Bandara Ahmad Yani Semarang Raih ASEAN Energy Awards 2025, Tanda Nyata Komitmen Eco‑Airport

Oleh Slamet Widodo 21 Apr 2026, 07:51 WIB 5 Views

MediaBlora – 21 April 2026 | Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani di Semarang resmi masuk dalam jajaran penerima ASEAN Energy Awards 2025, sebuah penghargaan bergengsi yang menyoroti inovasi dan keberlanjutan energi di kawasan Asia Tenggara. Penghargaan ini menegaskan bahwa bandara tersebut telah berhasil mengimplementasikan serangkaian program ramah lingkungan yang tidak hanya menurunkan jejak karbon, tetapi juga meningkatkan efisiensi operasional secara signifikan.

Pengumuman pemenang berlangsung pada upacara tahunan yang digelar oleh ASEAN Centre for Energy di Singapura. Dari lebih dari tiga puluh bandara di wilayah ASEAN yang berpartisipasi, Bandara Ahmad Yani terpilih sebagai salah satu contoh terbaik dalam kategori “Eco‑Airport” karena pencapaian nyata dalam pengelolaan energi terbarukan, pengurangan limbah, dan penerapan teknologi hijau.

Sejak tahun 2020, manajemen Bandara Ahmad Yani meluncurkan program strategis yang dinamakan “Green Sky Initiative”. Program ini mencakup pemasangan panel surya seluas lebih dari 3.000 meter persegi di atap terminal penumpang, hangar, serta area parkir. Seluruh energi yang dihasilkan dari panel surya tersebut kini menyumbang sekitar 35% dari total konsumsi listrik bandara, menggantikan penggunaan listrik dari pembangkit konvensional.

Selain tenaga surya, bandara juga mengadopsi sistem pencahayaan LED dengan sensor gerak yang mengoptimalkan penggunaan cahaya di area publik dan fasilitas pendukung. Penggunaan lampu LED hemat energi ini berhasil menurunkan konsumsi listrik pada penerangan hingga 40% dibandingkan dengan sistem konvensional yang sebelumnya dipakai.

Manajemen limbah menjadi fokus utama lain dalam upaya eco‑airport. Bandara Ahmad Yani mengimplementasikan program pemilahan sampah pada semua titik layanan, mulai dari ruang tunggu, restoran, hingga area kargo. Sampah organik diolah menjadi kompos melalui kerja sama dengan perusahaan daur ulang lokal, sementara limbah plastik dan kertas diproses di fasilitas daur ulang regional. Hasilnya, volume limbah yang dibuang ke TPA menurun lebih dari 50% dalam dua tahun terakhir.</n

Penggunaan kendaraan listrik (EV) juga mulai diintegrasikan ke dalam operasi bandara. Armada kendaraan operasional, termasuk mobil layanan darat, bus penumpang, dan kendaraan pemeliharaan, kini beralih secara bertahap ke motor listrik yang diisi daya melalui stasiun pengisian yang dibangun di area parkir. Pemerintah daerah Semarang turut mendukung dengan menyediakan insentif pajak bagi perusahaan yang mengoperasikan kendaraan listrik di wilayah bandara.

Direktur Utama Bandara Ahmad Yani, Budi Santoso, menyampaikan bahwa pencapaian ini merupakan hasil kolaborasi lintas sektor. “Kami tidak dapat meraih penghargaan ini tanpa dukungan penuh dari otoritas penerbangan, pemerintah daerah, serta mitra bisnis yang berkomitmen pada keberlanjutan. ASEAN Energy Awards memberi pengakuan atas kerja keras tim kami dalam mewujudkan bandara yang lebih hijau, efisien, dan berdaya saing internasional,” ujarnya dalam sambutan resmi.

Selain penghargaan, Bandara Ahmad Yani juga menargetkan pencapaian netral karbon pada tahun 2030. Rencana jangka panjang mencakup peningkatan kapasitas pembangkit energi terbarukan hingga 60% dari total kebutuhan energi, penanaman kembali 5.000 pohon di sekitar area bandara, serta pengembangan sistem manajemen air hujan untuk mengurangi konsumsi air bersih.

Pengakuan ini diharapkan dapat menjadi katalisator bagi bandara lain di Indonesia untuk mengadopsi praktik serupa. Menurut data ASEAN Centre for Energy, sektor transportasi udara menyumbang sekitar 2% emisi karbon regional, dan transformasi menuju eco‑airport dapat memberikan kontribusi signifikan dalam mengurangi emisi tersebut.

Penghargaan ASEAN Energy Awards 2025 tidak hanya sekadar simbol, melainkan dorongan nyata bagi kebijakan energi berkelanjutan di Indonesia. Pemerintah Kementerian Perhubungan telah mencanangkan program Nasional Bandara Hijau, yang menargetkan setidaknya 20 bandara di seluruh negeri untuk memenuhi standar energi bersih pada tahun 2028. Keberhasilan Bandara Ahmad Yani menjadi contoh konkret bahwa target tersebut dapat dicapai dengan perencanaan yang matang dan kolaborasi stakeholder.

Secara ekonomi, investasi dalam teknologi hijau terbukti meningkatkan efisiensi operasional. Analisis internal menunjukkan bahwa penghematan biaya listrik tahunan bandara mencapai sekitar 12 miliar rupiah sejak implementasi panel surya dan LED. Dana yang dihemat selanjutnya dialokasikan untuk peningkatan layanan penumpang, termasuk modernisasi sistem check‑in otomatis dan peningkatan jaringan Wi‑Fi gratis.

Penghargaan ini juga memperkuat posisi Semarang sebagai kota yang berorientasi pada inovasi dan keberlanjutan. Dengan bandara yang semakin ramah lingkungan, potensi pariwisata dan investasi asing di wilayah Jawa Tengah diperkirakan akan meningkat, mengingat banyak perusahaan multinasional menilai kebijakan lingkungan sebagai faktor penting dalam pemilihan lokasi operasional.

Ke depan, manajemen bandara berencana untuk mengintegrasikan sistem manajemen energi berbasis Internet of Things (IoT) yang memungkinkan pemantauan real‑time konsumsi listrik, suhu, dan kualitas udara di seluruh fasilitas. Teknologi ini akan membantu mengidentifikasi area yang masih dapat dioptimalkan, sekaligus menyediakan data transparan bagi publik mengenai upaya keberlanjutan bandara.

Kesimpulannya, raihan ASEAN Energy Awards 2025 oleh Bandara Ahmad Yani Semarang menjadi bukti kuat bahwa komitmen terhadap keberlanjutan tidak hanya dapat meningkatkan citra institusi, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi, lingkungan, dan sosial yang luas. Dengan langkah‑langkah konkret yang terus diimplementasikan, bandara ini siap menjadi model panutan bagi jaringan transportasi udara di Asia Tenggara dan dunia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin penulis.