Sarif Abdillah Dukung Ruwatan Silayur, Dorong Warga Pelihara Warisan Spiritual dan Budaya
MediaBlora – 16 April 2026 | SEMARANG, Kabar Jateng – Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Tengah, Sarif Abdillah, menyampaikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan ruwatan silayur yang dijadwalkan akan berlangsung dalam beberapa minggu ke depan. Acara tradisional yang mengusung nilai spiritual ini, menurutnya, menjadi salah satu pilar penting dalam menjaga identitas budaya masyarakat Semarang serta memperkuat rasa kebersamaan antarwarga.
Ruwatan silayur, sebuah upacara bersih-bersih yang melibatkan ritual pembersihan diri secara simbolis, biasanya dilaksanakan oleh komunitas setempat pada saat musim hujan tiba. Upacara tersebut tidak hanya berfungsi sebagai sarana membersihkan diri secara fisik, namun juga menjadi momentum refleksi spiritual, mengingatkan masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan hati dan pikiran.
Dalam pernyataan resmi yang disampaikan pada Senin (12 April 2024), Sarif Abdillah menegaskan pentingnya melestarikan tradisi tersebut di tengah arus modernisasi yang kerap menurunkan nilai‑nilai kearifan lokal. “Ruwatan silayur bukan sekadar ritual, melainkan cerminan nilai spiritual yang telah diwariskan turun‑temurun oleh nenek‑nenek kita. Pemerintah daerah harus memberikan ruang dan dukungan agar tradisi ini dapat terus hidup dan relevan bagi generasi muda,” ujar Abdillah.
Abdillah menambahkan bahwa dukungan pemerintah tidak hanya terbatas pada perizinan, melainkan juga meliputi penyediaan fasilitas kebersihan, keamanan, serta promosi edukatif. “Kami berkomitmen menyalurkan alokasi anggaran untuk memperbaiki sarana publik di lokasi pelaksanaan, seperti penyediaan tempat sampah, sanitasi, serta pengamanan selama acara berlangsung,” ujarnya.
Ruwatan silayur tahun ini diproyeksikan akan melibatkan lebih dari 2.000 warga, termasuk tokoh agama, pemuka adat, serta perwakilan organisasi kemasyarakatan. Acara dimulai dengan prosesi penyucian air sungai yang akan dijadikan media dalam upacara, dilanjutkan dengan pembacaan doa bersama, dan diakhiri dengan penyerahan simbolik silayur yang telah dibersihkan kepada para peserta.
Berikut rangkaian kegiatan yang direncanakan:
- Penyucian sungai oleh para tokoh adat dan pemuka agama.
- Pemaparan sejarah dan makna ruwatan silayur oleh sejarawan lokal.
- Pelaksanaan ritual pembersihan diri secara simbolis menggunakan air suci.
- Pertunjukan seni tradisional, termasuk tari-tarian dan musik gamelan.
- Dialog interaktif mengenai pelestarian nilai spiritual di era digital.
Selain menyoroti nilai kebudayaan, Abdillah juga menekankan pentingnya peran serta generasi muda dalam menjaga kelestarian tradisi. “Kami mengajak pelajar, mahasiswa, dan anak‑anak muda untuk aktif berpartisipasi, tidak hanya sebagai penonton, melainkan sebagai pelaku yang memahami makna di balik setiap gerakan dan doa,” tandasnya.
Pemerintah Kota Semarang, melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, telah menyiapkan program edukasi di sekolah‑sekolah setempat yang mencakup materi tentang ruwatan silayur. Program ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa kebanggaan terhadap warisan budaya, sekaligus menurunkan angka kealpaan generasi muda terhadap tradisi lokal.
Pengamat budaya, Dr. Hadi Prasetyo, menyambut positif inisiatif tersebut. Menurutnya, upaya kolaboratif antara pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat merupakan kunci utama dalam menjaga relevansi tradisi di tengah tantangan globalisasi. “Ketika tradisi dijalankan dengan makna yang tepat, ia tidak hanya menjadi warisan, melainkan juga sumber inspirasi bagi inovasi budaya masa depan,” jelasnya.
Di sisi lain, beberapa warga mengungkapkan kekhawatiran terkait potensi penurunan kebersihan lingkungan pasca‑acara. Menanggapi hal tersebut, Abdillah menegaskan komitmen untuk melakukan pembersihan menyeluruh setelah ruwatan selesai, serta mengajak seluruh warga untuk berpartisipasi dalam program kebersihan berkelanjutan.
Ruwatan silayur kali ini dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, dimulai pada tanggal 20 April hingga 22 April 2024, di kawasan kawasan tradisional Kota Semarang yang dikenal dengan sebutan “Kampung Silayur”. Seluruh rangkaian acara terbuka untuk umum tanpa biaya masuk, dengan harapan dapat menjangkau lapisan masyarakat yang luas.
Dengan dukungan penuh dari Wakil Ketua DPRD Jateng, Sarif Abdillah, diharapkan ruwatan silayur tidak hanya menjadi sekadar perayaan tahunan, melainkan juga menjadi platform edukatif yang menegaskan kembali pentingnya nilai‑nilai spiritual, kebersamaan, dan pelestarian budaya dalam kehidupan modern. Keberhasilan acara ini akan menjadi contoh bagi daerah lain dalam mengintegrasikan tradisi ke dalam agenda pembangunan berkelanjutan.
Dengan demikian, ruwatan silayur tahun ini tidak sekadar sebuah ritual kebersihan, melainkan sebuah panggilan untuk menghidupkan kembali semangat kebersamaan, kepercayaan pada nilai‑nilai luhur, dan komitmen bersama dalam menjaga warisan budaya yang menjadi identitas sejati masyarakat Semarang.
Komentar (0)