Sport

Groningen vs Twente: Bayang-bayang Ajax dan PSV di Balik Seleksi Timnas, Nijstad Jadi Korban?

A− A+

Media Blora – JAKARTA – Dinamika sepak bola Belanda kembali menghadirkan cerita menarik dari balik layar. Bukan hanya tentang pertandingan di lapangan, tetapi juga tentang seleksi tim nasional muda yang kerap memicu kontroversi. Kali ini, nama Ruud Nijstad, bek muda FC Twente, menjadi sorotan setelah ia tidak dimainkan dalam laga Jong Oranje melawan Jong Noorwegen (0-0). Nijstad, yang pertama kali dipanggil ke tim nasional U-21, harus menyaksikan pertandingan dari tribun karena pelatih Michael Reiziger lebih memilih Dies Janse, bek Ajax yang bukan pemain inti di klubnya.

Keputusan ini langsung menuai kritik dari berbagai kalangan. René Wagelaar, pengamat sepak bola, menilai ada ketidakadilan dalam pemilihan pemain. “Jika Anda bermain di Ajax atau tiga besar, Anda punya keuntungan. Itu selalu terjadi. Nijstad seharusnya bermain. Ini pilihan yang aneh,” ujarnya dalam sebuah podcast. Ia bahkan menyinggung soal “kepentingan” yang menurutnya selalu ada dalam staf teknis. “Itu terjadi karena ada orang dari PSV, Ajax, atau Feyenoord di staf. Pemain-pemain itu selalu diutamakan.”

Baca juga:

Senada dengan Wagelaar, mantan wasit Eric Braamhaar menyebut praktik ini sudah berlangsung lama. “Seharusnya tidak demikian, tetapi staf teknis tidak hanya Reiziger,” katanya. Richard Vennema menambahkan bahwa diskriminasi terhadap pemain dari klub non-tradisional sudah terjadi sejak dulu. Ia mengisahkan Piet Fransen, ikon FC Groningen, yang sering mengeluh karena pemain Groningen jarang dipilih untuk timnas muda. “Sering kali pemain FC Groningen tidak bermain, karena pemain Ajax, PSV, dan Feyenoord selalu diprioritaskan,” kenang Vennema.

Contoh nyata juga dialami Sem Steijn. Di FC Twente, ia menjadi top skor, tetapi baru dipanggil timnas setelah pindah ke Feyenoord. “Di Twente, tidak ada pelatihan, tidak ada apa-apa. Di Feyenoord, dua hari dengan ban kapten, mereka langsung memilihnya. Nijstad jelas lebih baik dari Dies Janse. Jika Nijstad pindah ke Ajax minggu depan, ia akan bermain setiap minggu di Jong Oranje,” tegas Wagelaar.

Baca juga:

Sementara itu, di lapangan, Groningen dan Twente juga memiliki cerita sendiri. FC Groningen, yang kini bermain di Eredivisie, sempat menuai perhatian dengan performa impresif di awal musim. Meski bukan tim papan atas, Groningen menunjukkan ketangguhan, seperti saat menahan imbang Go Ahead Eagles 0-0 di Euroborg. Laga tersebut juga menjadi momen bagi bek Timnas Indonesia, Dean James, yang kembali bermain sebagai pengganti di menit ke-70. Ia mencatatkan 63 persen operan akurat dan satu tekel serta satu sapuan.

Di sisi lain, FC Twente melalui pemain mudanya, Nijstad, tengah bersinar. Namun, bayang-bayang klub besar terus menghantui. Realitas ini mencerminkan ketimpangan yang masih terjadi dalam sepak bola Belanda, di mana klub-klub tradisional seperti Ajax, PSV, dan Feyenoord memiliki pengaruh besar, bahkan dalam seleksi tim nasional.

Baca juga:

Kisah Nijstad bukan sekadar tentang satu pemain yang tidak dimainkan. Ini adalah potret buram bagaimana politik dan kepentingan klub dapat mengalahkan kualitas dan performa aktual. Hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari KNVB atau Michael Reiziger terkait kritik ini. Namun, publik sepak bola Belanda berharap agar seleksi timnas benar-benar berdasarkan meritokrasi, bukan nama besar klub.

Mungkin Anda Suka