Media Blora – Panggung internasional kembali menjadi medan yang sulit bagi Ousmane Dembélé. Pemain yang menyandang status Ballon d’Or itu tengah menjadi sorotan tajam setelah serangkaian penampilan kurang meyakinkan bersama Timnas Prancis di bawah asuhan pelatih baru, Zinédine Zidane. Pertanyaan pun muncul: apakah Piala Dunia 2026 hanya menjadi momen kebahagiaan sesaat bagi penyerang Paris Saint-Germain tersebut?
Sejak Zidane mengambil alih kursi kepelatihan dari Didier Deschamps, Dembélé tampak kesulitan menemukan ritme permainan terbaiknya. Padahal, pada Piala Dunia 2026 di Amerika Utara, ia tampil impresif dengan mencetak enam gol, sebuah pencapaian yang sempat meredam keraguan atas kualitasnya di level internasional. Turnamen tersebut seolah menjadi titik balik bagi pemain berusia 29 tahun itu, yang sebelumnya dikenal memiliki statistik jauh lebih baik di level klub dibandingkan bersama Les Bleus.
Namun, harapan itu perlahan memudar. Dalam tiga laga terakhir di bawah komando Zidane, Dembélé tampil jauh dari ekspektasi. Ia dimainkan sebagai penyerang tengah atau false nine dalam formasi 4-3-3, posisi yang sebenarnya ia tempati di PSG di bawah asuhan Luis Enrique. Sayangnya, peran tersebut belum mampu ia terjemahkan dengan baik di level tim nasional.
- 25 September: Prancis menang 1-0 atas Turki, Dembélé tampil sebagai starter namun minim kontribusi.
- 28 September: Prancis mengalahkan Belgia 1-0, Dembélé masuk sebagai pemain pengganti.
- 2 Oktober: Prancis ditahan imbang Italia 1-1 di Stade de France, Dembélé kembali menjadi starter dan mengenakan ban kapten.
Pada laga melawan Italia, ekspektasi terhadap Dembélé mencapai puncaknya. Dengan absennya Kylian Mbappé karena cedera, ia diharapkan menjadi pemimpin lini serang. Namun, alih-alih bersinar, pemain bernomor punggung 7 itu justru tampil tumpul. Ia tercatat beberapa kali melepaskan tembakan dari posisi yang kurang menguntungkan dan gagal memanfaatkan peluang emas di babak kedua, ketika sepakan keras Désiré Doué yang ditepis Gianluigi Donnarumma jatuh ke kakinya. Peluang di depan gawang itu terbuang sia-sia.
Kritik pun mengalir deras. Legenda sepak bola Prancis, Emmanuel Petit, menilai Dembélé mengalami kompleks tersendiri terhadap Mbappé. Menurutnya, Dembélé sulit menampilkan performa terbaik ketika berada di bawah bayang-bayang kapten timnas yang dianggap sebagai bintang utama. Petit bahkan menyebut bahwa di luar konteks PSG, Dembélé kerap kesulitan menunjukkan identitas permainannya.
Menariknya, Zidane justru memberikan pembelaan penuh kepada anak asuhnya. Dalam konferensi pers usai laga melawan Italia, ia dengan tegas membantah anggapan bahwa Dembélé tampil lebih baik di klub ketimbang di timnas. “Ousmane bermain sebagai Ousmane. Saya senang dengan apa yang ia lakukan. Ia banyak bergerak, sering keluar dari posisinya, dan itu yang kami butuhkan,” ujar Zidane. Ia juga menegaskan tidak memiliki keluhan berarti terhadap performa pemain yang pernah memperkuat Rennes dan Barcelona tersebut.
Dembélé sendiri mengaku nyaman dengan peran barunya di timnas. Ia menyatakan bahwa Zidane memberinya kebebasan untuk bergerak, menciptakan peluang, serta mencetak gol, mirip dengan perannya di PSG. “Pelatih ingin melihat semua pemain di posisi favoritnya. Saya bisa bermain di mana saja, tidak masalah bagi saya,” katanya.
Meski demikian, tekanan tetap membayangi. Dengan torehan 13 gol dalam 70 penampilan bersama timnas, catatan Dembélé memang jauh dari kata gemilang untuk ukuran seorang peraih Ballon d’Or. Sementara itu, Michael Olise justru tampil menonjol dengan mencetak gol ke gawang Belgia dan Italia, mencuri perhatian di lini depan Prancis.
Pertanyaannya kini, apakah Zidane akan tetap memberikan kepercayaan penuh kepada Dembélé, ataukah ia akan mengubah strategi dengan menggeser Mbappé ke sayap kiri dan menempatkan penyerang lain di posisi ujung tombak? Keputusan ini akan sangat menentukan arah lini serang Prancis menjelang turnamen-turnamen besar berikutnya.
Terlepas dari kritik yang ada, Dembélé masih memiliki waktu untuk membuktikan bahwa statusnya sebagai pemain terbaik dunia bukanlah kebetulan. Namun, ia harus segera menemukan konsistensi dan ketajaman bersama Les Bleus jika ingin mengubah narasi yang saat ini tengah berkembang. Sebab, di level tertinggi, penampilan gemilang di klub saja tidak akan cukup untuk mempertahankan gelar bergengsi yang telah ia raih.







