Fokus Jepara – Harga Pertamax masih bertahan di level Rp16.250 per liter meskipun harga minyak dunia telah mengalami penurunan. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang alasan di balik kenaikan harga BBM nonsubsidi tersebut.
Menurut pakar ekonomi, harga BBM nonsubsidi tidak hanya ditentukan oleh pergerakan harga minyak mentah dunia, tetapi juga mempertimbangkan formula penetapan harga, nilai tukar rupiah, biaya distribusi, serta strategi menjaga stabilitas harga.
Ekonom Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyakti, mengatakan bahwa keputusan mempertahankan harga Pertamax sebesar Rp16.250 per liter pada Juli 2026 masih sesuai dengan perhitungan ekonomi. Menurutnya, kebijakan tersebut merupakan bagian dari strategi price smoothing atau penghalusan harga yang selama ini diterapkan Pertamina.
Yayan menjelaskan bahwa harga BBM nonsubsidi tidak semata mengikuti pergerakan harga minyak mentah dunia. Penentuan harga juga mempertimbangkan formula pemerintah serta strategi bisnis Pertamina. Berdasarkan model perhitungannya, harga Pertamax diperkirakan memang belum akan berubah dalam waktu dekat.
Untuk Agustus 2026, formula dasar mengarah pada harga sekitar Rp13.700 per liter. Namun, dengan pendekatan price smoothing, harga diperkirakan berada di kisaran Rp16.000 per liter atau tidak jauh berbeda dari harga saat ini.
Menurut Yayan, apabila Pertamax langsung diturunkan mengikuti formula, dampak utamanya adalah penurunan inflasi sekitar 0,4 poin persentase dalam tiga bulan. Sebaliknya, apabila harga dipertahankan, manfaat pelemahan harga minyak dunia lebih banyak digunakan untuk memulihkan margin Pertamina, sementara beban subsidi pemerintah terhadap Pertalite dan Solar tetap menjadi komponen terbesar dalam anggaran.
Pakar kebijakan publik Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Kristian Widya Wicaksono, mengatakan bahwa harga BBM tidak hanya ditentukan oleh harga minyak mentah dunia, tetapi juga dipengaruhi berbagai komponen biaya. Menurutnya, keputusan mempertahankan harga Pertamax masih dapat dibenarkan sepanjang didasarkan pada perhitungan yang komprehensif dan disampaikan secara terbuka kepada masyarakat.
Kesimpulan dari penjelasan para pakar adalah bahwa harga Pertamax masih mahal karena mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk formula penetapan harga, nilai tukar rupiah, biaya distribusi, serta strategi menjaga stabilitas harga. Oleh karena itu, penurunan harga minyak dunia tidak selalu harus langsung diikuti dengan penurunan harga jual di dalam negeri.








