China Siap Balas Ancaman Tarif 50% Trump: Kebijakan Keras Menghadapi Tekanan AS

Oleh Dedi Kurniawan 15 Apr 2026, 02:44 WIB 5 Views

MediaBlora – 15 April 2026 | Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan ancaman penetapan tarif tambahan hingga 50 persen terhadap barang impor asal Tiongkok jika bukti keterlibatan Beijing dalam pemasokan senjata ke Iran terbukti. Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, khususnya konflik bersenjata yang melibatkan Iran sejak awal Februari 2026.

Menanggapi ancaman tersebut, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menegaskan bahwa tuduhan China menyediakan senjata kepada Iran sepenuhnya tidak berdasar dan merupakan fabrikasi belaka. “Jika Amerika Serikat bersikeras menggunakan hal ini sebagai alasan untuk memberlakukan tarif tambahan, China pasti akan mengambil tindakan balasan yang tegas,” ujarnya dalam konferensi pers di Beijing pada Selasa, 14 April 2026.

Guo menambahkan bahwa China secara konsisten memenuhi kewajiban internasionalnya dan tidak pernah menyalurkan peralatan militer ke pihak manapun yang terlibat dalam konflik. Ia meminta pihak AS untuk menahan diri, tidak membuat tuduhan tanpa dasar, serta fokus pada upaya meredakan ketegangan regional.

Sementara itu, pernyataan Trump mengacu pada laporan intelijen AS yang menyatakan bahwa China sedang bersiap mengirim sistem pertahanan udara portabel, dikenal sebagai MANPADS, ke Iran dalam beberapa minggu ke depan. Trump menyatakan, “Saya mendengar laporan bahwa China memberikan rudal bahu kepada Iran… saya ragu mereka akan melakukan itu. Tetapi jika kami menangkap mereka melakukannya, mereka akan dikenakan tarif 50%,” kata Trump dalam wawancara dengan CNBC pada 13 April 2026.

Berbagai media, termasuk CNBC, CNN, dan Fox News, melaporkan bahwa ancaman tarif tersebut merupakan lanjutan kebijakan Trump sebelumnya, yang menargetkan negara‑negara yang terbukti memasok peralatan militer ke Iran. Namun, Trump belum mengonfirmasi kebenaran laporan tentang pengiriman MANPADS, menyatakan bahwa informasi tersebut belum tentu dapat dipercaya.

Dalam konteks geopolitik yang lebih luas, konflik di Iran telah menewaskan lebih dari 1.400 orang dan mengganggu jalur perdagangan minyak penting di Selat Hormuz. Harga minyak dunia mengalami lonjakan signifikan, mengingat sekitar 20 persen pasokan energi global mengalir melalui selat tersebut. Iran sendiri melaporkan kesiapan militernya, dengan pernyataan dari Juru Bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) bahwa mereka masih menyimpan kemampuan militer yang belum digunakan.

  • Ancaman tarif 50% oleh AS didasarkan pada dugaan pasokan senjata China ke Iran.
  • China membantah keras tuduhan tersebut dan mengancam balasan jika tarif tetap diberlakukan.
  • Konflik Iran‑AS‑Israel memicu kenaikan harga minyak dan ketidakstabilan ekonomi global.
  • China menekankan pentingnya dialog damai dan menolak penggunaan tarif sebagai alat tekanan politik.

Para analis memperkirakan bahwa jika AS melanjutkan kebijakan tarif, dampaknya tidak hanya akan dirasakan oleh produsen barang China, tetapi juga oleh konsumen di Amerika serta rantai pasokan global yang sudah terguncang oleh pandemi dan konflik energi. Di sisi lain, China dapat menanggapi dengan tindakan balasan yang meliputi pembatasan ekspor bahan mentah, penyesuaian kebijakan investasi, atau peningkatan dukungan diplomatik kepada negara‑negara yang menentang kebijakan AS.

Sejumlah sumber melaporkan bahwa China memiliki kontrol ketat terhadap ekspor militer, sesuai dengan regulasi nasional dan komitmen internasional. Guo Jiakun menegaskan bahwa setiap pelanggaran akan diproses secara hukum, dan laporan yang menyatakan China mengirim senjata ke Iran adalah “sepenuhnya dibuat‑buat.”

Situasi ini menambah kompleksitas hubungan China‑AS, yang telah mengalami ketegangan dalam beberapa tahun terakhir, termasuk perselisihan dagang, teknologi, dan isu‑isu keamanan. Kedua negara kini berada pada titik kritis, di mana langkah-langkah kebijakan ekonomi dapat bereskalasi menjadi konfrontasi geopolitik yang lebih luas.

Kesimpulannya, ancaman tarif 50 persen yang dilontarkan oleh Presiden Trump menimbulkan pertanyaan serius tentang arah kebijakan perdagangan Amerika dan respons China. Sementara Beijing menegaskan penolakan terhadap tuduhan senjata, ia juga memperingatkan akan tindakan balasan yang tegas jika tekanan tarif tetap berlanjut. Kedua pihak tampaknya berada pada posisi saling menguji batas, dengan implikasi yang dapat memengaruhi pasar global, stabilitas energi, serta dinamika politik internasional di kawasan Timur Tengah dan sekitarnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin penulis.