Media Blora – Harga minyak dunia kembali bergerak turun pada perdagangan terakhir September 2026 seiring meredanya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan global. Penurunan ini dipicu oleh pulihnya jalur pipa Arab Saudi dan sinyal komunikasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran melalui perantara, yang membuka harapan dimulainya kembali pembicaraan diplomatik. Meski demikian, harga masih berada di level tinggi secara bulanan karena ketegangan geopolitik yang belum sepenuhnya reda.
Pada perdagangan Rabu (30/9), minyak mentah Brent untuk pengiriman November ditutup di sekitar US$102,6 per barel, turun dari posisi sebelumnya. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di level US$89,38 per barel. Penurunan ini menjadikan harga minyak berada di level terendah dalam hampir sepekan. Namun, secara bulanan, Brent masih mencatat penguatan lebih dari 14%, sedangkan WTI naik lebih dari 5% sepanjang September.
Pemicu utama penurunan harga adalah kembali beroperasinya pipa East-West milik Arab Saudi yang sempat terhenti akibat serangan drone awal bulan. Pipa ini merupakan jalur vital yang memungkinkan pengiriman minyak tanpa melewati Selat Hormuz. Menurut laporan, aliran minyak melalui jalur menuju Laut Merah telah mencapai sedikitnya 3,5 juta barel per hari. Goldman Sachs memperkirakan ekspor minyak negara-negara Teluk telah pulih menjadi 23,3 juta barel per hari (bph) dalam sepekan terakhir, sejalan dengan rata-rata 2025. JPMorgan juga mencatat rata-rata ekspor dalam 10 hari terakhir berada di level 20,5 juta bph, atau sekitar 89% dari level 2025.
Di sisi lain, perundingan damai antara AS dan Iran masih menemui jalan buntu. Qatar pada Selasa menyatakan berharap diplomasi antara Teheran dan Washington dapat menghasilkan terobosan. Namun, Presiden AS Donald Trump membantah laporan yang menyebutkan dirinya bersedia memberikan keringanan sanksi serta mencairkan dana Iran yang dibekukan sebagai imbalan atas langkah konkret Teheran terkait program nuklirnya. Pejabat Iran secara tertutup juga menyatakan pesimis mengenai tercapainya kesepakatan perdamaian sebelum pemilu paruh waktu AS pada November.
Analis dari bank Jepang MUFG menilai bahwa arus minyak mentah yang pulih seharusnya meredam tekanan harga yang dipicu pasokan. “Meskipun kekurangan produk yang terus berlangsung dan biaya angkutan yang tinggi kemungkinan membuat pasar energi secara keseluruhan tetap ketat,” ujarnya. Sementara itu, negara-negara produsen minyak OPEC+ diperkirakan akan mempertahankan target produksi November dalam pertemuan pada Minggu mendatang.
Di tengah ketidakpastian ini, sejumlah analis melihat risiko penurunan harga yang lebih besar dibandingkan potensi kenaikan. Chief Investment Officer Karobaar Capital LP, Haris Khurshid, mengatakan bahwa risiko geopolitik masih sangat besar, tetapi pasar telah belajar bahwa minyak mentah akan terus menemukan jalan untuk keluar. Menurutnya, kesepakatan AS-Iran yang kredibel berpotensi memangkas harga minyak hingga US$15 per barel.
Secara keseluruhan, meskipun harga minyak turun dalam jangka pendek akibat meredanya konflik dan pulihnya pasokan, pasar masih dibayangi oleh ketegangan yang belum terselesaikan. Fluktuasi harga diperkirakan akan terus berlanjut hingga ada kejelasan mengenai hasil perundingan AS-Iran dan keputusan OPEC+.








