Jateng

Kekeringan Meluas di Garut, BPBD Salurkan 497 Ribu Liter Air Bersih ke 13 Kecamatan

Kekeringan Meluas di Garut, BPBD Salurkan 497 Ribu Liter Air Bersih ke 13 Kecamatan
Kekeringan Meluas di Garut, BPBD Salurkan 497 Ribu Liter Air Bersih ke 13 Kecamatan
Daftar Isi
  1. Penyebab Kekeringan
  2. Dampak bagi Warga
  3. Upaya Penanganan
  4. Data Penyaluran Air Bersih
  5. Harapan dan Tantangan ke Depan
A− A+

Media Blora – GARUT – Musim kemarau yang berkepanjangan telah memicu kekeringan di sejumlah wilayah Kabupaten Garut, Jawa Barat. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut bergerak cepat dengan menyalurkan bantuan air bersih ke 13 kecamatan yang terdampak. Hingga saat ini, total air bersih yang telah didistribusikan mencapai 497 ribu liter.

Kepala BPBD Kabupaten Garut, Aah Anah, mengungkapkan bahwa bantuan tersebut disalurkan secara bertahap sejak awal kemarau. “Kami terus melakukan droping air bersih ke wilayah-wilayah yang mengalami kekeringan. Total sudah 497 ribu liter yang kami salurkan ke 13 kecamatan,” ujarnya saat ditemui di kantor BPBD, Selasa (23/9).

Baca juga:

Penyebab Kekeringan

Kekeringan yang melanda Garut disebabkan oleh beberapa faktor. Selain curah hujan yang rendah, kerusakan lingkungan di kawasan hulu juga memperparah kondisi. Alih fungsi lahan dan penebangan liar membuat resapan air berkurang drastis. Akibatnya, sumur warga dan mata air mengering.

“Kami juga mengimbau masyarakat untuk bijak menggunakan air. Jangan sampai terjadi pemborosan di tengah krisis ini,” tambah Aah Anah.

Dampak bagi Warga

Krisis air bersih berdampak signifikan pada kehidupan sehari-hari warga. Di Kecamatan Cikajang, misalnya, ratusan keluarga terpaksa mengandalkan pasokan dari mobil tangki bantuan. Setiap hari, mereka antre untuk mendapatkan jatah air bersih.

“Sudah dua bulan ini kami kesulitan air. Sumur kering, jadi kami sangat bergantung pada bantuan dari pemerintah,” kata Iwan (45), warga Cikajang.

Selain untuk kebutuhan rumah tangga, air bersih juga dibutuhkan untuk peternakan dan pertanian. Sejumlah petani mengaku gagal panen karena lahan mereka kekeringan.

Upaya Penanganan

BPBD Garut tidak hanya menyalurkan air bersih, tetapi juga melakukan upaya lain seperti pembuatan sumur bor di titik-titik kritis. Pemerintah daerah juga berkoordinasi dengan instansi terkait untuk mengatasi akar masalah kekeringan.

Baca juga:

“Kami sudah mengajukan proposal pembuatan sumur bor ke pemerintah pusat. Mudah-mudahan bisa segera direalisasikan,” jelas Aah Anah.

Selain itu, BPBD mengerahkan personel untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya konservasi air. Mereka juga mengajak warga untuk menanam pohon di sekitar sumber mata air.

Data Penyaluran Air Bersih

Berikut rincian penyaluran air bersih oleh BPBD Garut hingga September 2026:

No Kecamatan Volume Air (liter)
1 Cikajang 50.000
2 Cisompet 45.000
3 Pameungpeuk 40.000
4 Cibalong 35.000
5 Mekarmukti 30.000
6 Caringin 30.000
7 Talegong 25.000
8 Bungbulang 25.000
9 Pakenjeng 25.000
10 Cikelet 25.000
11 Peundeuy 25.000
12 Singajaya 22.000
13 Banjarwangi 20.000
Total 497.000

Dari tabel di atas, terlihat bahwa Kecamatan Cikajang menerima pasokan air bersih paling banyak, yakni 50.000 liter. Sementara itu, Banjarwangi menerima paling sedikit, 20.000 liter. Perbedaan ini disesuaikan dengan tingkat kebutuhan dan jumlah penduduk di masing-masing wilayah.

Harapan dan Tantangan ke Depan

BPBD Garut berharap musim kemarau segera berakhir sehingga masyarakat dapat kembali mendapatkan air bersih secara mandiri. Namun, jika kemarau berlanjut, pihaknya siap menambah pasokan air bersih sesuai kebutuhan.

“Kami akan terus memantau perkembangan di lapangan. Jika diperlukan, kami akan menggelar operasi tanggap darurat kekeringan,” tegas Aah Anah.

Baca juga:

Meski demikian, tantangan terbesar adalah keterbatasan armada tangki dan jarak tempuh yang jauh ke wilayah pegunungan. BPBD mengaku kesulitan menjangkau beberapa lokasi yang akses jalannya rusak.

“Kami butuh dukungan semua pihak, termasuk masyarakat, untuk menjaga lingkungan agar tidak terjadi kekeringan yang lebih parah di masa depan,” pungkasnya.

Krisis air bersih di Garut menjadi pengingat bahwa perubahan iklim dan kerusakan lingkungan memiliki dampak nyata bagi kehidupan. Upaya mitigasi dan adaptasi harus terus dilakukan, tidak hanya oleh pemerintah tetapi juga oleh seluruh elemen masyarakat. Dengan kerja sama yang baik, diharapkan bencana kekeringan dapat diminimalisir dan kesejahteraan warga tetap terjaga.

Mungkin Anda Suka