Fokus Jepara – Ketegangan di perairan Timur Tengah kembali mencuat setelah pasukan Marinir Amerika Serikat (AS) membajak kapal tanker berbendera Iran, M/T Celestial Sea, di Teluk Oman. Dalam insiden yang terjadi baru-baru ini, helikopter Marinir AS melakukan pendaratan paksa di dek kapal yang tengah berlayar menuju pelabuhan Iran. Tindakan ini diambil dengan alasan bahwa kapal tersebut diduga melanggar blokade laut yang ditetapkan oleh AS, yang bertujuan untuk memberikan tekanan ekonomi terhadap ekspor minyak Iran.
Komando Pusat Amerika (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa M/T Celestial Sea adalah kapal komersial kelima yang ditindak sejak kebijakan blokade diberlakukan selama pemerintahan Donald Trump. Tindakan ini menimbulkan kritik luas, di mana banyak pihak menilai bahwa langkah tersebut merupakan bentuk blokade ilegal di perairan internasional, yang dapat mengganggu jalur perdagangan global.
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melaporkan bahwa mereka berhasil mengawal 31 kapal komersial, termasuk tanker minyak dan kapal kontainer, yang melintasi Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir. Meskipun menghadapi ketidakamanan akibat agresi militer AS, IRGC berupaya menciptakan jalur yang aman untuk kelangsungan perdagangan global. Pernyataan ini menunjukkan keberanian Iran untuk mempertahankan kendali di salah satu jalur maritim paling strategis di dunia.
IRGC juga telah memperkenalkan zona pengelolaan baru yang mewajibkan setiap kapal untuk mendapatkan izin dan melakukan koordinasi sebelum melintas. Zona ini mencakup area dari Gunung Mubarak di Iran hingga Fujairah di Uni Emirat Arab. Dalam laporan terbaru, Iran dilaporkan mengonsolidasikan kontrol de facto atas Selat Hormuz, dengan melakukan pemeriksaan kapal dan pengaturan diplomatik yang memberikan preferensi kepada kapal-kapal yang berhubungan dengan sekutunya, seperti Tiongkok dan Rusia.
Di tengah ketegangan ini, Jepang juga mengumumkan bahwa mereka siap menerima pengiriman minyak pertama dari Teluk Persia melalui Selat Hormuz. Kapal tanker Idemitsu Maru dijadwalkan tiba di Jepang dengan membawa 2 juta barel minyak mentah dari Arab Saudi. Meskipun beberapa kapal telah berhasil melintasi selat tersebut, jumlah pelayaran harian masih jauh lebih rendah dibandingkan sebelum konflik meningkat.
Iran juga sedang dalam diskusi dengan Oman untuk menetapkan sistem pungutan yang akan memformalkan kendalinya atas jalur pelayaran ini. Dalam konteks ini, pemilik kapal diharuskan untuk menyerahkan informasi rinci mengenai muatan dan identitas kapal, menegaskan bahwa kontrol Iran atas Selat Hormuz semakin ketat.
Dengan situasi yang semakin memanas, pertempuran untuk penguasaan jalur perdagangan strategis ini akan terus berlanjut, dan dampaknya akan terasa tidak hanya bagi negara-negara di kawasan, tetapi juga bagi perekonomian global.






