Semangat Kartini Dorong Integritas: OJK Tekankan Peran Strategis Perempuan dalam Tata Kelola Bersih

Oleh Slamet Widodo 21 Apr 2026, 20:49 WIB 3 Views

MediaBlora – 21 April 2026 | Rembang, 21 April 2026 – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kembali menegaskan komitmen membangun budaya kerja berintegritas melalui sebuah talkshow inspiratif yang mengangkat semangat R.A. Kartini. Acara yang digelar di Pendopo Museum R.A. Kartini, Rembang, menyoroti pentingnya peran perempuan dalam memperkuat tata kelola, baik di sektor publik maupun jasa keuangan.

Ketua Dewan Audit sekaligus Anggota Dewan Komisioner OJK, Sophia Wattimena, memandu diskusi bertajuk “Kartini Menginspirasi: Berjiwa Independen, Teguh Berintegritas”. Talkshow yang berlangsung pada Senin, 20 April 2026, mengundang para pemangku kepentingan untuk meneladani semangat perjuangan Kartini—independensi, keberanian berpikir kritis, serta keteguhan menjunjung nilai moral, etika, akuntabilitas, dan tanggung jawab.

Sophia menekankan bahwa peran perempuan kini semakin strategis dalam memperkuat tata kelola. Data terbaru menunjukkan bahwa sekitar 57 persen aparatur sipil negara (ASN) adalah perempuan, namun pada tahun 2025 tercatat lebih dari 1.000 kasus kekerasan berbasis gender, dengan mayoritas korban perempuan. Angka ini menjadi panggilan bagi semua pihak untuk meningkatkan perlindungan dan pemberdayaan perempuan.

Perempuan juga diharapkan dapat memperkuat agenda prioritas nasional, khususnya pengembangan sumber daya manusia, kesetaraan gender, reformasi tata kelola, dan pemberantasan korupsi. Sophia menegaskan bahwa keberhasilan reformasi tidak dapat dipisahkan dari partisipasi aktif perempuan di semua level kebijakan.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN‑RB), Rini Widyantini, menyampaikan pandangannya secara daring. Ia menegaskan bahwa integritas merupakan fondasi utama dalam membangun kepercayaan publik terhadap institusi negara. Tanpa integritas, kebijakan berisiko kehilangan legitimasi dan efektivitas. Rini menambahkan bahwa organisasi internasional seperti OECD, G20, dan Perserikatan Bangsa‑Bangsa menempatkan pengelolaan konflik kepentingan sebagai pilar penting dalam sistem integritas publik. Oleh karena itu, Kementerian PAN‑RB telah mengeluarkan regulasi khusus untuk mengatur konflik kepentingan, memastikan transparansi dan keberpihakan pada kepentingan publik.

Deputi Bidang Kesetaraan Gender Kementerian PPPA, Amurwani Dwi Lestariningsih, menyoroti tantangan yang masih dihadapi perempuan di ruang publik, termasuk diskriminasi, stereotip, serta hambatan struktural. Ia menekankan pentingnya sikap tegas, jujur, dan menjunjung tinggi etika serta integritas dalam meraih cita‑cita kesetaraan.

Talkshow ini juga menghadirkan sejumlah tokoh inspiratif, antara lain Myrtha Soeroto, Martha Muliana, Harmusa Oktaviani, dan Nawal Arafah Yasin, yang berbagi pengalaman dan visi mereka tentang peran perempuan dalam memajukan integritas nasional.

Sebagai bagian dari rangkaian acara, diputar video berjudul “Pesan Integritas Inspirasi Perempuan Indonesia” yang menampilkan pandangan tokoh‑tokoh perempuan nasional tentang pentingnya integritas, kemandirian, dan keberanian dalam menghadapi tantangan zaman.

Acara ini dihadiri oleh 220 peserta secara langsung dan sekitar 4.500 peserta daring dari berbagai kalangan, termasuk kementerian/lembaga, DPR, pelaku industri jasa keuangan, akademisi, serta mahasiswa. Kehadiran beragam ini mencerminkan luasnya dukungan terhadap agenda integritas yang dipelopori OJK.

Melalui momentum ini, OJK menegaskan kembali komitmennya dalam membangun tata kelola yang bersih dan berintegritas melalui beberapa inisiatif, antara lain:

  • Program Proud Without Fraud yang menekankan budaya anti‑fraud di seluruh lini organisasi.
  • Penerapan Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) yang mengintegrasikan standar internasional dalam pencegahan korupsi.
  • Kolaborasi erat dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk memperkuat sinergi dalam pengawasan dan penindakan.

OJK juga mengajak perempuan Indonesia untuk aktif memperkuat budaya anti‑fraud, memahami larangan gratifikasi, serta memanfaatkan Whistleblowing System (WBS) dalam melaporkan dugaan pelanggaran. Upaya ini diharapkan dapat menciptakan sektor jasa keuangan yang sehat, inklusif, dan terpercaya.

Secara keseluruhan, acara ini menegaskan bahwa semangat Kartini bukan sekadar simbol sejarah, melainkan katalisator perubahan yang dapat menginspirasi generasi kini untuk menjunjung tinggi integritas dan keberanian. Dengan peran strategis perempuan yang semakin menonjol, harapan besar tercipta bagi terciptanya tata kelola bersih yang mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan serta kepercayaan publik yang kuat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin penulis.