Media Blora – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan signifikan sepanjang pekan perdagangan 28 September hingga 2 Oktober 2026. Meskipun MSCI memutuskan untuk mempertahankan status Indonesia di pasar emerging market, IHSG tetap terpuruk dengan penurunan mingguan sebesar 3,28% ke level 6.036,88 dari pekan sebelumnya 6.241,89. Bahkan, pada perdagangan intraday, IHSG sempat anjlok hingga 3,5% sebelum akhirnya sedikit memangkas koreksi.
Keputusan MSCI tersebut seharusnya menjadi katalis positif, namun sentimen global yang memburuk membuat pasar saham domestik tidak mampu bangkit. Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengungkapkan bahwa ada beberapa faktor yang menekan IHSG. “Pertama, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) yang sempat mencapai 5,3% untuk tenor 10 tahun, tertinggi sejak 2002,” ujar Herditya.
Kenaikan yield obligasi AS tersebut berdampak langsung pada negara-negara emerging market, termasuk Indonesia. Nilai tukar rupiah tertekan hingga menyentuh level 17.999 per dolar AS. “Dengan kenaikan ini, menekan negara-negara emerging market di mana nilai tukarnya cenderung tertekan terutama rupiah,” tambahnya.
Selain itu, aliran dana keluar (outflow) dari investor asing terus berlanjut. Selama sepekan, investor asing melakukan aksi jual saham mencapai Rp 5,03 triliun, lebih besar dari pekan sebelumnya Rp 3,15 triliun. Hal ini diperkirakan karena investor asing mulai mengurangi risiko terhadap aset di Indonesia.
Faktor internal juga turut memperburuk kinerja IHSG. Penerapan kebijakan batas bawah harga saham Rp 1 meningkatkan likuiditas tetapi juga meningkatkan volatilitas. Selain itu, reshuffle kabinet yang dilakukan pada Kamis (1/10/2026) membuat pasar mencermati rotasi kabinet yang terjadi.
Pada perdagangan Kamis (1/10/2026), IHSG ditutup merosot 1,02% ke level 6.009,50. Sebanyak 450 saham melemah, 206 saham menguat, dan 134 saham stagnan. Mayoritas sektor saham memerah, kecuali sektor energi yang naik 0,31%. Sektor teknologi mencatat koreksi terbesar, yaitu 3,93%.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan kapitalisasi pasar saham turun 2,55% menjadi Rp 10.627 triliun dari pekan sebelumnya Rp 10.905 triliun. Rata-rata volume transaksi harian saham meningkat 72,51% menjadi 50,37 miliar saham, sedangkan rata-rata nilai transaksi harian naik 5,4% menjadi Rp 12,63 triliun. Namun, rata-rata frekuensi transaksi harian merosot 7,54% menjadi 1,68 juta kali transaksi.
Di sisi lain, bursa global dan regional Asia juga bergerak terkoreksi. Harga minyak dunia melemah seiring pemulihan ekspor minyak Timur Tengah, dengan Brent turun 2,6% menjadi US$102,59 per barel dan WTI merosot 3,5% ke US$89,38 per barel. Investor juga mencermati pernyataan hawkish dari The Fed yang mengisyaratkan kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan sebelum akhir 2026.
Meskipun MSCI mempertahankan status Indonesia di emerging market, pasar masih diliputi ketidakpastian. Herditya menambahkan bahwa sentimen global masih cenderung memberatkan pergerakan IHSG, dengan yield obligasi AS di atas 5,2% dan outflow asing yang masih berlanjut.
Ke depan, pelaku pasar akan terus memantau perkembangan kebijakan moneter AS, pergerakan yield obligasi, serta stabilitas nilai tukar rupiah. Keputusan MSCI memang memberikan angin segar, tetapi tanpa perbaikan sentimen global dan domestik, IHSG masih berpotensi menghadapi tekanan jual. Investor disarankan untuk tetap waspada dan mencermati faktor-faktor risiko yang ada.







