Sport

Juan Manuel Sanabria dan Bayang-Bayang Kekalahan Uruguay di Era Diego Forlán

Juan Manuel Sanabria dan Bayang-Bayang Kekalahan Uruguay di Era Diego Forlán
Juan Manuel Sanabria dan Bayang-Bayang Kekalahan Uruguay di Era Diego Forlán
A− A+

Media Blora – Juan Manuel Sanabria menjadi salah satu nama yang menyita perhatian dalam laga uji coba antara Uruguay dan Jepang. Bek sayap yang dipercaya tampil sejak menit awal itu harus menelan kenyataan pahit ketika timnya tumbang 3-1 di Q&A Stadium Miyagi, Jepang, pada laga debut Diego Forlán sebagai pelatih sementara Uruguay. Kekalahan tersebut menjadi catatan kelam bagi Sanabria dan rekan-rekannya dalam mengawali tur Asia pasca tersingkirnya Uruguay dari Piala Dunia 2026.

Jalannya pertandingan memperlihatkan betapa rapuhnya lini belakang Uruguay yang dihuni Sanabria bersama Ronald Araújo, Mathías Olivera, dan Nahitan Nández. Sejak menit ke-10, gawang Uruguay yang dikawal Santiago Mele sudah bobol melalui sepakan Kuryu Matsuki. Gelandang muda Jepang itu melepaskan tembakan jarak jauh yang melengkung masuk ke sudut gawang, sebuah momen yang menurut sejumlah pengamat membuat Sanabria kesulitan membendung penetrasi lawan dari sisi sayap.

Baca juga:

Uruguay sempat bangkit. Setelah tertinggal satu gol, pasukan Diego Forlán mulai menemukan ritme permainan. Peluang demi peluang tercipta, terutama melalui kerja sama Maximiliano Araújo dan Brian Rodríguez. Kerja keras itu berbuah pada menit ke-42 ketika Maximiliano Araújo menyambar bola rebound hasil tembakan Federico Viñas yang ditepis penjaga gawang Jepang, Tomoki Hayakawa. Skor 1-1 bertahan hingga turun minum dan memberi harapan baru bagi tim tamu.

Pada babak kedua, Uruguay tampil lebih seimbang. Rodrigo Bentancur menjadi motor permainan di lini tengah dan berulang kali membuka ruang bagi para penyerang. Forlán kemudian memasukkan Giorgian de Arrascaeta pada menit ke-68 untuk menambah kreativitas di sepertiga akhir lapangan. Namun, ketenangan Jepang justru menjadi pembeda di pengujung laga.

Petaka bagi Uruguay datang di masa tambahan waktu. Pada menit ke-92, Kento Shiogai mencetak gol setelah memanfaatkan kelengahan lini belakang. Empat menit berselang, Ayase Ueda menutup pesta gol Jepang menjadi 3-1. Dua gol dalam kurun empat menit itu menegaskan masalah konsentrasi yang menghantui pertahanan Uruguay, termasuk Sanabria yang tampil penuh dalam laga tersebut.

Kekalahan ini menjadi sorotan tersendiri bagi Sanabria. Bek yang sempat bermain di level klub Amerika Latin dan kini menjadi bagian penting skuad Uruguay itu disebut kesulitan mengantisipasi pergerakan cepat para pemain sayap Jepang. Media di Uruguay menyoroti bagaimana Matsuki berulang kali masuk dari sisi kiri dan merepotkan area yang dijaga Sanabria sebelum akhirnya mencetak gol pembuka.

Meski demikian, posisi Sanabria di skuad Uruguay masih cukup kuat. Ia kembali dipercaya tampil pada laga berikutnya melawan Korea Selatan di Stadion Piala Dunia Seoul. Forlán melakukan rotasi besar dengan empat perubahan, dan Sanabria termasuk pemain yang harus menepi. Keputusan itu diambil sebagai bagian dari evaluasi setelah kekalahan dari Jepang, sekaligus upaya menjaga kebugaran pemain di tengah jadwal padat tur Asia.

Baca juga:

Laga melawan Korea Selatan sendiri menjadi kesempatan Uruguay untuk bangkit. Forlán menurunkan formasi yang lebih menyerang dengan kehadiran Darwin Núñez, Giorgian de Arrascaeta, Brian Rodríguez, dan Maximiliano Araújo sejak menit awal. Kiper Christopher Fiermarín juga diberi kesempatan menggantikan Santiago Mele, sementara Guillermo Varela mengisi posisi yang sebelumnya ditempati Sanabria di lini pertahanan.

Di kubu Korea Selatan, pelatih Robert Moreno menurunkan kekuatan terbaiknya. Kim Seunggyu berdiri di bawah mistar, dengan Minjae Kim memimpin lini belakang. Lini serang dipercayakan kepada Son Heungmin dan Hyeongyu Oh, kombinasi yang diprediksi menyulitkan pertahanan Uruguay yang tengah mencari bentuk permainan baru.

Pertandingan tersebut disiarkan langsung melalui sejumlah kanal berbayar dan menjadi tontonan penting bagi publik Uruguay yang ingin melihat respons tim setelah kekalahan dari Jepang. Jadwal kick-off pukul 08.00 waktu Uruguay membuat laga ini menjadi santapan pagi bagi para penggemar sepak bola di sana.

Bagi Juan Manuel Sanabria, dinamika di skuad Uruguay menjadi ujian tersendiri. Ia harus bersaing ketat dengan pemain seperti Joaquín Piquerez dan Guillermo Varela untuk mengisi posisi bek sayap. Konsistensi bersama klubnya akan menjadi kunci agar tetap masuk dalam rencana jangka panjang pelatih tetap Uruguay yang akan ditunjuk setelah masa transisi Diego Forlán berakhir.

Perjalanan Sanabria bersama Uruguay mencerminkan bagaimana sepak bola modern menuntut bek sayap untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga ikut membangun serangan. Dalam skema 4-4-2 yang diterapkan Forlán, Sanabria dituntut menyeimbangkan tugas defensif dan ofensif, tugas yang tidak selalu mudah ketika menghadapi tim dengan kecepatan seperti Jepang.

Baca juga:

Kekalahan 3-1 dari Jepang dan laga melawan Korea Selatan menjadi potret awal babak baru Uruguay. Bagi Sanabria, ini adalah fase pembelajaran yang menentukan arah kariernya di level internasional. Peluang untuk bangkit masih terbuka lebar sepanjang ia mampu menjaga performa dan beradaptasi dengan perubahan taktik di tubuh tim nasional.

Dengan jadwal uji coba yang padat dan regenerasi skuad yang tengah berlangsung, nama Sanabria akan terus menjadi bagian dari diskusi publik sepak bola Uruguay. Tantangan terbesarnya adalah membuktikan bahwa penampilan di laga melawan Jepang bukan gambaran sesungguhnya, melainkan pijakan menuju performa yang lebih solid di laga-laga berikutnya.

Mungkin Anda Suka