Fokus Jepara – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penguatan pada perdagangan Senin (13/7) dengan kenaikan 1,92% ke level 6.037,84. Penguatan indeks ini didorong oleh menguatnya saham BMRI sebesar 4,17%, BBRI naik 2,87%, serta AMMN yang melesat 7,69%.
Di sisi lain, pergerakan indeks masih dibayangi pelemahan CTBN sebesar 6,54%, UNVR turun 2,89%, dan BOGA terkoreksi 5,85%. Meski IHSG ditutup di zona positif, aktivitas investor asing masih mencatatkan jual bersih senilai Rp412,50 miliar di pasar reguler dan Rp437,66 miliar di seluruh pasar.
Dari 11 sektor yang diperdagangkan, sebanyak sembilan sektor berakhir menguat dengan sektor Basic Industry memimpin kenaikan sebesar 2,96%, sedangkan sektor Health menjadi sektor dengan pelemahan terbesar, yakni 0,26%.
Sementara itu, bursa saham Amerika Serikat bergerak berlawanan arah. Indeks Dow Jones turun 0,26% menjadi 52.498, S&P 500 melemah 0,79% ke 7.515, dan Nasdaq terkoreksi 1,55% ke level 25.873.
PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) melaporkan realisasi kegiatan eksplorasi sepanjang semester I 2026 dengan nilai investasi sekitar USD5,60 juta. Perseroan telah menyelesaikan 157 titik pengeboran dengan total kedalaman sekitar 45 kilometer di tambang emas Toka Tindung, Sulawesi Utara.
Kegiatan tersebut dijalankan melalui anak usaha Meares Soputan Mining (MSM) dan Tambang Tondano Nusajaya (TTN) pada wilayah konsesi seluas 39.817 hektare yang dipilih berdasarkan hasil eksplorasi sebelumnya. Hasil pengeboran pada kuartal I 2026 menunjukkan temuan kadar emas hingga 10,20 gram per ton pada interval 4,60 meter di kedalaman 342,30-346,90 meter, serta temuan lain dengan kadar 2,24 gram per ton.
Sementara pada kuartal II 2026, ARCI mencatat kadar emas tertinggi mencapai 25,18 gram per ton pada interval 3,10 meter di kedalaman 285,80-288,90 meter, serta kadar 4,25 gram per ton pada interval 23 meter di kedalaman 213,00-236,00 meter.
Berdasarkan data perseroan, cadangan emas saat ini mencapai sekitar 3,90 juta ons dengan kadar rata-rata 1,20 gram per ton, terdiri atas 667 ribu ons cadangan terbukti dan sekitar 3,20 juta ons cadangan terkira.
Keputusan MSCI pada 23 Juni mendatang menjadi penentu arah IHSG. Terdapat tiga skenario yang mungkin terjadi, yaitu IHSG mengalami penguatan, pelemahan, atau stagnasi. Skenario pertama, IHSG mengalami penguatan jika MSCI memutuskan untuk memasukkan saham Indonesia ke dalam indeks MSCI Emerging Markets. Skenario kedua, IHSG mengalami pelemahan jika MSCI memutuskan untuk tidak memasukkan saham Indonesia ke dalam indeks MSCI Emerging Markets. Skenario ketiga, IHSG mengalami stagnasi jika MSCI memutuskan untuk mempertahankan status quo.
Kesimpulan, keputusan MSCI pada 23 Juni mendatang menjadi penentu arah IHSG. Terdapat tiga skenario yang mungkin terjadi, yaitu IHSG mengalami penguatan, pelemahan, atau stagnasi. Investor perlu memantau perkembangan keputusan MSCI dan mempersiapkan strategi investasi yang tepat.







