Membedah Pemikiran Al‑Akfani tentang Astronomi: Dari Hai’ah hingga Lima Cabang Ilmu

Oleh Yuli Astuti 18 Apr 2026, 15:48 WIB 0 Views

MediaBlora – 18 April 2026 | Al‑Akfani (w. 749 H/1348 M) dikenal sebagai salah satu intelektual Muslim yang mengkaji cara mengklasifikasikan ilmu pengetahuan pada masa keemasan Islam. Dalam karya monumentalnya Irsyād al‑Qāshid Ilā Asnā al‑Maqāshīd (Petunjuk Ringkas Kepada Kemilau Tujuan), sang ulama menaruh perhatian khusus pada bidang astronomi, yang ia sebut dengan istilah hai’ah. Tulisan ini menelusuri bagaimana definisi, ruang lingkup, dan pembagian cabang astronomi menurut Al‑Akfani mencerminkan kemajuan ilmu yang bersifat teoritis sekaligus praktis.

Pembagian benda langit ke dalam kategori superior dan inferior mengacu pada kosmologi klasik, di mana benda‑benda yang lebih tinggi (seperti bintang tetap) dianggap superior, sedangkan planet dan benda yang bergerak di atasnya dikategorikan inferior. Pandangan ini menegaskan bahwa Al‑Akfani tidak sekadar menyoroti bintang atau planet secara terpisah, melainkan memandang sistem langit secara holistik, termasuk keteraturan yang menghubungkan semua unsur di dalamnya.

Lebih lanjut, Al‑Akfani mengidentifikasi lima cabang utama dalam ilmu astronomi, yang masing‑masing menyoroti aspek praktis dan teoritis:

  • Ilmu Zij dan Penanggalan: Membahas tabel‑tabel astronomi (zij) serta sistem penanggalan yang dipakai untuk menghitung posisi benda langit, menyusun kalender, dan keperluan penentuan waktu.
  • Ilmu Penentuan Waktu (Mawāqīt): Fokus pada penetapan waktu berdasarkan posisi matahari atau benda langit lainnya, sangat vital bagi ritual ibadah seperti salat, puasa, dan shalat tarawih.
  • Ilmu Tata Cara Observasi (Kaifiyyāt al‑Arshād): Menguraikan metodologi pengamatan, teknik penggunaan alat, serta prosedur pencatatan data astronomi, menekankan pentingnya pendekatan empiris.
  • Ilmu Proyeksi Bumi (Tasthīh al‑Kurrah): Menjelaskan cara memetakan bentuk bulat bumi ke permukaan datar, menjembatani antara astronomi, geografi, dan kartografi.
  • Ilmu Alat Bayangan (Al‑Ālāt azh‑Zhilliyyah): Membahas instrumen yang memanfaatkan bayangan, seperti jam matahari dan alat ukur lainnya, untuk menentukan waktu atau arah.

Pembagian ini memperlihatkan bahwa pada masa Islam klasik, astronomi tidak lagi dipandang sekadar ilmu teoretis yang mengamati bintang di atas langit. Sebaliknya, ia telah menjadi ilmu multidisipliner yang berinteraksi erat dengan matematika, geografi, teknologi, serta kebutuhan sosial‑ekonomi masyarakat. Contohnya, penggunaan zij dan penanggalan berperan dalam penentuan hari raya, sementara alat bayangan membantu petani menentukan waktu tanam.

Signifikansi pemikiran Al‑Akfani terletak pada upaya mengintegrasikan teori dengan praktik. Dengan mengelompokkan astronomi ke dalam lima cabang, ia memberikan kerangka kerja yang sistematis bagi para ilmuwan dan praktisi masa depan. Kerangka ini tidak hanya memudahkan pendidikan, tetapi juga memfasilitasi inovasi alat ukur dan metode observasi yang lebih akurat.

Selain itu, konsep hai’ah yang mencakup seluruh spektrum benda langit mencerminkan kesadaran akan kompleksitas alam semesta. Pandangan ini selaras dengan tradisi ilmiah Islam yang selalu menekankan keseimbangan antara pengetahuan rasional dan keperluan praktis. Dengan demikian, kontribusi Al‑Akfani dapat dianggap sebagai salah satu tonggak penting dalam evolusi astronomi Islam, membuka jalan bagi karya ilmuwan selanjutnya seperti Al‑Bīrūnī, Al‑Tūsī, dan Ulugh Beg.

Pentingnya pemikiran ini tetap relevan hingga kini. Di era modern, ketika teknologi satelit dan observatorium ruang angkasa menjadi bagian integral kehidupan, prinsip‑prinsip dasar yang diusung oleh Al‑Akfani—yaitu integrasi teori, observasi, dan aplikasi praktis—masih menjadi landasan dalam pengembangan ilmu astronomi kontemporer.

Secara keseluruhan, Al‑Akfani mendefinisikan astronomi (hai’ah) sebagai ilmu yang mempelajari segala aspek benda langit, mulai dari bentuk hingga geraknya, serta membaginya menjadi lima cabang utama yang saling melengkapi. Pandangannya menegaskan bahwa astronomi pada masa Islam klasik telah melampaui sekadar spekulasi filosofis, menjelma menjadi disiplin yang aplikatif, memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, sekaligus memperkaya warisan ilmiah dunia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin penulis.