Panen Perdana Ayam Petelur BUMDes Mugi Rahayu Balongsari Bagikan Telur Gratis untuk Warga
MediaBlora – 11 Mei 2026 | Desa Balongsari, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora – Pada hari Senin, 8 Mei 2024, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Mugi Rahayu melangsungkan acara panen perdana ayam petelur hasil program peternakan yang baru dibuka setahun lalu. Lebih dari 200 keluarga warga desa mendapat kesempatan untuk mengambil telur segar secara gratis sebagai wujud kepedulian BUMDes dalam meningkatkan ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat.
Acara dimulai sejak pagi dengan sambutan Kepala Desa Balongsari, Bapak H. Suparno, yang menekankan pentingnya inovasi ekonomi berbasis pertanian dan peternakan di tingkat desa. “Program ayam petelur ini adalah wujud nyata komitmen kami untuk menyediakan sumber protein hewani yang terjangkau, sekaligus membuka lapangan kerja bagi penduduk desa,” ujar Suparno di depan hadirin yang terdiri dari tokoh masyarakat, perangkat desa, serta relawan BUMDes.
Selanjutnya, Ketua BUMDes Mugi Rahayu, Ibu Siti Nurhaliza, menjelaskan proses pemilihan bibit unggul, pelatihan peternak, serta sistem manajemen kandang yang mengacu pada standar biosekuriti. Menurutnya, selama 12 bulan pertama, program ini telah menghasilkan rata‑rata 1.500 butir telur per hari, dengan tingkat mortalitas ayam di bawah 2 persen. “Kualitas telur yang kami produksi memenuhi standar nasional, sehingga dapat langsung dikonsumsi tanpa proses tambahan,” kata Siti.
Setelah penjelasan, para penerima telur berdiri berbaris di depan tenda distribusi. Petugas BUMDes menyiapkan kantong plastik bersih berisi 12 butir telur per keluarga, yang kemudian diserahkan secara bergilir. Banyak warga yang mengungkapkan rasa syukurnya, terutama bagi mereka yang sebelumnya kesulitan memperoleh protein hewani secara rutin.
Manfaat program bagi masyarakat
- Penurunan angka gizi buruk, terutama pada anak-anak usia dini.
- Peningkatan pendapatan peternak lokal yang terlibat dalam pemeliharaan ayam.
- Pengurangan ketergantungan pada pasar eksternal yang harganya tidak stabil.
- Penciptaan lapangan kerja baru dalam bidang pemeliharaan, pemasaran, dan distribusi telur.
Selain itu, BUMDes Mugi Rahayu juga merencanakan pelatihan lanjutan bagi warga yang berminat menjadi peternak ayam petelur mandiri. Program pendampingan ini meliputi teknik pemeliharaan, manajemen pakan, serta pemasaran hasil ternak secara mandiri. Diharapkan, dalam tiga tahun ke depan, desa Balongsari dapat menambah jumlah kandang ayam petelur hingga 500 ekor, sehingga produksi telur dapat menutupi kebutuhan internal dan menyediakan surplus untuk dijual ke pasar tradisional di Kabupaten Blora.
Tak hanya warga, pihak dinas pertanian Kabupaten Blora juga memberikan apresiasi atas inisiatif BUMDes. Kepala Dinas Pertanian, Dr. Agus Santoso, menyatakan bahwa program semacam ini menjadi contoh terbaik bagi desa‑desa lain dalam memanfaatkan sumber daya lokal untuk meningkatkan ketahanan pangan. “Kami siap memberikan dukungan teknis dan pendanaan tambahan bila diperlukan,” ujar Agus.
Selama acara, para peserta juga diajak untuk berfoto bersama di area lapangan yang telah dipersiapkan sebagai latar belakang. Foto-foto tersebut nantinya akan dipublikasikan di media sosial resmi BUMDes Mugi Rahayu, sebagai bentuk transparansi dan promosi program.
Keberhasilan panen perdana ini tidak lepas dari kerja keras tim teknis BUMDes, yang melibatkan pemuda desa, petugas pertanian, serta relawan wanita yang mengelola distribusi telur. Mereka menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk memastikan program berjalan berkelanjutan.
Dengan dukungan penuh dari pemerintah desa, masyarakat, serta institusi terkait, BUMDes Mugi Rahayu berharap program ayam petelur ini dapat menjadi model replikasi di wilayah lain, khususnya di Kabupaten Blora yang masih banyak desa dengan potensi pertanian tinggi namun belum optimal.
Acara berakhir pada sore hari dengan doa bersama, mengharapkan kelanjutan program yang lebih besar dan manfaat yang lebih luas bagi seluruh warga Balongsari.
Program ini menunjukkan bahwa inisiatif ekonomi berbasis desa dapat menjadi solusi efektif dalam mengatasi permasalahan gizi serta meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat pedesaan.
Komentar (0)