.

Mungkin Anda Suka