Gubernur Luthfi dan Gus Yasin Gandeng Nahdliyin, Dorong Pembangunan Berkarakter di Jawa Tengah
MediaBlora – 20 April 2026 | Semarang – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi bersama Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin) menegaskan kembali pentingnya peran kiai, ulama, dan nahdliyin dalam memperkuat karakter daerah. Pernyataan itu disampaikan pada acara Halalbihalal Ngumpulke Balung Pisah warga Nahdlatul Ulama (NU) se‑Jawa Tengah yang berlangsung pada Minggu malam, 19 April 2026. Dalam suasana santai namun penuh makna, Luthfi menekankan bahwa pembangunan tidak sekadar program, melainkan memerlukan kepemimpinan yang berani, berkarakter, dan berlandaskan nilai‑nilai keagamaan.
Dengan jabatan gubernur, Luthfi bertekad memperluas jaringan kerjasama tersebut. Ia menyebut bahwa banyak anggota Nahdlatul Ulama telah aktif di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan media sosial. “Mereka tidak hanya menjadi penasehat spiritual, melainkan juga motor penggerak pembangunan,” kata Luthfi. Ia mencontohkan program peningkatan literasi media sosial yang melibatkan para aktivis NU, bertujuan menumbuhkan kecermatan warga dalam menyaring informasi serta menghindari penyebaran hoaks.
Gus Yasin menambahkan bahwa tradisi Ngumpulke Balung Pisah menjadi wadah penting untuk menyatukan beragam profesi di bawah satu tujuan bersama. “Berbagai tokoh, dari dokter, pengusaha, hingga guru, dapat berkumpul dengan semangat persaudaraan,” ujar Gus Yasin. Acara tersebut juga dihadiri oleh Ketua Baznas dan MUI Jawa Tengah, Ahmad Darodji, serta Ketua PWNU Jawa Tengah, Abdul Ghaffar Rozin, yang memberikan perspektif tambahan mengenai peran lembaga keagamaan dalam pembangunan inklusif.
Abdul Ghaffar Rozin menyoroti fakta bahwa Jawa Tengah menempati posisi kedua terbesar secara nasional dalam jumlah anggota Nahdlatul Ulama setelah Jawa Timur. Dengan basis massa yang luas dan tersebar di seluruh sektor, ia menekankan pentingnya komunikasi lintas profesi. “Kita harus menyatukan suara, karena semakin besar kebersamaan, semakin kuat kontribusinya bagi masyarakat,” tegas Rozin.
Para pemimpin menegaskan bahwa tantangan yang dihadapi Jawa Tengah meliputi ketimpangan ekonomi, masalah infrastruktur, dan dinamika sosial‑kultural yang terus berubah. Untuk mengatasi hal tersebut, mereka mengusulkan pendekatan berbasis nilai agama yang tetap menghormati pluralitas dan hak konstitusional. Salah satu inisiatif yang direncanakan adalah pelatihan kepemimpinan bagi pemuda Nahdliyin, yang diharapkan dapat menyiapkan generasi berikutnya menjadi agen perubahan yang berintegritas.
Secara keseluruhan, sinergi antara pemerintah provinsi dan organisasi keagamaan diharapkan dapat menciptakan ekosistem pembangunan yang berkelanjutan, inklusif, dan berkarakter. Dengan menumbuhkan rasa kebersamaan di antara tokoh agama, akademisi, pelaku usaha, dan warga, Jawa Tengah berupaya menjadi contoh daerah yang mampu mengintegrasikan nilai‑nilai tradisional dengan dinamika modern demi kesejahteraan bersama.
Komentar (0)