News

Kabinet Bayangan: Menguji Kebijakan Perubahan Iklim Indonesia

Kabinet Bayangan: Menguji Kebijakan Perubahan Iklim Indonesia
Kabinet Bayangan: Menguji Kebijakan Perubahan Iklim Indonesia
A− A+

Fokus Jepara – Konsep kabinet bayangan telah menjadi perbincangan hangat di Indonesia. Sementara sebagian melihatnya sebagai inovasi demokrasi, yang lain menganggapnya sebagai simbol politik tanpa landasan konstitusional. Namun, di balik perdebatan tersebut, ada satu pertanyaan yang penting: siapakah yang secara konsisten mengawasi kebijakan perubahan iklim Indonesia?

Perubahan iklim tidak mengenal koalisi maupun oposisi. Ia tidak menunggu pergantian kabinet, tidak peduli siapa yang berkuasa, dan tidak memberi jeda bagi perdebatan politik. Ketika curah hujan ekstrem memicu banjir, ketika kekeringan mengancam produksi pangan, atau ketika suhu terus meningkat, yang dipertaruhkan bukan popularitas pemerintah, melainkan keselamatan dan kesejahteraan masyarakat.

Baca juga:

Indonesia telah memiliki berbagai kebijakan iklim, seperti komitmen menuju penurunan emisi gas rumah kaca, pembangunan rendah karbon, rehabilitasi hutan dan mangrove, transisi energi, hingga penguatan ketahanan iklim. Namun, yang masih menjadi pekerjaan rumah adalah memastikan seluruh kebijakan tersebut benar-benar mencapai tujuan yang dijanjikan.

Ekosistem pengawasan ilmiah yang dilakukan secara independen oleh perguruan tinggi, lembaga riset, asosiasi profesi, media, dan masyarakat sipil diperlukan untuk memastikan setiap kebijakan iklim diuji berdasarkan data, bukan semata-mata berdasarkan klaim keberhasilan atau kritik politik.

Baca juga:

Konsep Shadow Climate, bukan kabinet tandingan, bukan pula organisasi politik baru, hadir sebagai gagasan tentang hadirnya ekosistem pengawasan ilmiah yang dilakukan secara independen. Tujuannya sederhana: memastikan setiap kebijakan iklim diuji berdasarkan data, bukan semata-mata berdasarkan klaim keberhasilan atau kritik politik.

Beberapa tokoh, seperti Fadli Zon, memandang kehadiran kabinet bayangan sebagai bagian dari dinamika kehidupan demokrasi dan tidak mempermasalahkan munculnya kritik terhadap pemerintah. Namun, penting untuk diingat bahwa kritik harus dilakukan dengan dasar yang kuat dan berorientasi pada solusi.

Baca juga:

Kesimpulan dari pembahasan tentang kabinet bayangan dan perubahan iklim ini adalah bahwa Indonesia memerlukan ekosistem pengawasan ilmiah yang independen untuk memastikan kebijakan iklim yang efektif dan berkelanjutan. Dengan demikian, keselamatan dan kesejahteraan masyarakat dapat terjamin di tengah perubahan iklim yang terus meningkat.

Alya Prameswari

Myrddin Mackynsie Abiola, atau yang akrab dipanggil "Myr" oleh tanaman hiasnya (karena tanaman tidak bisa berbicara), adalah penulis yang memulai karirnya pada tahun 2022. Surabaya menjadi tempat tinggalnya yang nyaman, meski ia lebih sering berselingkuh dengan jalan-jalan Indonesia demi liputan, berasa seperti reporter versi nomaden. Selain menulis dengan penuh semangat, Myr juga menghabiskan waktu mengamati bintang—mencari tahu apa yang dilakukan para bintang Hollywood ketika tidak terjebak dalam drama. Jadi, jika Anda melihat seseorang berjalan sambil memeluk pot monstera sambil mondar-mandir menatap langit malam, bisa dipastikan itu adalah Myr.

Mungkin Anda Suka