Daftar Isi
Media Blora – GARUT – Musim kemarau yang berkepanjangan telah memicu kekeringan di sejumlah wilayah Kabupaten Garut, Jawa Barat. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut bergerak cepat dengan menyalurkan bantuan air bersih ke 13 kecamatan yang terdampak. Hingga saat ini, total air bersih yang telah didistribusikan mencapai 497 ribu liter.
Kepala BPBD Kabupaten Garut, Aah Anah, mengungkapkan bahwa bantuan tersebut disalurkan secara bertahap sejak awal kemarau. “Kami terus melakukan droping air bersih ke wilayah-wilayah yang mengalami kekeringan. Total sudah 497 ribu liter yang kami salurkan ke 13 kecamatan,” ujarnya saat ditemui di kantor BPBD, Selasa (23/9).
Penyebab Kekeringan
Kekeringan yang melanda Garut disebabkan oleh beberapa faktor. Selain curah hujan yang rendah, kerusakan lingkungan di kawasan hulu juga memperparah kondisi. Alih fungsi lahan dan penebangan liar membuat resapan air berkurang drastis. Akibatnya, sumur warga dan mata air mengering.
“Kami juga mengimbau masyarakat untuk bijak menggunakan air. Jangan sampai terjadi pemborosan di tengah krisis ini,” tambah Aah Anah.
Dampak bagi Warga
Krisis air bersih berdampak signifikan pada kehidupan sehari-hari warga. Di Kecamatan Cikajang, misalnya, ratusan keluarga terpaksa mengandalkan pasokan dari mobil tangki bantuan. Setiap hari, mereka antre untuk mendapatkan jatah air bersih.
“Sudah dua bulan ini kami kesulitan air. Sumur kering, jadi kami sangat bergantung pada bantuan dari pemerintah,” kata Iwan (45), warga Cikajang.
Selain untuk kebutuhan rumah tangga, air bersih juga dibutuhkan untuk peternakan dan pertanian. Sejumlah petani mengaku gagal panen karena lahan mereka kekeringan.
Upaya Penanganan
BPBD Garut tidak hanya menyalurkan air bersih, tetapi juga melakukan upaya lain seperti pembuatan sumur bor di titik-titik kritis. Pemerintah daerah juga berkoordinasi dengan instansi terkait untuk mengatasi akar masalah kekeringan.
“Kami sudah mengajukan proposal pembuatan sumur bor ke pemerintah pusat. Mudah-mudahan bisa segera direalisasikan,” jelas Aah Anah.
Selain itu, BPBD mengerahkan personel untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya konservasi air. Mereka juga mengajak warga untuk menanam pohon di sekitar sumber mata air.
Data Penyaluran Air Bersih
Berikut rincian penyaluran air bersih oleh BPBD Garut hingga September 2026:
| No | Kecamatan | Volume Air (liter) |
|---|---|---|
| 1 | Cikajang | 50.000 |
| 2 | Cisompet | 45.000 |
| 3 | Pameungpeuk | 40.000 |
| 4 | Cibalong | 35.000 |
| 5 | Mekarmukti | 30.000 |
| 6 | Caringin | 30.000 |
| 7 | Talegong | 25.000 |
| 8 | Bungbulang | 25.000 |
| 9 | Pakenjeng | 25.000 |
| 10 | Cikelet | 25.000 |
| 11 | Peundeuy | 25.000 |
| 12 | Singajaya | 22.000 |
| 13 | Banjarwangi | 20.000 |
| Total | 497.000 | |
Dari tabel di atas, terlihat bahwa Kecamatan Cikajang menerima pasokan air bersih paling banyak, yakni 50.000 liter. Sementara itu, Banjarwangi menerima paling sedikit, 20.000 liter. Perbedaan ini disesuaikan dengan tingkat kebutuhan dan jumlah penduduk di masing-masing wilayah.
Harapan dan Tantangan ke Depan
BPBD Garut berharap musim kemarau segera berakhir sehingga masyarakat dapat kembali mendapatkan air bersih secara mandiri. Namun, jika kemarau berlanjut, pihaknya siap menambah pasokan air bersih sesuai kebutuhan.
“Kami akan terus memantau perkembangan di lapangan. Jika diperlukan, kami akan menggelar operasi tanggap darurat kekeringan,” tegas Aah Anah.
Meski demikian, tantangan terbesar adalah keterbatasan armada tangki dan jarak tempuh yang jauh ke wilayah pegunungan. BPBD mengaku kesulitan menjangkau beberapa lokasi yang akses jalannya rusak.
“Kami butuh dukungan semua pihak, termasuk masyarakat, untuk menjaga lingkungan agar tidak terjadi kekeringan yang lebih parah di masa depan,” pungkasnya.
Krisis air bersih di Garut menjadi pengingat bahwa perubahan iklim dan kerusakan lingkungan memiliki dampak nyata bagi kehidupan. Upaya mitigasi dan adaptasi harus terus dilakukan, tidak hanya oleh pemerintah tetapi juga oleh seluruh elemen masyarakat. Dengan kerja sama yang baik, diharapkan bencana kekeringan dapat diminimalisir dan kesejahteraan warga tetap terjaga.








