Fokus Jepara – Debt collector telah menjadi topik hangat dalam beberapa waktu terakhir. Di Inggris, sebuah perusahaan energi besar, ScottishPower, baru-baru ini dikritik karena mengirim enam cek kepada pelanggan yang sudah meninggal. Pelanggan tersebut memiliki utang sebesar £130 pada akun gasnya. Keluarga pelanggan tersebut merasa terganggu karena perusahaan tidak segera menghentikan pengiriman cek dan surat tagihan.
Sementara itu, di Nigeria, Conoil Plc menghadapi masalah keuangan karena terjadi penurunan laba sebesar 77,1% pada tahun 2025. Perusahaan ini berencana untuk membagikan dividen sebesar N1,387 miliar, yang merupakan penurunan sebesar 42,9% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Di Bangladesh, pemerintah menghadapi risiko utang karena terjadi kekurangan pendapatan. Jika kekurangan pendapatan ini terus berlanjut, maka utang pemerintah dapat meningkat sebesar Tk12,34 lakh crore pada tahun 2029. Pemerintah berencana untuk mengintroduksi Surat Utang Negara Islamik untuk memperpanjang jangka waktu utang dan mengurangi risiko pembiayaan kembali.
Di Australia, Pioneer Credit Ltd (ASX: PNC) diprediksi dapat meningkat sebesar 47% karena perubahan pada kebijakan pembiayaan negatif dan pajak capital gain. Perusahaan ini dapat mendapatkan keuntungan dari perubahan ini karena dapat meningkatkan kemampuan mereka untuk mengumpulkan utang.
Dalam beberapa kasus, debt collector dapat menjadi kontroversial karena metode yang digunakan dapat dianggap tidak etis. Namun, perusahaan debt collector juga dapat menjadi strategi investasi yang efektif jika dilakukan dengan benar.








