Ning Nawal Dorong Organisasi Perempuan Jadi Ruang Aman, Kreatif, dan Produktif di Jawa Tengah
MediaBlora – 18 April 2026 | Semarang – Ketua Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Jawa Tengah, Hj. Nawal Arafah Yasin, M.S.I., menegaskan pentingnya peran organisasi perempuan sebagai wadah pengembangan kreativitas dan aktualisasi diri bagi anggotanya. Pernyataan tersebut disampaikan pada acara Halalbihalal sekaligus peringatan Hari Kartini yang digelar oleh Dharma Wanita Persatuan (DWP) Universitas Diponegoro (Undip) pada Jumat, 17 April 2026, di Gedung Kewirausahaan Fakultas Ekonomika dan Bisnis, kampus Undip Tembalang, Semarang.
Acara yang bertemakan “Kartini Masa Kini: Berkarya, Berdaya, dan Menguatkan Silaturahmi” berhasil menyatukan puluhan anggota DWP Undip dalam serangkaian pertunjukan seni tradisional, hadroh, paduan suara, serta tari. “DWP Undip sangat luar biasa dengan 14 cabang kegiatannya. Hari ini kami menyaksikan ibu-ibu yang tidak hanya menekuni ilmu, tetapi juga menyalurkan hobi‑hobi mereka secara produktif,” ujar Nawal setelah rangkaian pertunjukan usai.
Dalam kesempatan yang sama, Nawal mengingatkan pentingnya semangat Kartini menjelang Hari Kartini pada 21 April. Ia menyoroti tiga nilai utama yang dapat dijadikan teladan oleh perempuan Jawa Tengah:
- Pendidikan sebagai landasan: Kartini mendirikan sekolah bagi perempuan agar mereka memiliki bekal pengetahuan untuk mendidik generasi penerus.
- Perlawanan terhadap kekerasan dan diskriminasi: Kartini menjadi simbol perjuangan melawan kekerasan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, serta ketidaksetaraan gender. Nawal mengajak perempuan untuk terus mengedukasi sesama mengenai bahaya KDRT dan pentingnya hak setara.
- Pembebasan ruang gerak: Di tengah budaya patriarki, Kartini berhasil memperluas peran perempuan dari ranah domestik ke ruang publik, membuka peluang bagi partisipasi lebih luas dalam pembangunan.
Dengan mengaitkan nilai‑nilai tersebut, Nawal mengajak seluruh perempuan Jawa Tengah untuk berkontribusi aktif dalam pembangunan daerah, selaras dengan kebijakan Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin. “Semangat Kartini menjadi modal bagi kita untuk menjaga nilai‑nilai tersebut dan memberikan dampak positif dalam bidang ekonomi, pendidikan, serta sosial,” ujarnya.
Pernyataan Nawal tidak hanya bersifat retoris. Sebagai Ketua TP PKK Jawa Tengah, ia menekankan bahwa organisasi perempuan harus menjadi tempat yang tidak hanya aman secara fisik, tetapi juga aman secara psikologis. Keamanan ini mencakup kebebasan berpendapat, ruang untuk bereksperimen dalam bidang seni, teknologi, serta kewirausahaan tanpa takut dihakimi.
Secara praktis, Nawal mengusulkan beberapa langkah konkret untuk mewujudkan visi tersebut:
- Mengadakan pelatihan kepemimpinan dan manajemen proyek bagi anggota organisasi.
- Menyediakan fasilitas kreatif, seperti studio musik, ruang seni, dan laboratorium digital, yang dapat diakses secara gratis atau bersubsidi.
- Mengintegrasikan program literasi digital untuk memberdayakan perempuan dalam era teknologi.
- Menjalin kemitraan dengan institusi pendidikan dan perusahaan untuk membuka peluang magang serta kerja sama proyek.
Usulan tersebut mendapat respon positif dari para peserta DWP Undip, yang menilai bahwa dukungan struktural seperti ini dapat meningkatkan partisipasi perempuan dalam kegiatan ekonomi kreatif dan sosial. Beberapa anggota mengaku berencana mengusulkan program serupa di kampus masing‑masing, sehingga jaringan dukungan dapat tersebar lebih luas.
Selain itu, Nawal menegaskan bahwa organisasi harus mampu melestarikan kebudayaan lokal. “Kita dapat memadukan tradisi dengan inovasi, misalnya dengan mengembangkan musik tradisional dalam format modern atau mengolah tarian daerah menjadi bagian dari pertunjukan kontemporer,” katanya. Pendekatan ini tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga menjadikannya produk yang memiliki nilai jual di pasar kreatif.
Dalam rangka mempersiapkan peringatan Hari Kartini, Nawal mengajak semua organisasi perempuan di Jawa Tengah untuk menyusun program yang menonjolkan nilai‑nilai Kartini, baik melalui seminar, lokakarya, maupun aksi sosial. Ia berharap kegiatan‑kegiatan ini dapat menumbuhkan kesadaran kolektif tentang pentingnya kesetaraan gender dan peran perempuan dalam pembangunan berkelanjutan.
Kesimpulannya, Ning Nawal menegaskan bahwa organisasi perempuan harus menjadi ruang yang tidak hanya melindungi, tetapi juga memacu kreativitas dan produktivitas anggotanya. Dengan mengintegrasikan nilai‑nilai Kartini, memperkuat kapasitas internal, dan membuka akses ke sumber daya kreatif, organisasi dapat menjadi agen perubahan yang signifikan bagi kemajuan perempuan Jawa Tengah dan Indonesia secara keseluruhan.
Komentar (0)