Ratusan Hektare Sawah Demak Gagal Panen, Dinpertan Desak Pemerintah Pusat Turun Tangan

Oleh Dedi Kurniawan 21 Apr 2026, 13:48 WIB 5 Views

MediaBlora – 21 April 2026 | Banjar yang melanda Kabupaten Demak pada awal bulan ini menimbulkan kerusakan luas pada lahan pertanian, terutama di kecamatan Guntur dan Karangtengah. Banjir yang dipicu oleh tanggul yang jebol mengakibatkan sekitar 278 hektare sawah gagal panen, memaksa petani setempat menghadapi kerugian yang signifikan. Dampak tersebut kini menjadi sorotan Dinas Pertanian dan Pangan (Dinpertan) Kabupaten Demak, yang secara resmi meminta intervensi pemerintah pusat untuk membantu proses pemulihan.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Demak, Agus Herawan, menyampaikan bahwa laporan kerusakan telah disampaikan ke pemerintah pusat. “Kami sudah menerima bantuan benih padi sebanyak 11 ton dari Badan Standarisasi Instrumen Pangan (BSIP) Jawa Tengah, namun kebutuhan masih jauh lebih besar,” ujarnya dalam sebuah pernyataan resmi. Herawan menegaskan bahwa bantuan benih hanyalah langkah awal, sementara bantuan keuangan, input pertanian, dan dukungan teknis sangat dibutuhkan untuk mengembalikan produktivitas lahan.

Berbagai upaya penanggulangan telah dilakukan oleh pihak berwenang setempat. Tim tanggap darurat dinas pertanian bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) melakukan survei lapangan, memetakan area yang paling parah, serta mengidentifikasi tingkat kerusakan tanaman. Hasil survei menunjukkan bahwa sebagian besar padi berada dalam tahap pertumbuhan vegetatif, sehingga peluang untuk memulihkan hasil panen masih terbuka jika diberikan bantuan yang tepat waktu.

  • Desa Trimulyo (Guntur)
  • Tlogorejo (Guntur)
  • Bumiharjo (Guntur)
  • Sidoharjo (Guntur)
  • Turitempel (Guntur)
  • Enam desa di Karangtengah (nama lengkap belum dirilis)

Dinpertan menekankan bahwa kerugian tidak hanya berdampak pada produksi padi, melainkan juga menurunkan pendapatan petani, meningkatkan risiko kemiskinan, dan mengancam ketahanan pangan daerah. Oleh karena itu, pihaknya menuntut adanya kebijakan khusus dari pemerintah pusat, termasuk alokasi dana khusus, penyediaan pupuk subsidi, serta program rehabilitasi infrastruktur irigasi yang rusak akibat banjir.

Di tingkat provinsi, Badan Standarisasi Instrumen Pangan (BSIP) Jawa Tengah telah menyalurkan benih padi sebanyak 11 ton sebagai bentuk dukungan awal. Namun, Agus Herawan menilai bahwa bantuan tersebut belum mencukupi mengingat skala kerusakan yang mencapai ratusan hektare. “Kami berharap pemerintah pusat dapat mempercepat proses penyaluran bantuan, baik berupa bahan pokok maupun bantuan keuangan, sehingga petani tidak terpaksa menjual aset atau mengambil pinjaman dengan bunga tinggi,” ujarnya.

Pengamat pertanian menilai bahwa kejadian ini menyoroti pentingnya penguatan sistem mitigasi bencana di wilayah rawan banjir. Penyediaan tanggul yang kuat, sistem peringatan dini, dan perencanaan tata ruang pertanian yang mempertimbangkan risiko banjir menjadi kunci untuk mengurangi dampak serupa di masa mendatang. Sementara itu, masyarakat setempat berharap agar bantuan yang dijanjikan dapat segera terwujud, sehingga mereka dapat kembali menanam dan menyiapkan ladang untuk musim tanam berikutnya.

Kesimpulannya, ribuan petani di Demak kini menantikan respons konkret dari pemerintah pusat. Dengan lahan seluas lebih dari 400 hektare yang terdampak, kebutuhan akan bantuan komprehensif meliputi benih, pupuk, dana, serta perbaikan infrastruktur irigasi menjadi sangat mendesak. Dinpertan Kabupaten Demak terus mengawal proses ini, berharap kebijakan yang diambil dapat mempercepat pemulihan dan menjaga ketahanan pangan wilayah.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin penulis.