Wakil Ketua DPRD Jateng Heri Pudyatmoko Ingatkan Warga Waspada Bencana di Masa Pancaroba

Oleh Slamet Widodo 20 Apr 2026, 00:48 WIB 2 Views

MediaBlora – 20 April 2026 | Peralihan musim atau yang dikenal sebagai pancaroba kembali menimbulkan keprihatinan di wilayah Jawa Tengah. Perubahan cuaca yang tidak menentu mulai terasa di berbagai kabupaten, menandai berakhirnya musim hujan dan memasuki musim kemarau. Kondisi ini tidak hanya memicu cuaca ekstrem, tetapi juga berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi serta menambah beban kesehatan masyarakat.

Di sisi lain, Dinas Kesehatan Jawa Tengah melaporkan peningkatan signifikan pada kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), Demam Berdarah Dengue (DBD), serta penyakit berbasis lingkungan lainnya selama periode pancaroba. Kelembapan tinggi dan genangan air menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti, vektor utama DBD, sementara suhu dingin-tinggi memicu gangguan pernapasan terutama pada anak-anak dan lansia.

Menanggapi situasi tersebut, Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Heri Pudyatmoko, mengingatkan seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. “Perubahan cuaca di masa pancaroba ini perlu diwaspadai bersama. Selai potensi bencana, dampaknya juga dirasakan pada kesehatan masyarakat,” ungkapnya dalam sebuah pertemuan dengan pejabat daerah, tokoh masyarakat, dan perwakilan media.

Heri menekankan bahwa kesiapsiagaan harus dimulai sejak dini, baik dari pemerintah daerah maupun warga. “Langkah antisipasi harus dilakukan, mulai dari menjaga kondisi lingkungan, memastikan saluran air tidak tersumbat, hingga menjaga daya tahan tubuh,” tegasnya. Ia menambahkan pentingnya pembersihan selokan, pemangkasan pohon yang berpotensi tumbang, serta penataan kembali lahan pertanian yang berada di daerah rawan longsor.

Selanjutnya, Wakil Ketua DPRD tersebut mendorong pemerintah daerah untuk memperkuat sistem peringatan dini (Early Warning System) dan mempercepat penyebaran informasi cuaca yang akurat. “Informasi cuaca harus tersampaikan dengan cepat dan jelas, agar masyarakat bisa mengambil langkah pencegahan,” kata Heri. Ia menilai bahwa koordinasi antara Badan Meteorologi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan dinas terkait menjadi kunci dalam mengurangi dampak bencana.

Selain tindakan struktural, Heri juga menyoroti peran aktif warga dalam menjaga kebersihan lingkungan. Ia menekankan bahwa lingkungan yang bersih dapat meminimalisir perkembangan vektor penyakit. “Lingkungan yang bersih menjadi salah satu kunci untuk mengurangi risiko penyakit di masa seperti ini,” tegasnya. Upaya pembersihan sampah, pengelolaan limbah cair, serta pencegahan penumpukan air stagnan menjadi langkah konkret yang dapat diambil masyarakat.

Untuk meningkatkan kesadaran, Heri mengusulkan program edukasi kesehatan dan kebencanaan di sekolah serta komunitas lokal. Program tersebut mencakup pelatihan pertolongan pertama, simulasi evakuasi, serta penyuluhan tentang pentingnya vaksinasi dan kebersihan pribadi. Ia menilai bahwa pendidikan berkelanjutan akan menumbuhkan budaya kesiapsiagaan yang lebih kuat di kalangan generasi muda.

Pemerintah provinsi Jawa Tengah pun telah menyiapkan sejumlah kebijakan pendukung, antara lain alokasi dana untuk perbaikan jaringan drainase, penambahan pos-pos pemantauan cuaca, serta distribusi kit pertolongan pertama di daerah rawan. Namun, Heri menekankan bahwa sinergi antara kebijakan pemerintah dan partisipasi aktif warga menjadi faktor penentu keberhasilan penanggulangan.

Secara keseluruhan, peringatan Heri Pudyatmoko menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi tantangan pancaroba. Dengan langkah antisipatif yang terkoordinasi, diharapkan dampak bencana hidrometeorologi dapat diminimalisir, serta beban kesehatan masyarakat dapat dikurangi. Kesadaran bersama akan menjadi pondasi utama dalam menjaga keamanan dan kesejahteraan warga Jawa Tengah selama masa peralihan musim.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin penulis.