Mitos Bulan Apit Ditepis: Tradisi Walimatul Khitan di Margadana, Tegal Menjadi Sorotan

Oleh Dedi Kurniawan 20 Apr 2026, 11:47 WIB 2 Views

MediaBlora – 20 April 2026 | Kota Tegal, Jawa Tengah – Masyarakat Jawa memiliki beragam kepercayaan tradisional yang terkadang menimbulkan mitos tentang bulan-bulan tertentu. Salah satu yang paling dikenal adalah kepercayaan bahwa bulan Apit atau Hapit, yang biasanya jatuh pada pertengahan tahun, dianggap tidak menguntungkan untuk melangsungkan acara penting seperti pernikahan atau khitanan. Meskipun demikian, warga Kelurahan Margadana di Tegal menolak menuruti mitos tersebut dan menggelar walimatul khitan pada bulan yang sama, menimbulkan perbincangan hangat di kalangan masyarakat setempat.

Bulan Apit, menurut tradisi lisan, disebut juga “bulan terlarang” karena dipercaya menimbulkan nasib sial atau mengganggu kelancaran upacara adat. Kepercayaan ini bersumber dari penafsiran kalender Jawa yang mengaitkan bulan tersebut dengan peristiwa-peristiwa kurang menguntungkan dalam sejarah lokal. Beberapa orang tua di wilayah Jawa Tengah masih mempercayai bahwa melaksanakan acara penting pada bulan Apit dapat mengundang kesialan, menimbulkan masalah kesehatan, atau bahkan mengganggu kelancaran prosesi.

Namun, di Margadana, sebuah kelurahan yang terletak di pinggiran Kota Tegal, warga memutuskan untuk menantang kepercayaan lama tersebut. Pada akhir pekan lalu, mereka menyelenggarakan walimatul khitan untuk beberapa anak laki-laki dari keluarga setempat, sekaligus merayakan kebersamaan komunitas. Upacara itu berlangsung dengan khidmat, melibatkan tokoh agama, tokoh adat, serta sejumlah warga yang hadir untuk memberikan dukungan moral dan material.

Berikut ini rangkaian acara yang dilaksanakan pada hari walimatul khitan di Margadana:

  • Pembukaan dengan doa bersama yang dipimpin oleh ulama setempat, memohon kelancaran dan keselamatan bagi anak yang akan dikhitan.
  • Penjelasan singkat mengenai makna khitan dalam Islam serta pentingnya melestarikan tradisi kebersamaan dalam keluarga.
  • Pelaksanaan khitan oleh dokter spesialis yang berpengalaman, dengan standar kebersihan dan keamanan yang ketat.
  • Doa syukur setelah proses khitan selesai, diikuti dengan pemberian hadiah dan makanan tradisional kepada para tamu.
  • Acara hiburan berupa penampilan musik tradisional dan pertunjukan seni budaya yang menampilkan nilai-nilai lokal.

Para orang tua yang mengadakan walimatul khitan menyatakan bahwa keputusan mereka untuk tetap melangsungkan acara pada bulan Apit didorong oleh keyakinan bahwa kepercayaan tradisional tidak boleh menghalangi kemajuan dan kebahagiaan keluarga. Salah satu ibu, Ibu Siti Nurhalimah, menjelaskan, “Kami menghormati tradisi, namun tidak membiarkan mitos mengendalikan keputusan penting dalam hidup kami. Khitan adalah ibadah, dan kami ingin melaksanakannya tanpa rasa takut akan nasib buruk yang tidak terbukti secara ilmiah.”

Reaksi masyarakat setempat pun beragam. Sebagian warga yang masih memegang teguh kepercayaan lama menyatakan keprihatinan, namun pada akhirnya menghormati keputusan keluarga yang bersangkutan. Seorang tetangga, Bapak Joko Susilo, mengaku, “Awalnya saya ragu, namun melihat proses yang aman dan lancar, saya menjadi percaya bahwa tidak ada yang salah dengan melaksanakan acara pada bulan Apit.”

Sementara itu, tokoh agama dan tokoh adat setempat memberikan dukungan moral yang signifikan. Ulama yang memimpin doa menegaskan bahwa khitanan adalah amal yang dianjurkan dalam Islam dan tidak terikat pada penanggalan tertentu dalam kalender Jawa. Begitu pula, tokoh adat menekankan pentingnya menyesuaikan tradisi dengan kebutuhan zaman, agar nilai-nilai kebersamaan tetap terjaga tanpa terperangkap dalam mitos yang tidak berdasar.

Secara ekonomi, walimatul khitan ini juga memberikan dampak positif bagi usaha lokal. Penjual makanan tradisional, pedagang souvenir, serta penyedia perlengkapan khitan memperoleh pendapatan tambahan dari acara tersebut. Hal ini menjadi bukti bahwa tradisi yang diadaptasi secara modern dapat menjadi motor penggerak ekonomi mikro di tingkat kelurahan.

Penelitian singkat yang dilakukan oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tegal mencatat bahwa kepercayaan terhadap bulan Apit mulai berkurang pada generasi muda, terutama setelah paparan pendidikan modern dan informasi digital. Data tersebut menunjukkan adanya pergeseran paradigma yang memungkinkan masyarakat mengintegrasikan nilai-nilai tradisional dengan pendekatan rasional berbasis fakta.

Keberhasilan walimatul khitan di Margadana tidak hanya menjadi simbol penolakan terhadap mitos, tetapi juga menegaskan pentingnya dialog antar generasi dalam memelihara budaya. Dengan menggabungkan nilai-nilai keagamaan, adat, dan pengetahuan ilmiah, komunitas dapat menciptakan lingkungan yang inklusif dan progresif.

Secara keseluruhan, peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat Jawa pada umumnya. Menghormati tradisi tidak harus berarti terjebak dalam kepercayaan tak berdasar yang dapat menghambat perkembangan. Dengan membuka ruang diskusi dan mengedepankan fakta, warga dapat mengambil keputusan yang lebih bijaksana, sekaligus tetap menjaga identitas budaya mereka.

Walimatul khitan di Margadana menutup babak baru dalam penafsiran kembali mitos bulan Apit. Keberanian warga setempat untuk menantang kepercayaan lama sekaligus melaksanakan ibadah penting menunjukkan bahwa tradisi dapat hidup berdampingan dengan kemajuan, asalkan didasari oleh rasa hormat, pengetahuan, dan kebersamaan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin penulis.