Menag: Prabowo Gelar Safari Diplomasi Global untuk Redam Konflik Dunia

Oleh Slamet Widodo 16 Apr 2026, 06:27 WIB 0 Views

MediaBlora – 16 April 2026 | Menlu Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, sedang menjalankan rangkaian safari diplomasi ke beberapa negara strategis sebagai upaya meredam eskalasi konflik internasional melalui dialog. Kunjungan kerja Presiden ke Rusia dan Prancis pada pekan pertama April 2026 menjadi bukti konkret komitmen Jakarta dalam politik luar negeri bebas‑aktif, sekaligus menanggapi seruan ulama agar persoalan global, termasuk konflik Israel‑Palestina, diselesaikan secara kemanusiaan.

Dalam sambutannya pada Silaturahmi Nasional Ormas Islam dan Halal Bihalal Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Hotel Sultan, Jakarta, Nasaruddin menyampaikan, “Bapak Presiden Prabowo sangat aktif mengunjungi beberapa negara penting untuk merajut persamaan pandangan dan menyelesaikan persoalan secara dialogis.” Ia menambahkan bahwa diplomasi ini bertujuan mencegah dampak lebih luas, terutama korban jiwa dan kerugian material, yang dapat menimpa Indonesia sebagai negara mayoritas Muslim terbesar di dunia.

Rute diplomasi Presiden berawal dari Moskow, di mana Prabowo bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di Istana Kremlin pada 13 April 2026. Pertemuan tersebut menyoroti peningkatan kerja sama bilateral di bidang energi, antariksa, pertanian, industri, serta farmasi. Putin menyatakan kesiapan Rusia untuk memperluas kolaborasi, termasuk peluang pendidikan militer bagi tenaga pertahanan Indonesia. Prabowo menanggapi dengan menegaskan perlunya percepatan implementasi kerja sama di sektor‑sektor prioritas, khususnya energi dan ekonomi.

Setelah Moskow, Prabowo melanjutkan agenda ke Paris pada 14 April 2026 untuk bertemu Presiden Emmanuel Macron di Istana Élysée. Dialog kedua pemimpin menitikberatkan pada penguatan kerja sama pertahanan, energi terbarukan, infrastruktur, pendidikan, dan perubahan iklim. Kedua negara sepakat memperdalam kolaborasi teknologi bersih serta memperkuat jaringan logistik guna mengamankan pasokan energi Indonesia di tengah ketegangan geopolitik.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin melakukan kunjungan kerja paralel ke Amerika Serikat, bertemu dengan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth di Pentagon. Hasil pertemuan tersebut adalah penandatanganan Major Defense Cooperation Partnership (MDCP) yang mencakup tiga pilar utama: modernisasi militer, pendidikan dan pelatihan militer profesional, serta kerja sama operasional melalui latihan bersama seperti Super Garuda Shield. Brigjen Rico Ricardo Sirait menegaskan bahwa semua kerja sama berada dalam koridor politik luar negeri bebas‑aktif Indonesia dan tidak mengorbankan kedaulatan negara.

Para pakar geopolitik menilai kunjungan ini bukan sekadar agenda formal. Teguh Santosa, Direktur Great Institute, menyatakan bahwa diplomasi ini “selaras dengan politik bebas‑aktif kita; Indonesia tidak memihak, melainkan mengamankan kepentingan nasional.” Ia menolak anggapan bahwa langkah tersebut bertujuan menyeimbangkan hubungan dengan China, melainkan lebih pada memperkuat posisi strategis Indonesia di tengah konflik Iran‑Israel, ketegangan antara Rusia dan Barat, serta fluktuasi pasar energi global.

Pengamat militer Khairul Fahmi menambahkan bahwa kunjungan Prabowo ke Rusia dan Sjafrie ke AS menyiratkan pesan strategis tentang cara Indonesia membaca dinamika global. “Ada kunjungan yang tampak formal di permukaan, tetapi menyimpan pesan yang lebih dalam tentang bagaimana sebuah negara menyiapkan diri menghadapi zaman,” ujarnya. Ia menilai bahwa langkah ini penting untuk memastikan rantai pasok energi tetap stabil, menghindari dampak negatif pada perekonomian domestik, dan menjaga keamanan nasional.

Menag Nasaruddin juga menyoroti situasi dalam negeri yang relatif aman meski dunia berada dalam gejolak. “Indonesia belum menaikkan harga minyak, segala sesuatunya terkontrol,” katanya, mengutip pernyataan Ketua MPR. Imam Besar Masjid Istiqlal menutup pertemuan dengan harapan konflik global segera mereda dan tidak menimbulkan dampak pada kesejahteraan rakyat Indonesia.

Secara keseluruhan, safari diplomasi Presiden Prabowo mencerminkan tekad pemerintah untuk mengedepankan dialog, mengurangi risiko konflik, dan melindungi kepentingan nasional melalui pendekatan multilateral. Upaya ini didukung kuat oleh ulama, ormas Islam, serta lembaga pertahanan, menandakan sinergi lintas sektoral dalam menghadapi tantangan global.

Dengan menegaskan kembali prinsip bebas‑aktif, Indonesia berupaya menjadi suara moderasi yang didengar dunia, sekaligus menjaga stabilitas ekonomi, energi, dan keamanan dalam negeri.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin penulis.