Media Blora – BAGHDAD – Dunia digegerkan oleh penggerebekan rumah seorang pejabat tinggi Irak yang diduga terlibat korupsi. Wakil Menteri Minyak Irak, yang tidak disebutkan namanya, menjadi sorotan setelah tim antikorupsi menemukan uang tunai senilai total Rp 228 miliar yang disembunyikan di dalam tembok rumahnya. Penemuan ini menambah daftar panjang skandal keuangan di negara yang tengah berjuang mengatasi krisis ekonomi dan politik.
Operasi penggerebekan berlangsung pada akhir pekan lalu di sebuah kawasan elite di Baghdad. Menurut sumber kepolisian setempat, tim gabungan dari Komisi Integritas Irak dan aparat keamanan menggerebek kediaman wakil menteri tersebut setelah menerima laporan intelijen tentang aliran dana tidak wajar. Ketika dilakukan penggeledahan, petugas menemukan beberapa rongga rahasia di dinding yang berisi tumpukan uang kertas dolar AS dan dinar Irak. Total nilai uang yang disita mencapai sekitar US$ 15 juta atau setara Rp 228 miliar (kurs Rp 15.200 per dolar AS).
“Kami menemukan uang tunai yang disembunyikan di balik lapisan tembok. Ini adalah modus yang jarang terungkap, namun menunjukkan betapa seriusnya upaya penyembunyian aset,” ujar seorang pejabat Komisi Integritas yang enggan disebutkan namanya. Hingga berita ini diturunkan, wakil menteri tersebut belum memberikan komentar resmi. Namun, ia dikabarkan telah dimintai keterangan oleh penyidik.
Penggerebekan ini terjadi di tengah situasi ekonomi Irak yang rapuh. Negara itu masih sangat bergantung pada pasokan uang tunai dolar dari Amerika Serikat untuk menopang likuiditas domestik. Sebelumnya, Washington sempat menghentikan pengiriman dolar ke Irak pada April lalu, termasuk satu pengiriman senilai sekitar US$ 500 juta. Langkah itu diambil untuk menekan Baghdad agar membatasi pengaruh kelompok bersenjata yang didukung Iran. Baru-baru ini, AS dan Irak mencapai kesepakatan untuk melanjutkan kembali pengiriman dolar setelah Irak memperketat pengawasan valuta asing dan memperluas pembayaran elektronik.
Meski demikian, kasus dugaan korupsi yang melibatkan pejabat tinggi ini menimbulkan pertanyaan besar tentang tata kelola keuangan di Irak. Pasalnya, cadangan devisa Irak disimpan dalam rekening khusus di Federal Reserve Bank of New York, dan setiap pengiriman tunai ke Irak seharusnya melalui mekanisme yang ketat. Jika benar wakil menteri minyak menyimpan uang tunai dalam jumlah fantastis, maka hal ini mengindikasikan kebocoran sistem yang serius.
Ekonom senior dari Universitas Baghdad, Dr. Ali Hassan, menilai temuan ini sebagai puncak gunung es. “Korupsi di sektor minyak dan energi telah lama menjadi masalah kronis. Uang tunai sebesar itu tidak mungkin berasal dari gaji pejabat. Ini harus diusut tuntas hingga ke jaringan yang lebih luas,” tegasnya saat dihubungi melalui sambungan telepon.
Transparansi Internasional menempatkan Irak pada peringkat 157 dari 180 negara dalam Indeks Persepsi Korupsi 2025. Skor Irak saat itu hanya 23 dari 100, menunjukkan bahwa korupsi masih merajalela di hampir semua lini pemerintahan. Penggerebekan ini pun menjadi ujian bagi komitmen Perdana Menteri Ali Faleh al-Zaidi yang baru saja melakukan kunjungan ke AS untuk memperbaiki hubungan bilateral dan mendorong reformasi ekonomi.
Sejumlah analis politik menilai bahwa kasus ini bisa memicu gejolak politik baru. Kelompok oposisi dan masyarakat sipil telah menyerukan agar wakil menteri tersebut segera diadili dan asetnya disita. Mereka juga mendesak pemerintah untuk melakukan audit menyeluruh terhadap pejabat di kementerian minyak, yang mengelola salah satu sumber pendapatan terbesar negara.
Di sisi lain, Kementerian Minyak Irak melalui juru bicaranya menyatakan akan bekerja sama penuh dengan penyidik. “Kami menghormati proses hukum dan tidak akan melindungi siapa pun yang terbukti melakukan korupsi,” kata juru bicara tersebut dalam pernyataan singkat kepada media.
Sementara itu, nilai tukar mata uang Iran, rial, yang juga terimbas ketegangan regional dan sanksi AS, anjlok ke level terendah dalam sejarah. Pada Senin (28/9/2026), rial menembus 2,4 juta per dolar AS di pasar bebas. Inflasi tahunan Iran mencapai 61,4%, dengan harga bahan pangan melonjak 128,1% year-on-year. Kondisi ini diperparah oleh kebijakan moneter ketat global yang membuat dolar AS semakin perkasa, termasuk terhadap rupiah Indonesia yang melemah ke Rp 17.855 per dolar AS pada 22 September 2026.
Bank Indonesia pun mengaku waspada terhadap fenomena higher for longer yang dapat memicu arus modal keluar dari negara berkembang. Gubernur BI Destry Damayanti menyatakan bahwa pihaknya akan terus menjaga stabilitas rupiah, salah satunya dengan mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75%. “Kita akan menghadapi tekanan dari kebijakan moneter global, terutama bagi emerging market,” ujarnya dalam rapat dengan Komisi XI DPR RI.
Kembali ke Irak, penggerebekan rumah wakil menteri minyak ini menjadi pukulan telak bagi upaya pemerintah membersihkan citra. Masyarakat Irak, yang telah lama menderita akibat minimnya layanan publik dan tingginya pengangguran, berharap kasus ini menjadi titik balik pemberantasan korupsi. Namun, tanpa reformasi sistemik dan penegakan hukum yang tegas, kekayaan negara yang disembunyikan di dalam tembok-tembok rumah pejabat bisa terus terjadi.
Hingga saat ini, penyidik masih mendalami asal-usul uang tersebut dan kemungkinan keterlibatan pihak lain. Komisi Integritas Irak berjanji akan mengumumkan perkembangan kasus ini secara berkala. Sementara wakil menteri minyak yang bersangkutan belum ditahan, tetapi telah dicekal untuk bepergian ke luar negeri. Publik menantikan langkah selanjutnya dari pemerintah Irak dalam menuntaskan skandal yang mencoreng nama baik kementerian strategis tersebut.








