Perpustakaan Desa Nglarohgunung Raih Juara Harapan 1, Selanjutnya Selenggarakan Pelatihan Tata Boga untuk Tingkatkan Kemandirian Warga
MediaBlora – 15 April 2026 | Desa Nglarohgunung, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora, kembali mencuri perhatian publik setelah perpustakaan desa yang semula dibangun secara swadaya berhasil mengangkat nama desa ini meraih Juara Harapan I pada ajang kompetisi perpustakaan desa. Keberhasilan tersebut tidak hanya menjadi kebanggaan, tetapi juga membuka peluang baru bagi penduduk setempat untuk mengembangkan keterampilan melalui program pelatihan tata boga yang diselenggarakan oleh Balai Latihan Kerja (BLK) Blora.
Perpustakaan yang diberi nama “Cahaya Pustaka” ini berdiri atas inisiatif warga yang mengumpulkan dana, tenaga, dan bahan secara mandiri. Awalnya fasilitas ini hanya berupa ruangan sederhana dengan rak buku seadanya, namun seiring berjalannya waktu, koleksi buku semakin bertambah dan ruang tersebut menjadi pusat aktivitas belajar bagi semua kalangan, mulai dari anak-anak sekolah hingga para petani yang ingin menambah pengetahuan umum.
Keberhasilan meraih Juara Harapan I menjadi bukti bahwa sebuah perpustakaan kecil dapat memberikan dampak signifikan bila dikelola dengan tekad dan partisipasi aktif masyarakat. “Kami ingin menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari nol, tanpa harus menunggu bantuan luar yang besar,” ujar Kepala Perpustakaan, Oemi Daneti, S.Pd, dalam sebuah wawancara.
Setelah mendapatkan penghargaan, pihak perpustakaan bekerja sama dengan BLK Blora untuk menyelenggarakan pelatihan tata boga selama tiga puluh hari. Program ini dibiayai oleh Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) dan menargetkan enam belas warga berusia produktif yang memiliki motivasi tinggi untuk meningkatkan kemampuan memasak sekaligus mengeksplorasi peluang usaha kuliner.
Pelatihan tersebut dipandu oleh Dwi Hantob Bagus Sulistyono, Kepala UPTD BLK Dinperinaker Blora, yang sekaligus mewakili Kepala Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kabupaten Blora, Endro Budi Darmawan. “Kami ingin peserta punya bekal, bukan cuma bisa masak, tapi juga bisa mandiri,” tegas Dwi Hantob dalam sambutan pembukaan program.
Berikut beberapa poin penting yang menjadi fokus pelatihan:
- Penguasaan teknik memasak dasar hingga menengah, termasuk pengolahan bahan lokal.
- Manajemen usaha kuliner kecil, mulai dari perencanaan menu hingga pemasaran.
- Penggunaan bahan baku lokal yang melimpah di desa, seperti hasil kebun, sawah, dan pekarangan.
- Pengenalan standar kebersihan dan keamanan pangan sesuai regulasi pemerintah.
- Pembekalan keterampilan soft skill, seperti komunikasi dan pelayanan pelanggan.
Persyaratan peserta sangat sederhana, yakni memiliki KTP dan ijazah tanpa batasan tingkat pendidikan. Hal ini sejalan dengan kebijakan BLK untuk membuka kesempatan seluas‑luasnya bagi siapa saja yang memiliki keinginan belajar. “Dengan syarat yang sederhana, pelatihan ini membuka pintu selebar‑lebarnya bagi siapa saja yang punya kemauan belajar,” ungkap Dwi Hantob.
Para peserta, yang sebagian besar berasal dari keluarga petani dan pedagang kecil, menyatakan bahwa pelatihan ini merupakan “kesempatan kedua” untuk bangkit dan mencoba hal baru. Salah satu peserta, Siti Nurhayati, mengaku bahwa selama ini ia hanya memasak untuk kebutuhan rumah tangga, namun kini ia berencana membuka usaha katering kecil dengan menu berbahan baku lokal.
Kepala Perpustakaan Oemi menekankan bahwa pelatihan tata boga bukan sekadar kegiatan tambahan, melainkan bagian integral dari strategi meningkatkan kemandirian keluarga. “Kita semua tahu bahwa desa kita memiliki potensi pangan lokal yang sangat melimpah. Dari hasil kebun, sawah, hingga pekarangan rumah, semuanya dapat diolah menjadi produk bernilai jual tinggi,” ujarnya.
Walaupun fasilitas dapur yang digunakan masih bersifat sederhana dan peralatan belum berskala industri, semangat peserta tetap menggelora. Mereka belajar meracik bahan‑bahan sederhana menjadi hidangan yang tidak hanya lezat, tetapi juga bernilai gizi tinggi. Selama proses belajar, para peserta diajarkan cara menghitung biaya produksi, menentukan harga jual, dan menyusun rencana pemasaran yang realistis.
Pentingnya pelatihan ini terletak pada pemberian bekal paling utama: keterampilan praktis dan rasa percaya diri. Tanpa harus menunggu bantuan modal besar, warga Nglarohgunung kini memiliki fondasi yang kuat untuk mengembangkan usaha mikro di bidang kuliner, yang pada gilirannya dapat meningkatkan pendapatan keluarga dan mengurangi tingkat kemiskinan di desa.
Keberhasilan perpustakaan dalam meraih Juara Harapan I sekaligus menjadi titik tolak peluncuran program pelatihan tata boga menunjukkan sinergi positif antara lembaga pemerintah, lembaga pelatihan, dan komunitas lokal. Model kolaborasi ini dapat dijadikan contoh bagi desa‑desa lain yang ingin mengoptimalkan potensi sumber daya manusia melalui pendekatan berbasis pengetahuan dan keterampilan.
Secara keseluruhan, inisiatif ini menegaskan kembali bahwa perubahan sosial tidak selalu bergantung pada bantuan eksternal yang masif, melainkan pada kemauan kolektif untuk belajar, berinovasi, dan beradaptasi. Dari perpustakaan kecil yang dulu dibangun dengan swadaya, kini lahir rangkaian langkah konkret menuju kemandirian ekonomi dan peningkatan kualitas hidup warga Nglarohgunung.
Dengan dukungan berkelanjutan dari pemerintah daerah, BLK, serta partisipasi aktif masyarakat, diharapkan program ini tidak hanya selesai dalam 30 hari, melainkan menjadi fondasi bagi generasi mendatang untuk terus mengembangkan usaha berbasis pangan lokal, menjadikan Desa Nglarohgunung contoh nyata desa yang mandiri dan berdaya saing.
Komentar (0)