Ekonomi

Rupiah Melemah, Menghadapi Tantangan Inflasi dan Ketegangan Geopolitik

Rupiah Melemah, Menghadapi Tantangan Inflasi dan Ketegangan Geopolitik
Rupiah Melemah, Menghadapi Tantangan Inflasi dan Ketegangan Geopolitik
A− A+

Fokus Jepara – Rupiah terus mengalami fluktuasi dalam beberapa pekan terakhir, dengan nilai tukar yang kadang-kadang menembus level Rp 18.000 per dolar AS. Meskipun demikian, upaya pemerintah untuk mengendalikan inflasi dinilai membantu menopang penguatan rupiah. Pada penutupan perdagangan Kamis (16/7/2026), rupiah menguat 82 poin atau 0,45 persen ke posisi Rp 17.986 per dolar AS.

Menurut pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, penguatan rupiah terjadi seiring upaya pemerintah mengendalikan inflasi. Pemerintah sedang mempersiapkan langkah-langkah fiskal dan pasar untuk mengendalikan inflasi, khususnya pada komoditas pangan yang volatil dan meningkatnya biaya industri.

Baca juga:

Bank Indonesia (BI) juga mengklaim independensinya diakui oleh lembaga pemeringkat global. Hal tersebut menyusul laporan S&P Global Ratings mengenai peringkat utang dan outlook Indonesia. Independensi BI menjadi salah satu aspek yang disorot oleh dua lembaga pemeringkat, yakni Moody’s dan Fitch Ratings.

Selain itu, dinamika konflik geopolitik di Timur Tengah masih menjadi sentimen terkuat yang memengaruhi pergerakan rupiah. Presiden AS Donald Trump dikabarkan kembali memberlakukan blokade angkatan laut terhadap seluruh pelabuhan Iran. Sementara itu, Iran melancarkan serangan balasan terhadap infrastruktur AS di kawasan tersebut.

Baca juga:

Kenaikan ketegangan dalam beberapa hari terakhir telah meningkatkan keraguan bahwa nota kesepahaman yang ditandatangani bulan lalu akan mengarah pada penghentian permanen perang yang telah melanda negara-negara tetangga Iran. Data Indeks Harga Konsumen (IHK) AS pada Juli 2026 tercatat turun dari 4,2 persen menjadi 3,5 persen secara tahunan, lebih rendah dibandingkan perkiraan sebesar 3,8 persen.

Rupiah masih berada di atas level psikologis Rp 18.000 per dolar AS dalam sepekan terakhir. Fluktuasi rupiah terjadi seiring kembali memanasnya eskalasi konflik di Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS) dan Iran setelah sempat terjadi “perdamaian semu”. Rupiah kembali menembus level Rp 18.000 pada Rabu (8/7/2026), tepatnya di posisi Rp 18.005 per dolar AS.

Baca juga:

Untuk menghadapi tantangan inflasi dan ketegangan geopolitik, pemerintah perlu terus memantau situasi dan mengambil langkah-langkah yang tepat untuk menstabilkan perekonomian. Dengan demikian, rupiah dapat kembali menguat dan meningkatkan kepercayaan investor.

Mungkin Anda Suka