Penurunan Stunting dan Kematian Ibu-Bayi di Jawa Tengah: Capaian TP PKK 2025
MediaBlora – 18 April 2026 | Semarang – Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Jawa Tengah mencatat perbaikan signifikan dalam indikator kesehatan ibu dan anak pada tahun 2025. Menurut Ketua TP PKK Provinsi, Hj. Nawal Arafah Yasin, M.S.I, data terbaru menunjukkan penurunan tajam pada kasus stunting, kematian ibu, dan kematian bayi di provinsi ini. Prestasi ini diumumkan dalam rapat pleno pengurus TP PKK yang digelar di aula kantor PKK Jawa Tengah pada Jumat, 17 April 2026.
Data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (E‑PPGBM) tahun 2025 mencatat sebanyak 181.030 balita mengalami stunting, atau sekitar 9,66 % dari total balita di Jawa Tengah. Angka tersebut turun sekitar 3,4 % dibandingkan tahun sebelumnya, menandakan dampak positif dari serangkaian program yang diluncurkan sejak 2023. “Penurunan ini merupakan hasil kerja keras semua pihak, terutama kader PKK di tingkat desa dan kelurahan,” ujar Nawal, yang juga menjabat sebagai istri Wakil Gubernur Taj Yasin.
Untuk mempercepat penurunan angka stunting, TP PKK menjalin sinergi dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) melalui program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting). Program Genting menekankan partisipasi aktif masyarakat dalam mengidentifikasi keluarga berisiko tinggi, memberikan pendampingan gizi, serta memfasilitasi akses ke layanan kesehatan. Nawal menambahkan, “Target BKKBN untuk 2026 akan lebih tinggi, sehingga Genting akan digalakkan kembali dengan intensitas lebih besar.”
Selain kolaborasi dengan BKKBN, TP PKK bekerja sama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) untuk memperluas edukasi gizi dan tumbuh kembang anak. Edukasi tidak hanya berfokus pada asupan makanan, melainkan juga pada stimulasi kognitif agar kemampuan otak anak optimal. Ketua Tim Pembina Posyandu Jawa Tengah menegaskan pentingnya keseimbangan antara gizi fisik dan mental dalam upaya menurunkan stunting.
Di bidang mortalitas ibu dan bayi, data Dinas Kesehatan Jawa Tengah menunjukkan tren penurunan yang konsisten. Kasus kematian ibu menurun menjadi 337 pada tahun 2025, turun dari 427 kasus pada 2024. Sementara itu, kematian bayi berkurang menjadi 3.650 kasus pada 2025, dibandingkan 4.376 kasus tahun sebelumnya. Penurunan serupa juga terlihat pada kematian balita (usia 1‑5 tahun), yang berkurang menjadi 4.101 kasus dari 4.898 kasus pada 2024.
Untuk memperkuat capaian ini, TP PKK meluncurkan program Kencan Bumil (Kenali dan Cek Kesehatan Ibu Hamil). Program tersebut menugaskan kader PKK memantau kondisi kesehatan ibu sejak fase pra‑hamil, meliputi kehamilan, persalinan, hingga masa nifas. Salah satu layanan unggulan dalam Kencan Bumil adalah pemeriksaan ultrasonografi (USG) gratis bagi ibu yang memiliki jaminan kesehatan, serta layanan USG berbasis program UHC bagi yang tidak memiliki asuransi. “Kami berupaya menyediakan pemeriksaan USG dan layanan spelling tanpa biaya tambahan, sehingga setiap ibu hamil dapat mendapatkan penanganan tepat waktu,” jelas Nawal.
Pada rapat pleno tersebut, empat Kelompok Kerja (Pokja) TP PKK menyepakati program unggulan untuk tahun 2026, selaras dengan agenda pembangunan yang dipimpin Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin. Pokja I akan menyusun modul Pola Asuh Anak dan Remaja di Era Digital (Paaredi) berbasis visual, sebagai panduan praktis bagi orang tua. Pokja II fokus pada pengembangan Kapulaga, yakni Kelompok Usaha Berbasis Keluarga, dengan mengklasifikasikan jenis usaha agar lebih terstruktur.
Pokja III mengusung Gerakan Ibu/Perempuan Menanam Pohon (Rabu Pon) yang menggabungkan upaya ekonomi keluarga, ketahanan pangan, dan mitigasi bencana melalui penanaman pohon. Pokja IV akan memperkuat implementasi Kencan Bumil, menekankan peranannya dalam menurunkan angka stunting serta Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Jawa Tengah. “Kolaborasi lintas sektor dan keberlanjutan program menjadi kunci utama,” tutup Nawal, mengajak semua pihak untuk terus berkontribusi demi kesejahteraan masyarakat.
Secara keseluruhan, pencapaian penurunan stunting dan kematian ibu‑bayi pada tahun 2025 mencerminkan efektivitas pendekatan terpadu yang melibatkan pemerintah, lembaga non‑pemerintah, serta komunitas lokal. Keberhasilan ini memberi harapan bahwa target penurunan lebih lanjut pada 2026 dapat tercapai, asalkan sinergi dan komitmen tetap terjaga.
Komentar (0)