Daftar Isi
Media Blora – Presiden China Xi Jinping menjadi sorotan setelah memutuskan untuk tidak menghadiri jamuan makan malam para pemimpin BRICS. Ketidakhadiran ini memicu spekulasi luas di kalangan pengamat hubungan internasional, terutama di tengah dinamika diplomasi global yang semakin kompleks. Meski tidak ada pernyataan resmi yang merinci alasan di balik keputusan tersebut, sejumlah analis menilai langkah ini berkaitan erat dengan agenda strategis Beijing yang tengah berfokus pada hubungan bilateral dengan Amerika Serikat.
Keputusan Xi untuk melewatkan jamuan BRICS muncul hanya beberapa waktu setelah ia menyelesaikan kunjungan kenegaraan selama tiga hari di Washington. Kunjungan tersebut menghasilkan delapan poin konsensus dengan Presiden AS Donald Trump, sebuah pertemuan tatap muka kedua mereka sepanjang 2026. Lawatan itu sendiri menjadi momen bersejarah karena merupakan kunjungan kenegaraan pertama Xi ke AS dalam 11 tahun terakhir, setelah KTT Beijing pada Mei lalu.
Fokus pada Konsensus AS-China
Salah satu hasil paling menonjol dari pertemuan di Washington adalah kesepakatan pemangkasan tarif timbal balik untuk produk non-sensitif senilai 30 miliar dolar AS, setara sekitar Rp537 triliun. Gedung Putih menyatakan bahwa kesepakatan tarif ini akan dijalankan melalui Dewan Perdagangan AS-China dan Dewan Investasi AS-China yang dibentuk setelah KTT Beijing. Kerangka kerja tersebut juga melanjutkan pembicaraan di Busan, Korea Selatan, pada Oktober tahun lalu yang telah disepakati sebagai konsensus dasar.
Produk ekspor AS yang memperoleh perlakuan tarif khusus meliputi hasil pertanian, ikan dan makanan laut, kayu gelondongan serta produk kayu, kosmetik, dan alat kesehatan. Sementara itu, barang yang diimpor AS mencakup peralatan kecil, mainan, dekorasi hari libur, dan kursi mobil anak. Sebuah kelompok kerja khusus juga dibentuk untuk menangani hambatan akses pasar pertanian.
Selain itu, Beijing berkomitmen mengimpor sedikitnya 10 juta metrik ton batu bara AS pada 2027 dan 2028. Pembahasan mengenai tanah jarang dan mineral kritis juga terus dilakukan untuk memulihkan rantai pasokan yang sempat terganggu. Kesepakatan ini menunjukkan bahwa kedua negara berupaya meredakan ketegangan dagang yang telah berlangsung bertahun-tahun.
Dialog Kecerdasan Super dan Keamanan Global
Dalam pertemuan tersebut, kedua pemimpin juga menyepakati penggunaan istilah kecerdasan super dan membentuk Dialog Kecerdasan Super AS-China. Forum ini akan membahas risiko serta manfaat teknologi tersebut, dengan pertemuan berikutnya dijadwalkan pada November 2026. Pemerintah kedua negara juga menyiapkan jalur komunikasi bilateral khusus untuk mengantisipasi insiden yang berkaitan dengan kecerdasan super.
Di sisi keamanan global, Trump dan Xi membahas sejumlah isu krusial, termasuk komitmen Iran terkait senjata nuklir, pencegahan krisis militer, pengendalian senjata trilateral, serta dukungan penyelenggaraan APEC dan G20. Washington juga menyambut langkah Beijing yang menjadwalkan pembatasan orphines dan mengendalikan ekspor dua prekursor fentanil. Berdasarkan informasi penegak hukum AS, kepolisian Beijing telah menangkap 21 warganya pada Agustus 2026 terkait produksi dan distribusi prekursor narkoba ke Amerika Utara.
Dalam kesempatan yang sama, Trump mendorong peningkatan produksi minyak olahan untuk menjaga stabilitas pasokan energi global. Isu energi menjadi salah satu topik yang menyita perhatian, mengingat fluktuasi harga minyak dunia yang terus berlanjut.
Implikasi bagi BRICS dan Diplomasi Global
Ketidakhadiran Xi dalam jamuan BRICS memunculkan pertanyaan tentang arah kebijakan luar negeri China. Sejumlah pengamat menilai bahwa Beijing saat ini lebih memprioritaskan hubungan bilateral dengan Washington dibandingkan forum multilateral seperti BRICS. Hal ini terlihat dari intensitas diplomasi AS-China yang meningkat dalam beberapa bulan terakhir, terutama setelah KTT Beijing dan pertemuan di Busan.
Meski demikian, China tetap menegaskan komitmennya terhadap kerja sama BRICS. Sejumlah pejabat China menyatakan bahwa ketidakhadiran Xi dalam jamuan tersebut murni karena alasan jadwal yang padat, bukan karena pergeseran prioritas. Mereka menekankan bahwa China akan terus berperan aktif dalam memperkuat solidaritas negara-negara berkembang.
Di sisi lain, negara-negara BRICS lainnya diyakini memahami dinamika yang tengah berlangsung. Hubungan antara China dan AS yang memanas maupun mereda selalu memiliki dampak signifikan terhadap negara-negara anggota BRICS, terutama dalam hal perdagangan dan investasi. Oleh karena itu, banyak pihak berharap agar kesepakatan AS-China tidak mengorbankan kepentingan negara-negara berkembang.
Kesimpulan
Ketidakhadiran Xi Jinping dalam jamuan BRICS menjadi cerminan betapa kompleksnya lanskap diplomasi global saat ini. Di satu sisi, China berupaya memperkuat hubungan dengan AS melalui delapan poin konsensus yang mencakup tarif, teknologi, dan keamanan. Di sisi lain, Beijing tetap berusaha menjaga posisinya sebagai pemimpin negara-negara berkembang. Publik tentu menantikan langkah selanjutnya dari kedua negara adidaya tersebut, serta bagaimana dampaknya terhadap stabilitas ekonomi dan politik dunia.






