Daftar Isi
Media Blora – Fenomena gerhana kembali menjadi sorotan publik Tanah Air, bukan hanya karena keindahannya di langit, tetapi juga karena perannya yang mengejutkan dalam dunia riset antariksa, budaya populer, hingga tradisi keagamaan. Peristiwa langit yang terjadi secara berkala ini ternyata menyimpan lapisan makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar bayangan sesaat yang melintasi Bumi.
Di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, sejumlah siswa terlihat antusias mengamati gerhana bulan dari Assalaam Observatory di Pabelan. Momen tersebut menjadi wajah lain dari gerhana, yakni sebagai sarana edukasi astronomi bagi generasi muda yang tengah membangun minat terhadap sains.
Timau dan Keunggulan Strategis Indonesia
Di sisi lain, Observatorium Nasional Timau di Nusa Tenggara Timur yang dikelola Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menawarkan posisi geografis yang sangat menguntungkan bagi komunitas ilmiah global dalam memantau puing antariksa. Peneliti Pusat Riset Antariksa BRIN, Andre Pandie, mengungkapkan bahwa lokasi fasilitas tersebut yang dekat dengan ekuator memberikan pandangan langit yang jauh lebih jernih bagi para astronom.
“Satelit geostasioner, seperti satelit televisi dan komunikasi, berbaris tepat di atas garis ekuator. Dari Eropa, satelit-satelit ini tampak rendah di cakrawala,” jelas Pandie. Ia menambahkan bahwa pengamatan dari Eropa mengharuskan cahaya teleskop menembus atmosfer hampir dua kali lebih tebal dibandingkan pandangan langsung dari Indonesia.
Selain faktor lintang, Timau juga menawarkan bidang pandang yang luas karena posisinya di Belahan Bumi Selatan. Pengoperasian teleskop raksasa berdiameter 3,8 meter di observatorium tersebut memungkinkan pengamatan silang dengan fasilitas astronomi lain di dunia, seperti Observatorium Zimmerwald di Swiss. Menurut Pandie, kerja sama antarbenua menjadi vital karena malam datang pada waktu yang berbeda di berbagai belahan dunia, sehingga pelacakan satelit menuntut kesinambungan tanpa henti.
Gerhana dan Peringatan Gelombang Laut
Dampak fenomena langit juga dirasakan di sektor maritim. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Mozes Kilangin Timika mengeluarkan peringatan dini potensi gelombang tinggi di perairan Kokonao dan perairan Mimika secara umum. Gelombang laut diperkirakan mencapai 2,5 meter pada awal Oktober 2026.
Forecaster BMKG Mozes Kilangin Timika, Reza, menyampaikan bahwa potensi gelombang laut ini diikuti pergerakan angin kencang dengan kecepatan 12 hingga 14 knot. “Gelombang laut terjadi dipengaruhi berbagai faktor, antara lain pola gerhana matahari dan bulan, angin, dan faktor lainnya,” pesannya kepada nelayan dan masyarakat pesisir agar lebih berhati-hati di perairan terbuka.
Gerhana dalam Narasi Iman dan Budaya
Dalam khazanah Islam, gerhana juga memiliki tempat istimewa. Sebuah riwayat yang dikutip dari buku Eko-Sufisme: Makrifat Cinta Semesta karya Abrar M. Dawud Faza menceritakan tentang seorang wanita yang diazab karena menelantarkan kucing hingga mati. Peristiwa tersebut bahkan pernah diperlihatkan langsung kepada Rasulullah SAW saat beliau mendirikan salat gerhana, sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dari Asma’ binti Abu Bakar. Kala itu, api neraka didekatkan kepada beliau hingga tampak pemandangan seorang wanita sedang dicabik-cabik oleh seekor kucing.
Riwayat ini menegaskan bahwa syariat Islam menempatkan sifat kasih sayang sebagai kunci turunnya rahmat Ilahi, sebagaimana hadits yang diriwayatkan Imam At-Tirmidzi: “Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Yang Maha Penyayang. Sayangilah penduduk bumi, niscaya kalian disayangi oleh yang di langit.”
Sementara itu, dalam ranah fikih, istilah alkohol dan khamar kerap dianggap sama, padahal keduanya memiliki pengertian berbeda. Dalam surat Al-Ma’idah ayat 90, Allah SWT melarang khamar, berjudi, berkorban untuk berhala, dan mengundi nasib. Hadits dari Anas bin Malik menyebutkan bahwa khamar haram karena bendanya itu sendiri, sedangkan minuman lain haram kalau memabukkan. Perbedaan ini penting karena alkohol atau etanol dapat ditemukan dalam berbagai produk, mulai dari makanan, obat-obatan, hingga kosmetik.
Menariknya, gerhana juga menjadi latar penting dalam film horor legendaris “Bayi Ajaib” yang di-remake sutradara Rako Prijanto dan tayang 19 Januari 2023. Dalam ceritanya, gerhana bulan menjadi momen ketika seluruh perempuan dan anak-anak harus berada di dalam rumah agar tidak diculik atau dirasuki arwah jahat. Laras yang sedang hamil berjalan sendirian di dalam hutan kala gerhana tiba, lalu merasa bermimpi masuk ke dalam kubur dan bertemu Albert Dominique, sosok kakek Portugis yang menginginkan kehidupan baru.
Bayi yang dilahirkan Laras, Didi, lahir bertepatan dengan gerhana dan tumbuh dengan kejanggalan yang perlahan berubah menjadi teror. Film ini dibintangi Vino G Bastian sebagai Kosim, Adipati Dolken sebagai Dorman, serta Sara Fajira, dan menjadi debut pertama Adipati sebagai tokoh antagonis.
Dari observatorium di Sukoharjo hingga pesisir Mimika, dari kajian fikih hingga layar bioskop, gerhana membuktikan dirinya sebagai fenomena multidimensi. Ia bukan sekadar peristiwa astronomi, melainkan juga cermin bagi manusia untuk merenungi hubungannya dengan alam, sesama makhluk, dan Sang Pencipta. Di tengah kemajuan teknologi pemantauan antariksa, gerhana tetap mengingatkan bahwa langit menyimpan banyak pelajaran bagi mereka yang mau mengamatinya dengan mata, hati, dan akal budi.






