Pandangan Syaikh Ali Jum’ah: Harmoni Islam dengan Sains, Astronomi, dan Hisab Waktu Ibadah

Oleh Yuli Astuti 18 Apr 2026, 15:48 WIB 0 Views

MediaBlora – 18 April 2026 | Islam tidak memisahkan diri dari ilmu pengetahuan; sebaliknya, tradisi keagamaan mengajarkan umatnya untuk meneliti, merenungkan, dan memahami ciptaan Allah. Dalam perspektif Syaikh Prof. Dr. Ali Jum’ah, seorang ulama terkemuka asal Indonesia, tidak ada pertentangan antara sains modern dan ajaran syariah. Sebaliknya, ilmu pengetahuan, terutama astronomi, dipandang sebagai sarana untuk memperdalam penghayatan spiritual sekaligus meningkatkan akurasi pelaksanaan ibadah.

Berikut beberapa ayat yang dijadikan contoh dalam penjelasan Syaikh Jum’ah:

  • QS. Al‑Isra’ 17:12 – Menyebutkan keteraturan pergerakan matahari dan bulan sebagai bukti kebijaksanaan Allah.
  • QS. Yasin 36:38‑40 – Menggambarkan proses penciptaan dan pergerakan benda langit sebagai tanda-tanda yang dapat dipelajari.

Ayat‑ayat tersebut menegaskan bahwa alam semesta memiliki hukum-hukum yang dapat dipahami melalui ilmu pengetahuan. Karena itu, mempelajari astronomi tidak sekadar aktivitas ilmiah, melainkan bentuk tadabbur (perenungan) yang menambah kekhusyukan dalam beribadah.

Penggunaan ilmu falak dalam kehidupan sehari‑hari umat Islam sudah berlangsung sejak masa awal Islam. Perhitungan astronomis menjadi dasar penentuan waktu sholat, penetapan awal bulan Hijriah, serta penjadwalan ibadah lainnya. Pada masa lalu, muazin dan masyarakat mengandalkan pengamatan langsung terhadap bayangan matahari atau hilal (bulan sabit). Namun, seiring kemajuan teknologi, perhitungan astronomi modern menawarkan metode yang lebih akurat dan praktis.

Syaikh Ali Jum’ah menekankan bahwa perubahan ini tidak mengurangi nilai spiritual, melainkan memperkuat prinsip kemudahan (taysīr) dalam syariat Islam. Jadwal sholat yang dihasilkan dari perhitungan ilmiah memastikan umat dapat melaksanakan ibadah pada waktu yang tepat, tanpa harus menghabiskan waktu lama untuk mengamati fenomena alam secara manual. Hal ini juga membantu komunitas Muslim di wilayah yang mengalami kondisi cuaca ekstrem atau geografis yang menantang.

Berikut contoh aplikasi hisab astronomi dalam praktik ibadah:

  1. Penentuan waktu subuh dan imsak berdasarkan ketinggian matahari di bawah ufuk.
  2. Penghitungan waktu dhuha, zuhur, ashar, maghrib, dan isya dengan mempertimbangkan posisi matahari serta sudut cahaya senja.
  3. Penetapan awal bulan Ramadan dan Idul Fitri melalui perhitungan konjungsi dan fase bulan menggunakan data satelit.

Penggunaan alat bantu ilmiah ini tidak bermaksud menggantikan wahyu, melainkan melengkapi kemampuan manusia untuk menegakkan kewajiban ibadah dengan presisi. Syaikh Jum’ah menegaskan bahwa selama proses perhitungan tetap berlandaskan pada tujuan utama—yaitu menjaga ketepatan waktu ibadah—maka tidak ada konflik dengan prinsip-prinsip dasar syariat.

Keterbukaan Islam terhadap pengetahuan ilmiah tercermin pula dalam sejarah. Pada masa keemasan peradaban Islam, para ilmuwan Muslim seperti Al‑Bīrūnī, Al‑Zarqālī, dan Ibn Al‑Hāmid mengembangkan teori-teori astronomi yang kemudian menjadi dasar kalender Hijriah. Warisan ini menegaskan bahwa ilmu falak telah menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi keagamaan.

Di era digital saat ini, aplikasi penentu waktu sholat, kalender Hijriah, dan observatorium daring menyediakan data yang dapat diakses oleh umat di seluruh dunia. Dengan demikian, fleksibilitas syariat Islam semakin terwujud, menyesuaikan diri dengan dinamika modern tanpa mengorbankan nilai-nilai spiritual.

Kesimpulannya, pandangan Syaikh Prof. Dr. Ali Jum’ah menegaskan bahwa Islam dan sains, khususnya astronomi, berada dalam hubungan sinergis. Al‑Qur’an mengajak umat untuk meneliti alam, sementara ilmu falak memberikan alat praktis untuk melaksanakan ibadah secara tepat waktu. Pendekatan ini mencerminkan prinsip universalitas dan kemudahan dalam syariat, memungkinkan umat Islam untuk memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan tanpa mengabaikan esensi keagamaan. Dengan hisab astronomi, umat dapat menyeimbangkan antara kecerdasan intelektual dan kedalaman spiritual, menjadikan sains sebagai sarana untuk memperkuat keimanan, bukan sebagai ancaman terhadapnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin penulis.