News

Mantan Ketua BEM UGM Desak Pendukung 02 untuk Minta Maaf dan Menyatakan Penyesalan

Mantan Ketua BEM UGM Desak Pendukung 02 untuk Minta Maaf dan Menyatakan Penyesalan
Mantan Ketua BEM UGM Desak Pendukung 02 untuk Minta Maaf dan Menyatakan Penyesalan
A− A+

Fokus Jepara – RADARGARUT – Tiyo Ardianto, yang sebelumnya menjabat sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada pada tahun 2026, telah membuat pernyataan yang mengejutkan publik. Dalam sebuah acara diskusi yang berlangsung di Yogyakarta, Tiyo mengajak para pendukung pasangan calon presiden nomor urut 02 untuk meminta maaf dan menuliskan pernyataan penyesalan atas tindakan dan ucapan yang mereka sampaikan selama masa kampanye.

“Kami berada dalam masa yang sangat sensitif, di mana perpecahan di tengah masyarakat semakin nyata. Oleh karena itu, saya mendorong pendukung 02 untuk melakukan refleksi diri dan meminta maaf atas segala ujaran yang mungkin telah menyakiti pihak lain,” ungkap Tiyo dalam pernyataannya.

Baca juga:

Tiyo menekankan pentingnya menjaga kedamaian dan persatuan di tengah perbedaan pendapat politik yang ada. Ia juga menyebutkan bahwa pernyataan penyesalan tersebut tidak hanya menjadi langkah baik bagi para pendukung, tetapi juga dapat membantu meredakan ketegangan yang terjadi di masyarakat.

Dalam konteks ini, Tiyo mengajak semua elemen masyarakat, termasuk generasi muda, untuk lebih bijaksana dalam menyampaikan pendapat. Ia menambahkan, “Kita perlu menyadari bahwa dalam berpolitik, kita tidak hanya berbicara untuk diri sendiri, tetapi juga untuk masyarakat luas. Setiap tindakan dan ucapan kita memiliki dampak yang besar.”

Acara yang dihadiri oleh sejumlah mahasiswa dan aktivis ini juga menjadi ajang diskusi tentang pentingnya etika dalam berpolitik. Tiyo berharap, dengan adanya pernyataan penyesalan dari pendukung 02, diharapkan dapat menciptakan suasana yang lebih kondusif menjelang pemilihan umum mendatang.

Baca juga:

Reaksi terhadap pernyataan Tiyo beragam. Beberapa pihak mendukung langkah tersebut sebagai upaya positif untuk membangun kembali keharmonisan di masyarakat. Namun, ada juga yang menganggap pernyataan itu sebagai sebuah provokasi yang tidak perlu, mengingat situasi politik yang sudah sangat tegang.

Sejumlah mahasiswa yang hadir dalam acara tersebut menyatakan bahwa mereka setuju dengan pandangan Tiyo. Salah satu mahasiswa, Rina, mengatakan, “Kita harus bisa saling menghargai perbedaan pendapat dan tidak membiarkan perpecahan semakin melebar. Minta maaf bisa menjadi langkah awal untuk meredakan ketegangan ini.”

Di sisi lain, beberapa pendukung 02 menanggapi dengan skeptis. Mereka merasa bahwa langkah meminta maaf justru akan menunjukkan kelemahan di pihak mereka. Namun, Tiyo optimis bahwa tindakan permohonan maaf adalah tanda kekuatan dan kebesaran hati. “Minta maaf adalah tindakan yang menunjukkan kedewasaan politik. Kita semua manusia yang bisa berbuat salah dan seharusnya berani mengakui kesalahan tersebut,” ujarnya.

Baca juga:

Tentunya, pernyataan Tiyo ini menambah warna baru dalam dinamika politik jelang pemilihan umum yang semakin dekat. Dengan harapan bahwa langkah-langkah positif dapat diambil oleh semua pihak, semoga Indonesia dapat menjalani proses demokrasi yang lebih sehat dan damai.

Alya Prameswari

Myrddin Mackynsie Abiola, atau yang akrab dipanggil "Myr" oleh tanaman hiasnya (karena tanaman tidak bisa berbicara), adalah penulis yang memulai karirnya pada tahun 2022. Surabaya menjadi tempat tinggalnya yang nyaman, meski ia lebih sering berselingkuh dengan jalan-jalan Indonesia demi liputan, berasa seperti reporter versi nomaden. Selain menulis dengan penuh semangat, Myr juga menghabiskan waktu mengamati bintang—mencari tahu apa yang dilakukan para bintang Hollywood ketika tidak terjebak dalam drama. Jadi, jika Anda melihat seseorang berjalan sambil memeluk pot monstera sambil mondar-mandir menatap langit malam, bisa dipastikan itu adalah Myr.

Mungkin Anda Suka