Janji yang Tertinggal di Kursi Roda: Perjuangan Maliyah, Jemaah Haji Tegal yang Menyongsong Baitullah Tanpa Suami
MediaBlora – 22 April 2026 | Di bawah cahaya temaram Gedung Muzdalifah, Embarkasi Solo, seorang wanita berusia 75 tahun duduk tegak di kursi roda. Namanya Maliyah, asal Margasari, Kabupaten Tegal, yang kini tengah menanti panggilan suci menunaikan rukun haji kelima. Sorot matanya memancarkan campuran haru, rindu, dan rasa syukur yang mendalam, menandai akhir penantian selama lebih dari satu dekade.
Keberangkatan kloter pertama jemaah haji Jawa Tengah pada Selasa (21/4/2026) malam menjadi saksi bisu perjuangan Maliyah. Sebelumnya, hanya beberapa hari menjelang jadwal terbang, ia sempat dirawat di rumah sakit karena kondisi kesehatan yang menurun. “Senin kemarin sempat opname, tetapi alhamdulillah Allah beri kesembuhan. Tadi dicek lagi, hasilnya sudah bagus,” ucapnya dengan suara serak namun penuh semangat.
Keinginan kuat Maliyah untuk menunaikan ibadah haji tidak hanya didorong oleh keinginan spiritual, melainkan juga oleh janji yang pernah ia buat bersama suaminya yang telah tiada. Empat atau lima tahun lalu, sang suami, yang setia menabung sejak awal pendaftaran, meninggal dunia. Pada saat itu, keduanya berencana mendaftar bersama, namun kursi di sampingnya kini kosong. “Dulu daftar berdua dengan suami, tapi Bapak sudah meninggal beberapa tahun lalu,” kenangnya singkat.
Meski tanpa pendamping, Maliyah tidak berjuang sendirian. Menantu perempuan yang setia selalu berada di sisinya, membantu mendorong kursi roda melewati lorong-lorong embarkasi. Dukungan keluarga ini menjadi faktor penting agar Maliyah dapat melaksanakan rukun haji dengan nyaman, meski harus menempuh perjalanan dengan keterbatasan fisik.
Data resmi menunjukkan bahwa Maliyah merupakan salah satu dari 1.706 jemaah prioritas lansia Jawa Tengah yang berangkat tahun ini. Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah, Yunita Dyah Kusminar, menjelaskan bahwa jemaah senior menerima perhatian khusus melalui asesmen medis yang ketat. “Setiap jemaah lansia menjalani pemeriksaan menyeluruh untuk memastikan mereka dalam kondisi sehat sampai kembali ke tanah air,” ujar Kusminar.
Keberangkatan Maliyah sekaligus menegaskan bahwa usia dan keterbatasan fisik bukanlah halangan bagi mereka yang mendengar panggilan suci. Di tengah hiruk-pikuk keberangkatan, sorotan media menyoroti betapa pentingnya kebijakan inklusif bagi jemaah haji lansia, termasuk penyediaan kursi roda, fasilitas medis di embarkasi, serta pendampingan keluarga.
Di sisi lain, perjalanan Maliyah juga mengangkat isu sosial tentang peran perempuan senior dalam tradisi keagamaan. Dalam budaya Jawa, perempuan sering kali dipandang sebagai penjaga nilai-nilai keluarga, namun keberanian Maliyah menembus batas tersebut, menegaskan bahwa ibadah haji dapat diakses oleh semua lapisan usia, asalkan ada dukungan sistemik.
Para pejabat setempat menilai keberhasilan keberangkatan Maliyah sebagai bukti komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam memprioritaskan kesehatan jemaah haji. Selain pemeriksaan medis, panitia haji juga menyiapkan fasilitas rehabilitasi ringan di embarkasi, serta tim medis yang siap sedia 24 jam. Semua ini bertujuan memastikan setiap jemaah, termasuk yang berada dalam kondisi fisik rapuh, dapat melaksanakan ibadah dengan tenang.
Namun, tantangan tetap ada. Banyak jemaah lansia mengeluhkan kurangnya fasilitas transportasi khusus di daerah asal mereka, yang sering kali membuat proses pendaftaran dan persiapan menjadi beban tambahan. Pemerintah daerah diharapkan dapat meningkatkan infrastruktur transportasi bagi lansia, termasuk penyediaan kendaraan ber-AC dan layanan ambulans khusus selama fase persiapan haji.
Pengalaman Maliyah memberikan pelajaran penting bagi komunitas Muslim di Tegal dan sekitarnya. Ia menunjukkan bahwa tekad, dukungan keluarga, dan kebijakan pemerintah yang responsif dapat mengatasi rintangan fisik. Bagi warga Margasari, kepergian Maliyah ke Tanah Suci bukan sekadar memenuhi kewajiban agama, melainkan juga pemenuhan janji yang telah lama tertunda.
Setibanya di Tanah Suci, Maliyah berharap dapat bersujud di depan Ka’bah bersama para sahabat sebayanya, mengucapkan terima kasih atas kesempatan yang diberikan, dan menutup bab panjang penantian. “Saya ingin berdoa untuk suami, agar beliau juga dapat bersama saya di sana,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Dengan semangat yang tidak pernah padam, Maliyah menginspirasi generasi selanjutnya untuk tidak menyerah pada keterbatasan. Kisahnya menjadi contoh nyata bahwa iman, ketabahan, dan dukungan sosial dapat menaklukkan segala rintangan, menjadikan haji bukan sekadar impian, melainkan realitas yang dapat dicapai di usia senja.
Komentar (0)